Mengembalikan Kata Optimisme yang Ditanamkan

Kita perlu melihat kembali posisi Indonesia di tahun 1945 dibandingkan Indonesia di tahun 2016 kini. Kemerdekaan hadir bukan semata-mata untuk menggulung koloanialisme,tetapi juga mengelar keadilan bagi seluruh rakyat, jika kita  lihat pada saat para pendiri republik ini merancang dan memproklamasikan kemerdekaan, sebenarnya mereka berhadapan dengan situasi yang luar biasa sulit. kondisi ekonomi yang menurun drastis, rakyat yang miskin, rakyat yang tidak terdidik dan seluruh infrastruktur yang hancur akibat perang, bisa dibayangkan kompleksitas problem yang dihadapi para pemimpin Indonesia saat Negara ini dibangun.

Mengembalikan Kata Optimisme yang Ditanamkan
Tapi satu hal yang menarik, mereka bukan orang-orang yang suka mengeluh, mereka adalah pemimpin yang mengirimkan harapan mereka dan bukan mengirimkan ratapan meskipun mereka memiliki seluruh persyaratan untuk meratapi keadaan, kata pesimis mereka singkirkan dan selalu optimis bahwa negeri ini akan merdeka 100%.
Hari ini, 71 tahun sesudah kita merdeka, terjadi perubahan yang luar biasa, mulai dari aspek pertahanan, ekonomi dan pendidikan. Masih banyak lagi yang tanpa kita sadari berubah dengan angka yang memuaskan. Bukti kongkrit yang bisa kita lihat dengan mata telanjang salah satunya ialah kurangnya pemahaman dalam membaca dan menulis. Dari angka 90% yang tidak bisa baca tulis kini menjadi 90% bias baca dan tulis.
Tetapi saat kini, kita lebih cenderung untuk mencari yang gagal, membicarakan yang belum berhasil, menganalisis masalah yang kita anggap negatif di hotel bintang lima yang mewah, di kampus sampai ke warung-warung kecil. Begitu kata Indonesia dimunculkan maka yang di diskusikan adalah keprihatinan dan problem, seakan-akan republik tidak ada keberhasilan.
Banyak bukti rilnya tetapi kita jarang mensyukuri dan melihat dalam prespektif yang positif, kita memang berada di zona yg menantang kita bertetangga dengan Singapura, Malaysia, Thailand dan Fillipine, deretan negara-negra yang telah mengalami kemajuan yang luar biasa. jadi jelas kita seringkali merasa tertinggal/minder.
kalau memang demikian? coba kita bayangkan bila Indonesia berada di asia selatan yang tetangganya, India, Banglades, Srilanka dan Pakistan. berangkali kita akan merasa berbedah dengan perasaan kita sekarang.
Ini realita yang terjadi, kita kritis tapi sering pesimis, seharusnya kita tanamkan pribadi menilai sesuatu bukan cuma dari aspek negatif melainkan dari keduanya dengan demikian negara akan merasa adil dikaji dari sudut pandang berbedah dan alangkah arifnya diri kita jika demikian, dari pendirian ini sehingga prespektif positif dan jiwa optimisme yang sudah ditanamkan para pemimpin bangsa kita, selalu tertanam dalam jiwa kita.
Jangan pesimis mari optimis, saya sering ibaratkan Indonesia seperti anak yang pribadinya sederhana tapi memiliki potensi dari jiwa muda yang luar biasa.
Awin Buton
Manado, 27 Agustus 2016
Lihat juga Awin Buton : Hidup Sebelum Kembali


EmoticonEmoticon