Sebuah Fenomena Gaib

Oleh        : Muzakir Rahalus
Facebook : Muzakir Rahalus

Di Facebook saya berteman dengan nenek-nenek, kakek-kakek, tante-tante, bapak-bapak, abg-abg galau, dan anak-anak SD yang gemar bermain criminal case dan gaple. Perasaan senang, marah, lucu dan sebagainya kadang saling tumpang-tindih ketika membaca status-status mereka yang lewat di beranda saya. Kadang saya like, memberi komentar gambar lucu, atau hanya menanggapinya dengan sebuah emosi kecil (like and smile emoticon), atau yang lainnya.
Kita memang hidup di zaman yang serba bisa. Media sosial (FB) telah mendekatkan orang yang jauh, atau menjauhkan orang yang dekat? Entahlah. Saya bisa kenal seseorang yang kelaparan, di Jakarta, dan saya bisa mengetahui seseorang yang sedang makan sedap di hotel, atau, saya bisa mengetahui seseorang yang sedang pamer-pamer kalau dia sedang salat, hanya dengan membaca status-status mereka (mendekatkan yang jauh). Atau, kadang saya mejadi sangat dicuek oleh seseorang di depan saya, karena dia begitu sibuk menulis status. Atau, bisa saja sebaliknya: saya yang memang sibuk menulis status.
Inilah fenomena yang muncul di kehidupan kita. "Fenomena Gaib"? Entahlah. Dan saya--mungkin juga Anda--sangat menyadarinya. Sangat menyadari hal itu.
Bermediasosial itu kadang sangat aneh. Tapi entah kenapa, walau sangat aneh, tapi kadang sangat bermanfaat. Iya, tidak? Saya tidak bisa pungkiri bahwa, dengan bermedsos, saya bisa berteman dengan penulis-penulis hebat Indonesia. Penyair-penyair, pelukis-pelukis, peneliti, ilmuwan, sastrawan, wartawan, dan beberapa orang-orang penting, orang-orang berpendidikan tinggi di Indonesia. Janda-janda, duda-duda, yatim piatu, anak petani, buruh, hingga akun-akun palsu lainnya, saat berjualan vaksin palsu. Ini sangat luar biasa. Walau kadang, kemudharatan lebih banyak ditemukan, saya rasa, ini kita kembalikan kepada diri sendiri: sebijak, dan sedewasa apa kita menjalin silaturahmi di media sosial.
Kawan, saudara, kerabat, dan teman-teman yang berbahagia di Facebook. Entah teman yang masih aktif, sudah jarang, dan teman yang sudah menghapus dan yang telah memblokir saya. Saya cuma mau bilang, berbahagialah Anda, yang tinggal di kota-kota besar. Yang segala sesuatunya ada tanpa harus 'bersusah-payah' mencarinya. Mendapatkannya. Tanpa harus menunggu berminggu-minggu, ketika membutuhkan sesuatu--karena sedang di suatu kota mungkin--kalian tinggal mengirim pesan lewat Facebook, dan Mesengger ke akun Ibu atau Bapak Anda. Atau, tinggal telpon saja. Sangat mudah bukan? Begitu mudahnya komunikasi itu terjalin di kota.
Sangat senang ketika kita sekeluarga bisa berteman di Facebook, atau medsos lainnya. Bisa saling menanyakan kabar, saling tukar informasi tentang keluarga, dan sebagainya. Saya kadang mencemburui suasana seperti itu; bisa melakukannya dengan Ibu dan Bapak di kampung. Tapi sayang, mereka berdua tak punya akun (medsos) apa-apa. Bagaimana bisa punya akun, di Kabupaten Halmahera Selatan, khususnya di Wayaua (Kec. Bacan Timur Selatan), jangankan jaringan internet, 3G atau 4G yang paling terbaru, jaringan TELKOMSEL saja sangat sulit. Sehari ada, seminggu hilang. Dua hari ada, dua minggu hilang. Dan seterusnya, hingga benar-benar hilang dan lenyap.
Kadang saya berpikir, kalau Wayaua belum bisa dijadikan kecamatan, kenapa harus dijadikan kecamatan? Bukankah tetap berada di posisi desa itu lebih bagus? Supaya dengan begitu, masyarakatnya tidak dibuat malu. Supaya ketika listrik dan jaringan komunikasinya tidak berfungsi dengan baik, atau hilang sama sekali, tidak menjadi beban pikiran bagi masyarakatnya. "Wajar dong, kita kan masih desa," kata masyarakatnya, mungkin bisa seperti itu. Lah, ini? Wayaua itu kecamatan, pemirsa.
Tapi, mudah-mudahan bupati sekarang ini--yang belum lama dilantik--dapat memperbaiki itu semua. Dapat melanjutkan yang telah dibuat oleh bupati sebelumnya, seperti yang pernah beliau katakan dalam bahasa-bahasa politiknya saat berkampanye. Semoga Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) lima tahun ke depan lebih baik lagi. Ingat, jumlah kecamatan yang ada di Halsel itu 30 kecamatan. Jumlah kecamatan terbanyak dari semua kabupaten di Provinsi Maluku Utara. Maka, bersikap adillah sejak dalam pikiran*.
Saya lahir di Wayaua. Tepat di bawah rimbun hutan-hutan Gunung Sibela. Anak pantai yang setiap hari mencium bau 'mayat' batu karang dan 'ikang babi' (lumba-lumba).
*Adil sejak dalam pikiran. ~Pram.
Baca juga Muzakir Rahalus : Jangan Lupa Bermimpi


EmoticonEmoticon