Hubungan Politik dan Islam yang Harmonis

Hubungan Politik dan Islam yang Harmonis

Kata politik sekarang mengalami defisit kepercayaan inflasi keburukan dan akibatnya pandangan sebagian masyarakat muslim indonesia sekarang mulai terhegemoni dengan stigama bahwa Islam tidak wajib berpolitik atau terjun dalam dunia politik kenegaraan. Padahal jika diuraikan semestinya dengan politik islam, cita-cita keadilan dan kesejahteraan universal lebih mudah diperjuangkan dengan tambahan arah perjuangan atas nama rakyat. Maka atas dasar demikian mari bersama mencoba melihat bagaimana politik dalam prespektif Islam ?

Islam dan politik merupakan dua hal berkesinambungan bukan hanya mengatur persoalan ritual keagamaan karena islam adalah agama syammil mutakammil "sempurna dan paripurna", maka demikian Islam mengatur seluruh aspek kehidupan baik urusan sosial budaya dan pemerintahan.

Lihat juga : Kesalahan Dalam Memahami Politik

Di dalam literatur Ilmu pengetahuan islam terdapat ilmu yang mengatur permasalahan politik atau yang dikenal dengan 'Siyasah' secara etimologi Siyasah memilik makna terkait negara dan kekuasaan dan dalam uraian secara Terminologi bahasa Siyasah di identik dengan mengatur, memperbaiki dan mendidik.

Demikian adapun perkataan yang berbunyi bahwa islam tidak berpolitik secara esensi. Perkataan tersebut terbantahkan secara otomatis salah besar karena islam membuktikan dalam sejarah perjuangan sebagian besar Nabi dan Rasul-Nya di zamannya bukan hanya melawan dalam bentuk fisik namun juga melakukan langkah persuasif dengan argumen-argumen diplomtis dalam mensuplai ide dan gagasan ketika membelah kaum-kaumnya.

Di dalam Islam sendiri, buku yang menjabarkan pokok ayat-ayat politik dalam Islam adalah Kitab berjudul Al-Ahkam As-Sulthaniyyah karya Imam Al-Mawardi sebagai buku pertama yang membicara cara berpolitik Islam atau buku Siyasah Al-Mulk "Pimpinan kepemimpinan raja" dan masih banyak lagi yang dapat dijadikan referensi.

Hadirnya politik dalam bingkai islam di harapkan menjadikan alternatif untuk mengayomi keadilan atas nama rakyat, islam memiliki kriteria dalam urusan politik dalam memilih pemimpin di ambil dari sosok kepemimpinan Muhammad SAW sebagai berikut:

1. Siddiq (Jujur) Ketika rasulullah memimpin seluruh rakyat merasakan kesejahteraan dalam kehidupannya.

2. Amanah ( Terpercaya) selain memiliki sifat amanah Rasulullah juga dikenal dengan gelar Al Amin 'terpercaya' gelar yang diberikan sebelum pengangkatan menjadi Rasul Allah.

3. Tabligh (disampaikan) Seorang pemimpin haruslah memiliki pandangan untuk menyampaikan kebaikan-kebaikan hikmah maupun lainnya. Seperti Sabda Rasulullah 'sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat'.

4. Fathanah (Cerdas) Seorang Rasulullah memiliki kapabilitas dalam segi ilmu sehingga rasulullah begitu cerdas dalam menanggapi persoalan kehidupan umat. Karena cerdas dalam misi sebagai kunci kesejahteraan. Maka seorang pemimpin yang bergelanggang harus di uji dengan kriteria-kriteri diatas.

Terlebih politik islam dengan berbekal sosok pemimpin mumpuni dapat sebagai bentuk perubahan baru dalam upaya mensejahterahkan rakyat dan sekaligus membuktikan bahwa seharusnya politik dan islam tidak bisa terpisahkan dalam tatanan kehidupan dewasa ini, seperti perkataan Imam Al-Ghazali "Agama dan Negara tidak bisa dipisahkan : agama adalah pondasi, sedangkan pemerintah adalah penjaga".

Lihat juga : Persiapkan Payung Politik Sebelum Musim Hujan Politik Berkepanjangan

Demikian argumen penguatan sebagai dalil melawan pandangan liberal yang terbangun ditengah masyarakat dewasa kini. Semoga dapat membantu.

Salam dunia hitam manis

Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar