Premis Universal dan Pandangan Islam Mengenai Hari Ibu

Premis Universal dan Pandangan Islam Mengenai Hari Ibu

Hari Ibu adalah hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya. Baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya. Tanggal 22 Desember acap kali dimeriahkan dengan berbagai macam perayaan oleh sanak dan keluarga yang ingin merayakan.

Apa yang melatarbelakangi adanya hari ibu ?


Di Indonesia sendiri, hari Ibu telah disandang sebagai hari yang akan selalu diperingan dan menjadi hari nasional. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu, merupakan tanggal yang diresmikan oleh Presiden RI pertama yaitu Ir. Soekarno, dibawah keputusan Presiden RI No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959. Peresmian ini dilakukan pada ulang tahun Kongres Perempuan Indonesia yang ke-25 sejak 1928.

Perayaan hari Ibu bukan hanya di Indonesia, Tetapi hampir seluruh negara merayakan hari Ibu. Seperti halnya negara Amerika dan lebih dari 75 negara lainnya juga merayakan. Seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong merayakan hari Ibu atau Mother's Day pada hari minggu dipekan kedua bulan Mei. Sementara dibeberapa Negara Eropa dan Timur Tengah Hari Perempuam Internasional (International Women's Day) diperingati setiap tanggal 8 Maret.

Perayaan hari Ibu di Indonesia bermula pada pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama kali digelar pada tanggal 22 hingga 25 Desember tahun 1928. Kongres yang diselenggarakan disebuah gedung bernama Dalem Jayadipura, kini telah menjadi Kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional, jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta.

Sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra menghadiri kongres tersebut. Adapun maksud dan tujuan diselenggarakannya kongres perdana itu untuk meningkatkan hak-hak perempuan dibidang pendidikan dan pernikahan.

Tanggal 22 Desember tersebut dipilih dan ditetapkan oleh Presiden Soekarno dengan maksud untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Namun pada tanggal ini acap kali banyak orang yang salah tafsir akan maksud dari hari ibu ini. Kebanyakan orang menganggap dan membeberkan bahwa tanggal 22 Desember adalah hari kasih sayang kepada ibu yang telah membesarkan, bahkan diera digital untuk memperingati hari Ibu kerap kali di publikasi lewat media sosial seakan Ibu hanya spesial dihari itu.

Bagaimana Pandangan Islam tentang hari Ibu ?


Dalam Islam tidak ada keharusan merayakan hari ibu seperti halnya tanggal 22 bagi Indonesia dan waktu-waktu yang lain dinegara lain yang hanya diperingati satu hari saja.

Dalam islam berbakti kepada Ibu lebih utama.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata :

“Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548).

Dalam hadist ini kita bisa menyimpulkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua sangatlah diwajibkan, terlebih lagi seorang ibu. Dalam pandangan Islam menyayangi keduanya tanpa memilih waktu yang ditetapkan.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Dalam hadits ini terdapat dorongan untuk berbuat baik kepada kerabat dan ibu lebih utama dalam hal ini, kemudian setelah itu adalah ayah, kemudian setelah itu adalah anggota kerabat yang lainnya. Para ulama mengatakan bahwa ibu lebih diutamakan karena keletihan yang dia alami, curahan perhatiannya pada anak-anaknya, dan pengabdiannya. Terutama lagi ketika dia hamil, melahirkan (proses bersalin), ketika menyusui, dan juga tatkala mendidik anak-anaknya sampai dewasa” (Syarh Muslim, 8: 331).
[23:47, 12/22/2018] Fanly Mandalika: Allah SWT berfirman dalam QS. Luqman ayat 14 :

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”
(QS. Lukman: 14).

Perintah berbakti kepada kedua orang tua bukan hanya pada penghujung tahun, bukan hanya pada tanggal 22 Desember, melainkan setiap harinya.

Penulis : Fanly Mandalika

Lihat juga :

Kado Untuk Ibu

Makna Ibu Sang Perantau (Puisi)