Tegakkan Kepala Meski Rampai Negara Begitu Pedas

Tegakkan Kepala Meski Rampai Negara Begitu Pedas

Salam atas dasar kemanusian, manusia memilki kebebasan dengan dibekalkan akal sebagai neraca tingkah laku dan hati sebagai alat refleksi kehidupan, setiap yang berakal dihargai atas dasar Hak Asasi Manusia yang membajukannya ketika dilahirkan dalam bentuk perlindungan haknya.

Terdengar dibeberapa waktu lalu bahwa perdebatan tentang pelarangan mantan narapidana atau para mantan koruptor yang dinilai tidak mestilah diizinkan mencalonkan diri lagi, hingga News pemukulan beberapa para demonstran yang menuntut presiden angkat kedua kakinya dari tampuk kekuasaan dilengkapi berita pilu pengeroyokan dari suporter Persib 'Bobotoh' yang menewaskan seorang suporter Persija 'The Jack" berapa hari lalu.

Disekian berapa hari lalu juga terdapat perdebatan dari Bulog dan Menteri Perdagangan karena Menteri Perdagangan tetap ngotot untuk tetap mengimpor beras sedangkan Bulog berargumentasi bahwa mereka telah kewalahan mengawal pasokan beras yang dinilai telah berlebihan dalam negeri. Kenapa harus Impor lagi ?

Lihat juga : Persembahan Untuk Pancasilais, Hari Pancasila 1 Juni Atau 18 Agustus ?

Dalam kisah tragis terjadi dipulau indah 'lombok' Nusa Tenggara Barat yang dipimpin Gubernur Tuan Guru Bajang (TGB) sebelum diganti kala itu. Datang dengan mengoyak sebagian bangunan hingga bergoyang runtuh kacau bertaburan puing-puing bangunan, tampilan CCTV yang memperlihatkan kekhusuan imam dan para makmumnya yang luar biasa dalam beribadah. Walaupun tidak diikuti oleh gempa Tsunami namun korban begitu berhamburan dari yang terluka berat, ringan, tua, muda dan balita kekurangan pasokan makanan berteriak dalam tidurnya karena trauma dalam penak para korban.

Sumbangan datang berdatangan atas nama kemanusian, kenegaraan dan kebersamaan umat tuhan tampaknya belum bisa memuaskan, menghilangkan penat para korban dan sisi pemerintah berdebat tentang status bencana alam, korban dibuat bingung tentang alasan pariwisata, didukung dengan alasan pendapatan negara karena defisit rupiah membayangi indonesia, namun rakyat tetap bingung karena menganggap haruslah dikedepankan kemanusian, tentu tidak salah karena salah satu hak rakyat adalah bertanya?.

Dilain sisi pemerintah sementara lagi menyiapkan menuju massa kampanye dalam pemilihan Umum 2019 menjadi agenda selain kesibukan mengurus korban gempa dan disaat kondisi negara begitu terhimpit karena Rupiah mulai menggila defisitnya ditambah negara sibuk menyiapkan pertemuan dengan IMF di kota turis bali.

Bencana kembali datang melanda indonesia disaat waktu panggilan umat, kumandang Adzan shalat magrib berlangsung. Gempa bumi disertai gelombang Tsunami yang menghantam Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah Indonesia. Korban reruntuhan dan Korban Tsunami berjatuhan memasuki jumlah satu juta jiwa lebih dan pengungsi yang kekurangan logistik dan peralatan melindungi diri pada diingin malam. Segala jalur akses masih dalam kondisi berantakan, pendistribusian bantuan barang masih dengan upaya keras untuk menembus posko pengungsian saat ini.

Sejak dari Gempa lombok hingga yang terbaru di Donggala dan Palu selalu mendapatkan respon positif dari semua kalangan masyarakat mulai dari LSM, Pemerintah hingga mahasiwa yang tergabung dalam beberapa organisasi, mulai aktif memegang kardus bertuliskan Pray For Sulteng di sepanjang jalan meminta keikhlasnya para penyumbang mengulur tangan dari kaca mobil dan atas gerak gerik motor yang lewat.

Lihat juga : Model- Model Hegemoni dan Negara Integral Antonio Gramsci

Sejauh hingga matahari hari ini keluar menerangi bumi pemerintah masih bingung menentukan status Bencana Palu dalam skala apa? sebagian pihak mendukung jika dijadikan bencana nasional dan sebagian masih membaca situasi gempa walaupun terbilang pemerintah lamban mengambil sikap menempatkan statusnya. namun syukur masih ada upaya memberikan yang terbaik dalam kondisi masyarakat Sulteng saat ini.

Demikian kondisi kita saat ini tidak semestilah manusia mengeluh pada manusia, dengan demikian tegakkan kepala dan lihatlah kita butuh kekuatan lebih besar dari sekedar Donald Trump pemimpin Amerika untuk menenangkan hati. secara fisik manusia bisa mengobati dengan kecanggihan teknologi medis namun dalam pegangan, sandaran. Kita butuh lebih, maka jangan lupa tegakkan kepala memohon, mencari kekuatan dari sang tuhan maha esa.

Salam Dunia Hitam Manis

Penulis: Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar