Pengertian, Jenis dan Sejarah Kata GOLPUT yang Belum Banyak Diketahui Orang

Pengertian, Jenis dan Sejarah Kata GOLPUT yang Belum Banyak Diketahui Orang

Golongan Putih atau Golput ! sebuah kata yang pasti terdengar dan diucapkan ketika memasuki tahun-tahun Pemilihan Umum (PEMILU). Sebagian dari kita mungkin tidak banyak yang mengetahui sejarah maupun asal muasal dari kata Golput yang sering didengungkan ketika mendekatnya masa pemilihan umum sebagai bentuk rakyat yang tidak memakai hak suaranya dalam memilih. Berikut jenis dan sejarahnya.

Jenis-jenis Golongan Putih (Golput)

1. Golput Ideologis: menyikapi dengan golput karena tidak percaya kepada pemilu disebabkan alasan ideologis.

2. Golput Politis: golput sebab tidak memiliki pilihan dari kandidat yang tersedia ataupun tidak yakin bahwa pemilihan tersebut akan membawa perbaikan atau perubahan.

3. Golput teknis politis: adalah gabungan politis dan teknis, contoh disebabkan tidak terdaftar dirinya dalam daftar pemilih disebabkan kesalahannya bisa juga orang lain. Seperti pihak penyelenggara pemilu.

4. Golput teknis: golput karena diakibatkan masalah teknis seperti misalnya sakit, ketiduran, keluarga meninggal. Hingga terhalang datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) atau mereka yang tidak sengaja salah mencoblos sehingga suara mereka dianggap tidak sah.

Sejarah Golongan Putih (Golput)

Istilah Golput mulai dikenal karena gerakan yang dilakukan Arief Budiman dan sekelompok teman-temannya tepat pada akhir tahun 1969 menggambarkan bentuk kekecewaan kepada pelaksanaan pemilu dizaman rezim orde baru yang berkhias penuh kecurangan.

Golongan putih atau biasanya disingkat "golput" pencetus istilah ini adalah "Imam Waluyo" Pilihan untuk tidak menggunakan hak suara tepat saat (Pemilu) pemilihan umum dengan berbagai penyebab dan alasan.

Gerakan kampanye maupun ajakan untuk golput dicetuskan pada tanggal 3 Juni 1971 dan meluas saat pemilu 1971 sampai 1977 sebab golput diterjemahkan sebagai salah satu bentuk perlawanan kepada rezim Orde Baru yang dinilia Otoriter militeralistik.

Kampanye dengan sebutan golongan putih sebab gerakan ini menyampaikan secara mekanis untuk mencoblos bagian putih di kertas suara pemilu atau diluar dari gambar-gambar partai dan gambar kandidat dan kata "golongan" sebagai kata bentuk perlawanan terhadap partai penguasa kala itu (Golongan Karya).

Di tahun 1998 Presiden Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun tumbang karena perlawanan atas nama reformasi oleh mahasiswa dan rakyat yang telah geram dengan rezim orde baru. Disaat itu pula golput di perkirakan tidak lagi relevan dengan pemilu pasca reformasi karena telah diselenggarakan secara umum dan langsung.

Tetapi, menurut tokoh pelopor Golput, Arief Budiman kembali mengatakan meskipun simbol perlawanan golongan putih tidak lagi segeram dan kuat seperti di zaman orba, namun jika calon-calon yang terpampang berada di bawah standar tiap pandangan individu, maka golput boleh-boleh saja dilakukan

Salam Dunia Hitam Manis

Penulis : Awin Buton

Lihat juga :

Pantaskah Presidential Threshold (Ambang Batas) Pemilihan Presiden 2019 ?

Prediksi Konstelasi Politik di Pilpres 2019
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar