Bedah Film Beatle in Seatle (pertempuran di Seatle)

Badan PBB (persikatan bangsa-bangsa) yang menangani masalah perekonomian dunia yaitu WTO atau Badan perdagangan dunia akan mengadakan konferensi tingkat tinggi di Negara Amerika Serikat pada kota seatle tepatnya di Caremount teater. Pada konferensi tersebut akan di hadiri oleh sekitar 30 negara di dunia ternasuk Indonesia yang termasuk dalam anggota badan perdagangan dunia yang akan menghadiri konferensi tersebut.


Namun di pihak lain ada sekelompok orang (pemberontak) dari pribumi yang menentang keras dilaksanakanya konferensi tersebut di antaranya adalah para kompone-komponen aktifis pecinta lingkungan hidup yang didalamnya juga termasuk para buruh dan berbagai elemen-elemen masyarakat namun dari pihak pemberontak terjadi kontradiksi ada yang berorasi denga jalan damai dan ada yang bertinda anarkis menghancurkan toko-toko disekitar tempat konferensi akan di adakan.

Rakya menolak terealisasinya konferensi tersebut karena badan perdangangan dunia atau WTO itu sendiri akan memainkan peran-peran kapitalisme diberbagai belahan dunia, konsoludasi yang terjadi antara negara-negara atau delegasi yang terlibat dalam rapat akbar tersebut tidak adanya konsensus dari rakyat karena pada saat itu seluruh rakyat dibelahan bumi memiliki satu persepsi dan pengharapan agar konferensi tersebut tidak terlaksana.

Sebelum diadakan konferensi para pejabat negara melaksanakan sidang pleno. Yang terlihat jelas dari ketidakadilan disini para penerjemah bahasa yang ada pada saat itu semuanya dikelurkan dari forum sehingga rapatpun di batalkan. 

Inisiatif dari badan perdagangan dunia (WTO)  apabila berhasil dilkasanakan konferensi pada saat itu maka akan terjadi tindak ekploitasi seluruh sumber daya alam secara besar-besaran itulah kenapa kaum pemberontak sangat menolaknya dan akan berlagsung  pada negara-negara dunia ke dua mauapun negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Sebab, hal itu hanya akan memberikan dampak yang negatif buat seluruh umat di dunia di antaranya pembalakan hutan, kelaparan di negara bagian afrika, degradasi lingkungan hidup.

Konferensi tingkat tinggi WTO yang akan dilaksankan di kota Seatle banyak memancing banyak pihak untuk hadir turun ke jalan, para pemberontak pun turun untuk menghalangi delegasi-delegasi negara dalam rangka menghadiri pelaksanaan konferensi. Banyak pendemo yang jadi korban anarkisme polisi dan aparat yang diturunkan ke jalan adalah pasukan garuda dari gedung putih atas permintaan walikota seatle. Yang sangat memprihatinkan adalah para pendemo yang damai tanpa huru-hara di bantai oleh polisi dengan gas air mata bahkan sampia terjadi kontak fisik.

Pembantai polisi terhadap para pendemo pun terus berlangsung dan mereka mencari otak atau pemimpin pemberontakan yaitu Jay. Dari hasil penyisiran polisi Jay pun berhasil di tangkap dan dipenjara bersamaan dengan para pengikutnya yang sudah duluan dibawa oleh polisi.Pengacara yang ingin membesankan mereka dihalau oleh walikota karena badan birokrasi di kota seatle semuanya menginginkan konferensi itu berlangsung. Sang pengacara kemudian berkontroversi dengan pemerintah seatle dengan berusaha membebaskan para pemberontak dari penjara, Akhirnya dengan penuh semangat perjuanganya para pemberontak pun bebas menghirup udara segar dan kembali melancarkan aksi-aksi meeka menentang keras konferensi tingkat tiggi WTO.

Meskipun selalu teraniyaya oleh pasukan garuda dari gedung putih tapi mereka selalu berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga untuk kemaslahatan umat Manusia dunia. Akhirya sperjuangan pun mencapai titik klimaks atas dukungan semua pihak baik dari pers (media) dari seluruh elemen masyarakat dan sebagian oarang-orang di birokrasi konfrensi tingkat tinggi pun gagal dilaksanakan.

Kesimpulan


Kesimpulan yang saya dalam film tersebut adalah setiap perjuangan itu butuh pengorbanan baik materi, jiwa, raga dan penuh semangat yang terpenting adalah persatuan, kekonsistenan tujuan dan persepsi dalam wadah gerakan dengan niat kemanusiaan atau memanusiakan manusia.


EmoticonEmoticon