Roso Daras : Buku "BUNG KARNO, THE UNTOLD STORIES" Adalah hasil plagiat

Roso Daras : Buku "BUNG KARNO, THE UNTOLD STORIES" Adalah hasil plagiat

Dalam tulisan ini, saya selaku pemulung informasi dengan tidak bosan-bosannya memulung informasi mengenai ilmu pengetahuan nan paradigma para tokoh dunia maupun tokoh yang namanya besar dalam negeri. Secara komprehensif hasil dari pemulungan saya nantinya diolah pada sebuah perusahan pemberian tuhan yaitu akal sehat. Dengan direktur didalamnya yaitu Buku dan manejer yaitu para senior yang telah lebih awal merasakan pahit manisnya memulung yang kemudian telah menjadikan mereka menejer yang akan memanagemen perusahan yang tuhan beri yaitu alam pemikiran yang sesuai dengan dalil aqli dan dalil naqli dalam konteks keislaman.

Tulisan ini ada dihadapan pembaca karena dilatar belakangi oleh rasa penasaran saya selaku pemulung informasi. Pada beberapa waktu lalu saya dan sobat saya berkunjung ke kos-kosan dari salah satu senior dalam Himpunan Mahasiswa Islam-Majelis Penyelamat Organisasi (HMI-MPO) Cab. Manado. Salah satu senior memberikan buku dengan judul "Bung karno, the Untold Stories untuk dibaca. Ketika membaca, saya pun penasaran dengan penulis yang bernama Wijanarko Aditjondro. Karena ketika dibaca buku tersebut, seakan widjanarko telah khatam dengan sosok Bung Karno yang Ia gambarkan lewat buku itu.

Saking cangihnya Iptek, Google menjadi tempat yang tepat saat itu untuk mempertanyakan sosok Widjanarko Aditjondro. Karena pada buku yang ia tulis tidak terdapat biografinya. Naifnya lagi biografi penulis tidak ada pada pencarian digoogle. Yang ada hanya informasi mengenai penjualan buku itu dan berbagai kontroversi dari penyajian isi buku berjudul Bung karno The Untold Stories.

Singkat kata, membahas apa yang telah menjadi judul dalam tulisan saya, mungkin pembaca sudah pernah mendengar dan tahu akan kekeliruan ini, karena ungkapan ini telah dimuat dalam web pribadi Roso Daras pada 30 april 2012 silam.

Roso Daras mengungkapkan bahwa  hampir semua isi dari buku tersebut adalah hasil plagiat dari blognya. Kemudian Ia memberikan beberapa contoh seperti pada bab 2 buku itu, "Soekarno dan supir taksi" yang menurutnya adalah hasil kutipan dari tulisannya yang Ia posting pada tanggal 12 juli 2009 yang berjudul tulisan " Revolusi dan utang ongkos taksi".  Kemudian pada bab 3 buku itu “Soekarno, Presiden Termiskin di Dunia”, juga menurutnya tulisan itu yang Ia posting tanggal 17 September 2011 berjudul “Sukarno, Presiden Miskin”. Lalu pada bab 6 “The Heroic Side of Soekarno”, diambil dari tulisannya berjudul “Burung Elang Terbang Sendirian” postingan 7 Juli 2009.

Ia mengungkapkan bahwa tidak adanya biografi penulis karena mungkin kealpaan penerbit atau memang nama Wijanarko Aditjondro adalah nama fiktif.

"Baik penerbit maupun penulis (serta yang punya ide melakukan penjiplakan) atas tulisan-tulisan yang ada dalam blog ini, menurut saya sungguh terrrlllaaaallluu!!!" Ungkapan Roso Daras dalam blognya.

Dalam tulisannya nampak jelas bahwa Roso Daras sangat tidak merestui perihal beberapa isi dalam buku berjudul “Bung Karno, The Untold Stories”, dengan nama penulis Wijanarko Aditjondro. Penerbitnya, Buku Pintar, yang beralamat di Jalan Imogiri Barat, Yogyakarta. Yang dianggap adalah hasil plagiat dari blognya. Ketidaksetujuan beliau mungkin karena sesuatu dan lain hal.

Hal serupa juga telah diungkapkan oleh Admin pada web kompasiana yang merupakan platfrom blog. Admin yang bernama Andimas Kurnianda membenarkan perihal penjiplakan yang kemudian dimuat dalam buku itu. Pasalnya ada satu artikel yang dibukukan merupakan hasil jiplakan. Pada bab 47 buku itu terdapat tulisan dari Andimas Kurnianda yang berjudul "Ir. Soekarno, Presiden yang Tersingkirkan" yang Ia posting pada tanggal 25 september 2011 yang kemudian dibukukan pada 2012.

Dari tulisan diatas, seharusnya kita semua belajar bagaimana agar selalu bersikap jujur. Bukan bermaksud untuk menggurui pembaca, melainkan saling mengingatkan bahwa kejujuran harus diutamakan. Walau untuk bersikap jujur terkadang sulit, karna sesuatu dan lain hal yang mengikat.

Penjiplakan tanpa sepengetahuan dari pemilik pastinya memiliki tujuan untuk menggambarkan sosok yang kita tulis. Namun, tanpa memikirkan konsekuensi yang akan datang silih berganti.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 (Tentang Hak Cipta) yang merupakan hasil persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia yang memutuskan penetapan UU Tentang Hak Cipta. Pada BAB V ( Ekspresi Budaya Tradisional Dan Ciptaan Yang Dilindungi ) BAGIAN KEDUA ( Ciptaan Yang Dilindungi ) Pasal 40 Ayat 1 (Ciptaan yang dilindungi meliputi ciptaan dalam bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra terdiri atas) : (a.) Buku, pamflet, karya tulis yang diterbitkan, dan semua hasil karya tulis lainnya ;

Nah, dalam UU ini jelas bahwa apapun bentuk karya tulis yang kita hasilkan semua dilindungi. Manakala, ada pelanggaran dalam hal penjiplakan tanpa sepengetahuan maka pastinya akan ada sangki yang berlaku.

Jelas bahwa 1 tujuan yang akan kita buat maka harus siap dengan 1001 resiko yang akan ditemui.

Semoga tulisan diatas bisa sedikit mengingatkan kembali. Bukan memotivasi atau menggurui karna saya percaya dan yakin bahwa yang saat ini membaca tulisan saya adalah orang-orang hebat yang tak melupakan awal mula kehebatan mereka yaitu budaya literasi. Hukum kausalitas berlaku, kehebatan bermula dari ketekunan.

Penulis : Fanly Mandalika

Manado, 17 Desember 2018

Lihat juga Fanly Mandalika :

Sertifikat (Seminar) Bagaikan Segalanya Bagi Para Pengagumnya 

Macam-Macam Wisatawan dan Tingkat Kesadarannya