Upaya Berontak dari Sentimen Kampus

Upaya Berontak dari Sentimen Kampus

Ini cerita dari antah berantah kehidupan, bermula dari seorang pemuda yang baru lulus Sekolah Menengah Atas di salah satu daerah. Dia bingung dimana dia akan mencari tiket menuju masa depannya yang cerah. Dia bercita - cita untuk masuk ke perguruan tinggi negeri yang menjadi keinginannya sejak masih mngenyam bangku Sekolah Menengah Atas.

Dia kemudian mendaftar sebagai salah satu calon mahasiswa untuk mengikuti tes masuk di kampus tersebut dan akhirnya ucapan syukur terucap bahagia karena lulus dalam tes tersebut. Alih-alih menjadi mahasiswa di kampus negeri tersebut, dia terhalang dengan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), yang terlalu mahal.

Lihat juga : Realitas Kampus Kontemporer Jauh Dari Ekspektasi

Akhirnya dia bersepakat dengan orang tuanya untuk mendaftar mencari peruntungan demi kenyamanan orang tua dengan masuk di kampus swasta yang diharapkan bisa menjadi rumah yang nyaman baginya untuk menggali dalamnya ilmu pendidikan walaupun kampus tersebut tidak berada dalam ekspektasinya diawal bermimpi.

Dia resmi menjadi mahasiswa di kampus tersebut setelah menyelesaikan berbagai berkas maupun administrasi yang diharuskan. Setalah menjadi mahasiswa baru di kampus tersebut, awalnya dia merasa cukup dapat menerima situasi dan kondisi di kampus tersebut. Setelah berjalan waktu, dia merasa bahwa seorang mahasiswa kurang rasanya jika tak dibarengi dengan keaktifannya diorganisasi.

Diapun mencari organisasi untuk dirinya berproses dan memperdalam ilmu pengetahuan. Tapi sayangnya pihak kampus seakan memperkecil ruang bagi mahasiswanya untuk berdinamika dengan gelapnya ruang ilmu pengetahuan. Dia didoktrin dalam hal berorganisasi, dia didoktrin dalam berpikir, dia didoktrin dalam kebebasan berpendapat, bahkan dia didoktrin untuk belajar yang notabene dia adalah pelajar.

Sangat disayangkan kampus yang berada di Negara demokrasi ini, pola pikir dari para mahasiswanya justru dikerdilkan karena terbelenggu kebijakan, Dia ingin mencari organisasi yang nyaman baginya walaupun jiwanya diancam bahkan didiskriminasi, dari dalam hatinya ingin menuntut hak yang harusnya dia terima dia malah dianggap parasit dikampus tersebut. Dia ingin mencari eksistensi tapi esensinya sebagai mahasiswa dibunuh. Terbesit pertanyaan besar di pikirannya KENAPA?, Mungkin mereka takut kami menjadi mahasiswa yang "kritis".

Lihat juga : Mengolah Pikiran Kritis dalam Lingkungan Kampus

Dibalik itu semua jiwanya memberontak karena akalnya berkata "kita tidak bisa hanya berdiam diri dan mengikuti aturan ataupun kebijakan yang tidak sesuai dengan semestinya itu.

Diapun memutuskan untuk tetap berproses pada organisasi ekstra yang dia rasa nyaman untuk berproses tanpa memikirkan resiko yang akan dia dapatkan sebab baginya sangat disayangkan ladang ilmu yang seharusnya menjadi tempat belajar yang nyaman dan bebas baginya terbuang karena sentimen yang ada pada kampus yang terkenal menjadi sebuah lembaga pendidikan dan kini mengurung kebebasan untuk mahasiswanya berproses dan meningkatkan kualitas diri.

Itulah cerita singkat tentang seorang mahasiswa yang menentang aturan serta kebijakan yang dibuat untuk kepentingan pribadi bukan untuk orang banyak. Tulisan ini bukanlah sebuah doktrinan negatif ataupun unjuk kebolehan dalam memberontak, semua ini hanyalah kisah yang uraikan dengan maksud berbagi pengalaman sebab kebenaran harus diperjuangkan.

Wassalam

Penulis : Ibnu Wahyu (Ketum Komsat Ahkdar Aswad HmI Cabang Manado)

Lihat juga : 5 Hal yang Membuat Bahagia Menjadi Anggota Organisasi Mahasiswa
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar