Cara Gampang Membuat Foto Resolusi 480 px Untuk Kebutuhan Anda

Pada artikel Tutorial Photoshop sebelumnya saya telah share tentang cara ganti warna background foto tanpa foto ulang maka saat ini saya akan share tentang cara gampang membuat foto resolusi 480 px untuk kebutuhan anda menggunakan Photoshop.
Cara Membuat Pas Foto Resolusi 480 px pernah ditanyakan oleh seorang teman saya saat akan mendaftar secara online ke salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia dengan salah satu persyaratannya yaitu memasukan pas foto berkapasitas minimum 500 kb dengan resolusi minimum 480 px. Jika pas foto tidak sesuai dengan ukuran dan kapasitas yang ditentukan maka foto tersebut akan gagal diupload (dimasukan) pada berkas pendaftaran online.
Bagi anda yang mengalami masalah yang sama seperti di atas, jangan khawatir karena dibawah ini saya akan memberikan cara yang sangat mudah untuk merubah kapasitas dan resolusi pas foto sesuai yang anda inginkan dengan menggunakan photoshop.
Cara Merubah Kapasitas Ukuran Foto
1.    Buka Photoshop di komputer/laptop, jika belum memiliki aplikasinya anda dapat minta pada teman atau silahkan didownload.
2.    Masukan foto yang akan diubah kapasitas ukurannya dengan cara klik File - Open – Cari Foto di Penyimpanan dan Open 
3.    Foto telah masuk ke aplikasi photoshop maka selanjutnya klik File - save as – pilih lokasi penyimpanan dan Save
Catatan Paling Penting  :
Setelah anda save akan muncul kotak dialog seperti gambar dibawah ini :
Geser ke kiri untuk mengurangi kapasitas foto dan ke kanan untuk memperbesar kapasitas foto. Perubahan ukuran kapasitas foto dapat langsung anda lihat pada kapasitas.
Mudahkan cara merubah kapasitas foto ? hehe. Selanjut cara membuat ukuran foto beresolusi 480 px atau ukuran resolusi lainnya.
Cara Membuat Foto Beresolusi 480 px dan Resolusi Sesuai Keinginan Anda
Membuat foto dengan resolusi yang kita inginkan sebenarnya terbilang mudah hanya saja kita yang belum mengetahui caranya, maka silahkan perhatikan caranya sebagai berikut :
1.    Masukan foto yang akan dirubah resolusinya ( cara masukan seperti di atas )
2.    Klik File – New – muncul kotak dialog tulis angka resolusi 480 atau sesuai keinginan anda dan jangan lupa satuannya pilih pixels terakhir klik OK
3.    Akan muncul file baru dengan resolusi yang telah kita tentukan sendiri. Nah, selanjutnya tinggal memindahkan foto kita ke file baru tersebut dengan cara perkecil tampilan foto kita kemudian klik tahan dan geser ke file baru tadi 
4.    Geser foto agar terlihat rapi di file baru tadi
5.    Sekarang anda telah memiliki foto dengan resolusi 480 px atau resolusi lain yang anda inginkan.
Semoga share kali ini bermanfaat bagi anda semua, jika anda yang ingin ditanyakan silahkan coret di kolom komentar dibawah, terima kasih.

Persembahan Untuk Pancasilais, Hari Pancasila 1 Juni Atau 18 Agustus ?

Sebelum menjelaskan tulisan perayaan hari pancasila yang jatuh pada tanggal 1 Juni atau tanggal 18 Agustus, ijinkan saya mengawali kata ; maaf. bahwa setidaknya, tulisan yang dipersembahkan kepada pancasilais dapat membagi sedikit, dasar–dasar pemikiran bagi kita Warga Negara Indonesia (WNI), terhadap teka teki sejarah negara indonesia yang di bingkai dengan falsafa dasar ideologi Pancasila dan UUD 1945.
Ingat ! Bahwa jelas kita semua yang berstatus kependudukan kewarganegaraan indonesia, telah meyakini Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan sebagai dasar negara kesatuan republik indonesia. Namun, sudah terangkah setiap warga indonesia menelisik lebih jahu? Sebab, sederhananya, ternyata atas sejarah perjalanan rumusan serta terbentuknya  pancasila masih penuh teka teki.
Teka teki yang saya maksud, bukan karena lebih jahu menjelaskan isi dari subtansi lima sila yang tertuang di dalam pancasila itu sendiri. Tetapi, lebih mengulas kembali momentum sejarah lahirnya perumusan dan penetapan Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa dan negara. Artinya, tanggal lahir pancasila masih terselip fikir dua tolak ukur. Bagaimana bisah? Musabab, warga indonesia sebagian yang banyak telah memahaminya jatu pada tanggal 1 Juni 1945/1 Juni 2017, dan sebagian yang sedikit telah memahami pada tanggal 18 Agustus 1945/18 Agustus 2017.

Seperti, salah satu Tokoh pakar hukum ketatanegaraan, Prof. Yusril Ihza Mahendra, empat tahun lalu, pada Rabu 5 Juni 2013, ternyata sudah menegaskan bahwa hari pancasila itu bukan jatu pada tanggal 1 juni 1945. Melainkan jatuh pada tanggal 18 agustus 1945. Baca ; www.antaranews.com/berita/378447/yusril-pancasila-lahir-18-agustus-1945 .  Setelah itu, pada tanggal 31 Mei 2017, Mantan Menteri Sekretaris Negara,  Prof. Yusril Ihza Mahendra, juga menjelaskan kembali fainalnya hari pancasila negara Indonesia yang dilansir melalui ; https://telusur.co.id/2017/05/31/sudah-4-tahul-lalu-yusril-tegaskan-hari-lahir-pancasila-bukan-1-juni/ .
Ternyata, pesan dalam pemberitaan yang terkuak oleh Prof. Yusril empat tahun silam dan sampai sekarang tahun 2017 itu,  telah singkat menjelaskan kedudukan lahirnya pancasila negara indonesia. Dimana terhitung semenjak rumusannya telah fainal disepakati dan disahkan. Karena itu, menurut  Profesor Yusril,  pidato Soekarno pada 1 Juni, itu barulah masukan. Artinya, seperti saksi sejarah yang telah menengok serta mengumpul masukan dari Tokoh – tokoh kemuka kala itu. 
Nah. melihat pesan singkat pemberitaan dari Prof. Yusril, Pelajaran apa yang patut kita petik? tak lain jika kita artikan bahwa sederhananya, harus di kutip ; “Kompromi terakhir tentang landasan falsafa negara, pancasila, dengan rumusan seperti dalam pembukaan UUD 1945 adalah terjadi tanggal 18 agustus 1945.” Hal ini, seketika semalam saya membaca pemberitaan dari Statmen Prof. Yusril, dengan lantang, juga saya membuat tulisan status pendek di Facebook. Rawang menerawang, ternyata dikoment dan menjadi pembahasan serius bagi kita sahabat bertiga ; Saya, Febri Bambuena, dan Wawan Gobel.
Begini para Pancasialis menengok kembali sejarah, pada hakekatnya pancasila mengandung dua pengertian pokok. Yakni ; Pancasila selain sebagai pandangan Hidup Bangsa Indonesia, juga sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. bahwa Pancasila secarah resmi telah disahkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 agustus 1945, dan tercantum juga dalam pembukaan UUD 1945 dengan diundangkan dalam Berita Negara Republik Indonesia Tahun Ke II, No.7. atau sekarang dikenal pada pembukaan UUD 1945 alinea ke empat.
Tetapi, sebelum PPKI mengesahkan dan menetapkannya pada tanggal 18 agustus 1945, diketahui, beragam macam fase yang berat dilewati Pancasila dalam konteks sejarah jaman perjuangan bangsa indonesia. Diantaranya fase ; jaman kutai, jaman perjuangan sriwijaya, jaman kerajaan sebelum majapahit, kerajaan majapahit, jaman penjajahan, jaman kebangkitan nasional, dan jaman penjajahan jepang. Perjalanan fase perjuangan tersebut, semua ada kaitannya dengan apa yang disebut Pancasila dan UUD 1945.
Usai melewati sejarah panjang dalam memperjuangkan kemerdekaan dari setiap fase yang dijelaskan secara singkat diatas, kini tibahlah fase sidang Badan Penyelidik Usaha usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Sidang BUPKI pun tak hanya sekali. Tetapi, dua kali tahapan persidangan. Lebih jelasnya, pada sidang pertama BPUPKI,  dilaksanakan empat hari berturut turut. Dengan pengisian agenda menyampaikan pidato usulan. Pada pidato penyampaian, disampaikan oleh ; Mr. Muhamad Yamin pada tanggal, 29 Mei 1945. Pidato penyampaian kedua pada tanggal 31 Mei 1945 ;  Prof. Soepomo. Sedangkan penyampaian pada tanggal 1 Juni 1945 ; Ir. Soekarno.
Ketiga Tokoh tersebut, masing masing berbeda menyampaikan pidato usulan calon rumusan dasar negara indonesia. Namun meski berbeda pandang dalam penyampaian, ternyata berakhir juga pada Ir. Soekarno Pada 1 Juni 1945. Tetapi ingat, disinilah yang menjadi viral pembahasannya. Bahwa dengan pidato tersebut, perlu kita garisbawahi Ir.Soekarno menyampaikan melalui pidato yang masih bersifat usulan dan bukan, bahkan belum membacakan penetapan serta pengesahan atas idiologi negara kita. Sebab, hanya bersifat lisan tanpa teks yang juga belum diundangkan.
Sementara, sidang BPUPKI ke dua, yang dilaksanakan pada tanggal 10 – 16 Juli 1945, catat ! hari pertama sebelum sidang BPUPKI ke dua dimulai,  ternyata ada penambahan anggota tim BPUKI. Tim inilah yang dikenal ; tim sembilan. Yakni ; Ir. Soekarno, Wahid Hasim, Mr. Muhamad Yamin, Mr. Maramis, Drs. Moh. Hatta, Mr. Soebadjo, Kyai Abdul Kahar Moezakir,  Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Haji Agus Salim. Sebelum membentuk penambahan tim sembilan, diketahui bahwa Ir.Soekarno sebagai panitia kecil BPUPKI, telah melaporkan hasil pertemuannya yang dilakukan sejak tanggal 1 Juni, atas penyampian usulan perumusan dasar negara. Setelah itu, dalam sidang kedua BPUPKI, tim merancang pembentukan proklamasi kemerdekaan dan sidang PPKI. Usai pembacaan Proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia merdeka. Dan selanjutnya,  sidang PPKI pun dimulai semenjak tanggal 18 Agustus 1945, sampai sidang ke empat pada tanggal 22 Agustus 1945. Disinilah fase final dari penyampaian, perumusan, hingga sampai ke penetapan dan pengesahannya suatu negara dari segala dasar negara, yang tercantum menjadi dasar hukum yang tertulis pada UUD 1945.
Menurut hemat saya, dengan pisau analisa sejarah, kita harus mampu menelisik cara pandang terhadap sejarah yang masih dibilang lalai kita pelajari. Apa sebab, jika kita mengikuti benar adanya sejara ; Penyampaian, perumusan, penetapan, serta pengesahan, maka bagi saya kebingungan yang akan kita dapatkan.  Kenapa tidak? Karena proses dilihatnya dari usulan penyampaian pidato Ir.Soekarno dengan membentuk dasar negara indonesia pada 1 Juni 1945 itu, secara The fakto perjalanan sejarahnya sah sah saja. Tetapi jika dipandang secara Yuridis, maka kesan pada tanggal 18 Agustus 1945 melalui fakta hukum yang  diundangkan itulah yang bisah menjadi dasar kelahiran Pancasila. Jika kedua pokok pemikiran tersebut masih bertolak belakang, maka dimana kebenaran hari lahirnya pancasila secara sah, jika relatif menguak dan masih terbungkam.     
Sekali Merdeka, Tetaplah Merdeka...!
Hiduplah Indonesia Raya ...!
NKRI Harga Mati...!
Pancasila Harga Diri...!
Oleh : Tri Putra Sukami Saleh

Pengendalian Diri yang Gagal

Manusia lahir dengan beragam karakter masing-masing dan tak pernah sama antara sifat seseorang dengan orang lain, itulah yang disebut seorang teman saya sebagai hukum identitas. Artinya bahwa A=A, jadi seseorang tidak akan pernah sama dengan orang lain dan seseorang itu hanya satu di dunia ini bahkan anak kembar pun tak akan sama persis karena pasti memiliki perbedaan sehingga lebih pantas disebut mirip atau hampir sama.
Pengendalian diri manusia berhubungan erat dengan karakter manusia itu sendiri. Sikap dan perilaku manusia berasal dari 2 kategori yaitu genetik dan lingkungan. Sifat yang secara turun temurun diwariskan dari generasi-generasi sebelumnya kepada generasi saat ini dan akan datang itulah yang disebut sifat genetik. Sebagai contoh sifat pendiam sang ayah atau ibu pasti akan menurun kepada salah satu anaknya, begitu juga sifat-sifat lainnya yang berasal dari akumulasi gen ayah dan ibu serta dari keturunan mereka terdahulunya. 

Namun, selain karakter yang berasal dari genetik, lingkungan juga dapat membentuk karakter seorang manusia menjadi baik atau buruk. Dalam teori sosial juga disebut manusia adalah produk lingkungan sekitar. Contoh sederhana yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu jika seseorang tinggal atau berbaur dengan orang-orang baik maka orang tersebut akan cenderung memiliki sifat baik seperti orang-orang sekitarnya. Begitu juga sebaliknya jika kita berbaur dengan orang-orang yang kurang baik maka kita pun cenderung memiliki sifat yang kurang baik. Oleh karena itu anjuran para tokoh-tokoh agama agar kita lebih sering berkumpul dengan orang-orang baik maka kita pun cenderung melakukan kebaikan.
Kadang manusia memahami karakter baik dan kurang baik menurutnya, itulah kenapa manusia sering dikatakan tidak sempurna. Pengenalan diri merupakan hal yang sangat terpenting dalam menjalani hidup dan kehidupan dengan begitu kita dapat meminimalisir tindakan keburukan yang ada pada diri kita dan meningkatkan kegiatan-kegiatan baik sesuai dengan karakter baik yang kita miliki. Perlu digaris bawahi bahwa karakter genetik yang bersemayam dalam diri kita tidak pernah salah dan akan menjadi sangat baik atau sangat buruk tergantung dari bagaimana cara kita masing-masing untuk mejalankan karakter  itu sendiri.
Sebagai manusia biasa kita selalu ditantang dan diuji oleh sang Pencipta untuk dapat mengendalikan diri kita dengan karakter genetik yang kita miliki. Hal ini berhubungan erat dengan sifat yang kurang baik. Contoh jika seseorang memiliki sifat bawaan yang mudah marah maka dia akan sering diuji oleh Tuhan dengan beragam masalah yang dapat membuat dia marah. Dengan begitu kita semakin terlatih untuk dapat mengendalikan amarah. Hal itu juga berlaku kepada semua orang dengan karakter bawaanya. Oleh karena itu lingkungan menjadi solusi alternatif dalam mengendalikan sifat-sifat mejadi lebih baik.
Pengendalian diri yang gagal, itulah yang sering kita alami. Sepandai-pandainya kita menjaga untuk tidak melakukan hal yang telah kita pahami bahwa hal tersebut buruk, namun masih sering terjadi dan semua itu akan berakhir dengan penyesalan. Kita tidak dapat menghilangkan karakter bawaan (genetik) kita, namun dapat diminimalisir seminimal mungkin sehingga segala aktivitas keseharian dalam hidup lebih didominasi oleh tindakan-tindakan yang baik. Itulah mengapa Tuhan tidak akan memberi cobaan kepada hambanya melebihi batas kemampuannya.
Penulis juga pernah dan sering mengalami hal ini, tulisan ini merupakan bentuk pengalaman pribadi penulis yang dituangkan saat ini. Hanya penyesalan yang mendalam dengan harapan besar hal-hal buruk tidak akan terjadi dengan selalu berusaha untuk intropeksi diri. Malu dan menyesal menjadi akhir cerita saat-saat hal buruk terjadi. Namun, kembali lagi sebagai manusia yang tak sempurna maka kata khilaf layak diucapkan saat pertama kali terjadi. Jika hal-hal buruk yang sama terjadi berulang kali maka tak bijak disandingkan kata khilaf tapi kesengajaan. Maaf menjadi solusi dalam menjalin dan membina terus hubungan silaturahmi.
Semoga kita semua menjadi manusia-manusia yang pandai mengendalikan diri dalam segala bentuk aktivitas kehidupan. Manusia tidak sempurna maka berusahalah menjadi manusia yang medekati kesempurnaan sehingga ketidak sempurnaan tidak menjadi alasan untuk selalu berbuat keburukan.

Aliran Filsafat Hukum Analitik

Aliran filsafat hukum analitik ini mungkin sudah tidak asing juga di dengar oleh para pengamat dan praktisi hukum. Aliran ini menitik beratkan pandangannya melalui cara berfikir analitik yang formal. Seperi ; The Concept Of Law. Maksudnya, mengonstruksi suatu pengertian hukum yang formal. Aliran ini bermunculan pada seorang tokoh yang bernama Hart.
Dasar pemikiran inilah yang mebuat Hart menentukan pertimbangan pertimbangan tentang isi secara umum, dan tidak memainkan peranan. Hart pun menerima gagasan sejenis ; Minimal Content Of Natural Law. Ini menurutnya mutlak diperlukan untuk berfungsinya setiap tata hukum. Seperinya yang Ia maksudkan adalah, jika semua manusia tidak ingin mempertahankan kehidupan, maka hukum sama sekali tidak akan bermakna.

Menurut Hart, hukum mungkin saja dari sudut pandangan etikal yang tercela, misalnya ; hukum nazi, perundang undangan dan bahkan menurut Hart, semua itu secara moral wajib untuk Ia menarik diri dari keberlakuannya. Namun, Hart menegaskan, keberlakuanya dari hukum positif tetap tidak tersentuh. Jadi, kualitas moral dari hukum tidak punya pengaruh pada “Keberadaan” dari hukum positif. Begitu maksud Hart.
Dengan cara begitu, Hart berpendapat, bahwa pemahaman yang tajam tentang suatu permasalahan yuridikal dan moral dapat diperoleh. Lebih jauh, dengan pencampuradukan dua dimensi itu, maka tidak mungkin dapat memaparkan dan menganalisis secara ilmiah antara sistem hukum yang sudah jelas tidak bisah diterima. Katanya, seperti aspek hukum romawi kala itu, yang diberlakukan perbudakan dan sejenisnya.
Selain Hart, dalam lingkungan filsafat hukum analitik, ada beberapa pandangan tokoh tokoh seperi ; Lon Fuller yang diidentik dengan The Morality Of Law. Ia menunjukkan pola pemikirannya tentang hukum harus memandang penting tentang moralitas tertentu. cara berfikir Fuller ini, dipahami dalam arti teknis adalah didalam masyarakat harus berlaku aturan aturan pokok tertentu. Sebagaiman dilarang, bahwa manusia tidak boleh saling membunuh.
Tidak hanya sebatas Tokoh Fuller. Pada aliran pemikiran filsafat hukum analitik, ternyata ada juga tokoh yang menganut aliran ini. Namanya ; Ronald Dworkin. Ia dikenal dengan gagasan Taking Righs Seriously. Dworkin ini ternyata, telah mengemukan pemahaman pengetahuan menurut alirannya kepada Hart tentang asas asas keadilan sertah moralitas, dan bukan hanya asas asas saja. Namun gejala hukum yang dipahami Dworkin berbeda pemahamannya dengan Hart. Apa sebab, Dworkin mendekatinya dengan cara yang kurang formal, sementara Hart dengan cara yang Formal.
Oleh : Tri Saleh Mokodongan

Aliran Filsafat Hukum Hans Kelsen

Aliran Filsafat Hukum Hans Kelsen - Aliran ini telah membatasi sedikit tentang pembahasan apa yang disebut dengan ; “Reine Rechtslehre” atau diistilahkan ajaran murni tentang hukum dan filsafat hukum analitik. Sebab, aliran ini mengurai pemikiran tokoh Kelsen menyangkut paradigma filsafat hukumnya tentang moral, politik, negara dan hukum. Oleh Kelsan, sudut pandang ini telah direduksi pada sifat normatif filsafat hukum positivisme.

Aliran Filsafat Hukum Hans Kelsen
Dimana, dari sudut pandang atau perspektif terang Kelsen, maka tata hukum harus dilihat sebagai suatu sistem kaidah – kaidah yang tersusun secara hierakikal yang berlandaskan Grundnorm. Grundnorm ini ialah, harus dipahami dari suatu pandangan Hipotetikal, artinya bahwa jika kita mengerti dan hendak memaparkan suatu tata hukum sebagai normatif, maka kita harus memandangnya sebagai suatu Stufenbau, walaupun Kelsen telah menerapkan pemikiran yang berlandaskan Grundnorm.
Dalam hal ini, diketahui Kelsen sendiri adalah penganut Kantian. Seperti pendirian moral dan politik, kata Kelsen : memiliki sifat subjektif pribadi. Maka kebenaran mereka tidak dapat ditetapkan secara ilmiah atau kefilsafatan. Dengan begitu pula, perkembangan ilmu hukum pun tidak harus membiarkan pribadi sendiri untuk ikut menentukan. Ini pandangan Hans Kelsen tentang negara.  Sehingga negara pun menurut konsep Kelsen tidak lain ketimbang tata hukum yang dipersonifikasikan.
Mengapa demikian ? karena Kelsen berfikir dan mencontohkan bahwa sikap tersebut mengumpamakan setiap orang adalah suatu keseluruhan. Mengkaji ala pemikiran yang di jelaskan Hans Kelsen, tentu saja yang dimaksudnya pada pandangan filsafat aliran pemikiran itu meniti kandungan dalam hal tertentu. Artinya, dari negara dan hukum selalu diidentikkan. Sehingga dengan penjelasan yang dimaksud, bahwa negara menjadi identik dengan konstruksi normatif, dimana ialah suatu sistem aturan dan kewenangan. Itulah penafsiran terkait aliran filsafat hukum Hans Kelsen
Oleh : Tri Saleh
Baca juga Tri Saleh :

Ngopi Sanana di Waimua Coffe

Ngopi disore hari membuat suasana semakin nikmat, apalagi ditambah dengan nuansa musik lokal, nasional bahkan internasional yang disuguhkan oleh siapa saja yang nongkrong disini. 

Waimua coffe

Tempat kopi Waimua Coffe menjadi semakin menarik dengan beragam menu yang ada selain kopi, menu-menu tersebut antara lain :
1.    Kopi guraka
2.    Kopi Sula
3.    Kopi Susu
4.    Kopi Kotamubagu
5.    Juz Alpukat dan lain-lain (lihat gambar dibawah)
Menu Kopi
Saat anda berada atau jalan-jalan di kota Sanana, Kepulauan Sula, tempat ngopi yang satu ini layak untuk menjadi daftar tujuan tempat ngopi anda sambil berbincang-bincang santai berdasarkan topik yang anda inginkan. Lebih khusus lagi bagi anda yang penikmat kopi.

Ngopi sore
Tempat ngopi Waimua coffe berada di desa Falahu, tepatnya Falahu pantai. Salah satu kelebihan ngopi di Waimua Coffe kita juga dapat memanjakan mata dengan pemandangan pantai di sore hari. Penasaran ? langsung saja ke Waimua Coffe dengan begitu dapat menambah pengalaman tempat nongkrong anda.

5 Ciri-Ciri Kearifan Lokal Lengkap Dengan Penjelasannya

Pengertian kearifan lokal (local wisdom) dalam kamus terdiri dari dua kata:kearifan (wisdom) dan lokal (local). Dalam Kamus Inggris Indonesia John M. Echols dan Hassan Syadily, local berarti setempat, sedangkan wisdom (kearifan) sama dengankebijaksanaan. Secara umum maka local wisdom (kearifan lokal) adalah gagasan-gagasan setempat (local) yang bersifat bijaksana, penuh kearifan,bernilai baik, yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakatnya. Dalam disiplin antropologi dikenal istilah local genius.
Sementara Moendardjito (dalam Ayatrohaedi, 1986:40-41) mengatakan bahwa unsur budaya daerah potensial sebagai localgeniuskarena telah teruji kemampuannya untuk bertahan sampai sekarang. 

Ciri-ciri kearifan lokal tersebut adalah sebagai berikut:
1.    mampu bertahan terhadap budaya luar,
2.    memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar,
3.    mempunyai kemampuan mengintegrasikan unsur budaya luar ke dalam budaya asli,
4.    mempunyai kemampuan mengendalikan,
5.    mampu memberi arah pada perkembangan budaya.
Lihat juga :
Kearifan lokal adalah dasar untuk pengambilan kebijakkan pada level lokal dibidang kesehatan, pertanian, pendidikan, pengelolaan sumber daya alam dan kegiatan masyarakat pedesaan. Dalam kearifan lokal, terkandung pula kearifan budaya lokal. Kearifan budaya lokal sendiri adalah pengetahuan lokal yang sudah sedemikianmenyatu dengan sistem kepercayaan, norma, dan budaya serta diekspresikan dalam tradisi dan mitos yang dianut dalam jangka waktu yang lama.
Maka dari itu kearifan lokal tidaklah sama pada tempat dan waktu yang berbeda dan suku yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh tantangan alam dan kebutuhan hidupnya berbeda-beda, sehingga pengalamannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya memunculkan berbagai sistem pengetahuan baik yang berhubungan dengan lingkungan maupun sosial. Sebagai salah satu bentuk perilaku manusia, kearifan lokal bukanlah suatu hal yang statis melainkan berubah sejalan dengan waktu, tergantung dari tatanan dan ikatan sosial budaya yang ada di masyarakat.
Jadi, dapat dikatakan bahwa kearifan lokal terbentuk sebagai keunggulan budaya masyarakat setempat berkaitan dengan kondisi geografis dalam arti luas. Kearifan lokal merupakan produk budaya masa lalu yang patut secara terus-menerus dijadikan pegangan hidup. Meskipun bernilai lokal tetapi nilai yang terkandung di dalamnya dianggap sangat universal.
Kearifan lokal merupakan pengetahuan yang eksplisit yang muncul dari periode panjang yang berevolusi bersama-sama masyarakat dan lingkungannya dalam sistem lokal yang sudah dialami bersama-sama. Proses evolusi yang begitu panjang dan melekat dalam masyarakat dapat menjadikan kearifan lokal sebagai sumber energi potensial dari sistem pengetahuan kolektif masyarakat untuk hidup bersama secara dinamis dan damai. Pengertian ini melihat kearifan lokal tidak sekadar sebagai acuan tingkah-laku seseorang, tetapi lebih jauh, yaitu mampu mendinamisasi kehidupan masyarakat yang penuh keadaban.
Secara substansial, kearifan lokal itu adalah nilai-nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai yang diyakini kebenarannya dan menjadi acuan dalam bertingkah-laku sehari-hari masyarakat setempat. Oleh karena itu, sangat beralasan jika dikatakan bahwa kearifan lokal merupakan entitas yang sangat menentukan harkat dan martabat manusia dalam komunitasnya.
Dalam masyarakat kita, kearifan-kearifan lokal dapat ditemui dalam nyanyian, pepatah, sasanti, petuah, semboyan, dan kitab-kitab kuno yang melekat dalam perilaku sehari-hari. Kearifan lokal biasanya tercermin dalam kebiasaan-kebiasaan hidup masyarakat yang telah berlangsung lama. Keberlangsungan kearifan lokal akan tercermin dalam nilai-nilai yang berlaku dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai itu menjadi pegangan kelompok masyarakat tertentu yang biasanya akan menjadi bagian hidup tak terpisahkan yang dapat diamati melalui sikap dan perilaku mereka sehari-hari
Pengertian di atas memberikan cara pandang bahwa manusia sebagai makhluk integral dan merupakan satu kesatuan dari alam semesta serta perilaku penuh tanggung jawab, penuh sikap hormat dan peduli terhadap kelangsungan semua kehidupan di alam semesta serta mengubah cara pandang antroposentrisme ke cara pandang biosentrisme dan ekosentrisme. Nilai-nilai kerarifan lokal yang terkandung dalam suatu sistem sosial masyarakat, dapat dihayati, dipraktikkan, diajarkan dan diwariskan dari satu generasi ke genarasi lainnya yang sekaligus membentuk dan menuntun pola perilaku manusia sehari-hari, baik terhadap alam maupun terhadap alam.
Sumber :
http://biosend.blogspot.co.id/2015/11/pengertian-kearifan-budaya-lokal.html