5 Pemicu Datangnya Stres yang Sering Terjadi dalam Kehidupan Sehari-Hari

5 Pemicu Datangnya Stres yang Sering Terjadi dalam Kehidupan Sehari-Hari

Datangnya stres biasanya ditimbulkan oleh beberapa faktor atau hal -hal yang tidak lagi sejalan atau searah dengan jalan pikiran kita.

Misalnya masalah pekerjaan, keuangan, hubungan denngan suami atau istri, urusan anak dan kecemasan terhadap masa depan.

Berikut ini akan kita bahas satu persatu mengenai hal tersebut :

1. Pekerjaan

Sebuah ancaman memang seringkali menyebabkan seseorang merasa stres tak terkecuali dengan masalah pekerjaan. Karena pekerjaan adalah salah satu media untuk kita mendapatkan penghasilan demi kelangsungan hidup. Bagi orang yang belum memiliki pekerjaan, masalah ini pasti akan menjadi sebuah ancaman bagi dirinya sendiri. Secara khusus, ancaman ini akan berdampak lebih buruk lagi ketika orang tersebut tidak memiliki jalan keluar yang dapat mengurangi ancaman tersebut. Hal ini tentu akan mempengaruhi kebutuhan dan rasa kontrol yang kita miliki. Ancaman- ancaman tersebut dapat menyebabkan rasa takut, yang berujung pada stres. Ketakutan - ketakutan tersebut menyebabkan hasil yang dibayangkan, dan itu sumber nyata dari stres.

Dalam dunia kerja, tak jarang ada permasalahan-permasalahan yang tak terduga dan dapat membuat kita stres seperti adanya peningkatan sebuah tanggung jawab dalam pekerjaan, posisi pekerjaan baru yang membuat kita perlu beradaptasi dengan apa yang kita kerjakan, adanya tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi di dalam kantor. Misalnya staf kontrol yang bertindak berlebihan atas apa yang kita kerjaan, seolah-olah kita seperti tidak memiliki ruang kebebasan.

Hal-hal lain yang juga bisa menjadi faktor stres diantaranya adalah hubungan dan dukungan dari rekan-rekan kerja, pergantian staf pemimpin dengan aturan yang memberatkan dan kurang jelas, kurang adanya komunikasi yang baik dengan pihak atasan, kurangnya kejelasan peran dan tanggung jawab antara satu sama lain, kurangnya umpan balik pada kinerja, bekerja berjam-jam tanpa jam istirahat. Tempat atau ruang kerja yang kurang nyaman juga akan membuat kita stres, karena kita merasa kurang adanya kesesuaian dengan apa yang ada dalam fikiran kita.

Lihat juga : Konsisten, Kerja Keras, Kerja Cerdas dan Berdoa Dalam Kehidupan

Untuk menjaga dari hal itu semua, kita memang perlu menjalin hubungan yang baik dengan atasan maupun teman sekantor, mengkomunikasikan secara baik-baik masalah-masalah yang sedang dihadapi dengan mencari solusi yang baik dan solutif serta bersikap rileks dan tidak menjadikan masalah-masalah tersebut menjadi sebuah beban yang berat.

2. Keuangan


Tekanan keuangan adalah hal yang lumrah dan sering dialami oleh banyak orang. Masalah keuangan menjadi masalah yang sangat krusial, karena fungsinya yang begitu penting untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup manusia. Tuntutan zaman seperti sekarang ini, juga menghadapkan kita pada kenyataan bahwa selalu ada peningkatan dalam biaya hidup. Hal ini, secara tidak langsung menuntut kita untuk selalu mendapatkan penghasilan yang cukup bahkan lebih. Dan apabila kenyataan berbanding terbalik dengan keadaan, inilah yang akan mengakibatkan orang-orang menjadi stres. Stres ini akan bertambah apabila mereka tidak hanya kurang uang, tapi juga terlilit hutang. Terlilit hutang yang cukup banyak pasti akan menimbulkan rasa kecemasan, ancaman dan tekanan yang lebih tinggi pada tiap -tiap orang.

Orang yang mengalami tekanan dalam masalah ekonomi cenderung lebih cemas dan mengalami tekanan atau ancaman yang lebih tinggi. Karena faktor ini, tak jarang orang-orang yang melarikan diri kepada hal-hal yang kurang bermanfaat dan bahkan menimbulkan penyakit dan bahaya baru, seperti merokok, makan berlebihan bahkan orang yang tidak memiliki keimanan yang tinggi, mereka akan lari pada minuman haram (alkohol). Padahal kegiatan-kegiatan ini malah akan membuat orang bertambah stres akan tetapi hal itu tidak disadari oleh mereka. Terkadang mereka malah lebih suka mengambil jalan pintas yang memiliki dampak semakin buruk dan terpuruk.

3. Hubungan dengan suami atau istri

Salah satu dari penyebab stres yang lain adalah adanya hubungan yang kurang baik yang terjadi dengan orang-orang disekeliling kita terutama hubungan dalam keluarga antara seorang istri dengan suami ataupun sebaliknya. Komunikasi yang kurang baik antara keduanya itu juga bisa berujung pada stres. Ada faktor-faktor yang membuat kenapa hubungan antara suami istri kurang berjalan dengan baik, padahal mereka setiap hari harus berinteraksi dan tinggal dalam satu atap. Berikut ini adalah faktor-faktor tersebut .

a. Merasa didominasi

Ketika dalam hubungan keluarga, suami merasa didominasi oleh istrinya ataupun istrinya lebih didominasi oleh suaminya, hal ini pasti akan berdampak kurang baik karena semuanya memang harus berjalan secara selaras dan seimbang. Contohnya ketika sang istri memiliki penghasilan yang lebih besar daripada seorang suami, maka sang istri bertindak sewenang-senang terhadap suaminya, selalu mendominasi dalam hal apapun. Jika hal ini terjadi secara terus menerus pasti suami akan memiliki beban mental tersendiri yang bisa berujung pada stres. Bagaimanapun, seorang suami adalah imam keluarga yang wajib untuk dihormati oleh istri selama suami tidak menyimpang pada norma agama.

b. Kritik yang terlalu sering

Dalam hubungan keluarga memang sangat dianjurkan untuk saling mengingatkan ketika salah satu dari pasangan sedang lalai ataupun kurang baik. Terutama bagi seorang suami yang harus bertindak lebih , karena sepenuhnya istri adalah tanggung jawab dari suami. Akan tetapi, hal ini juga perlu dibatasi, karena terlalu sering dikritik untuk masalah-masalah kecil yang kurang penting juga akan membuat pasangan bosan. Hal ini terjadi karena pasangan memiliki suatu beban dan pikiran bahwa apa-apa yang dilakukannya itu selalu bernilai salah. 

Oleh sebab itu, lakukan hal tersebut sewajarnya dan secukupnya ketika pasangan kita benar-benar dalam kondisi yang perlu diingatkan. Terimalah semua kekurangan pasangan kita dengan baik, agar tidak memicu kita untuk selalu mengkritiknya.

c. Suka menyuruh-nyuruh

Dalam hubungan keluaraga posisi istri bukan saja pembantu begitupun suami bukan hanya sebagai pelayan. Hubungan suami istri adalah hubungan baik antara kedua belah pihak untuk hidup bersama, saling mengasihi, saling menjaga dan saling membantu satu sama lain ketika sedang menghadapi kesulitan. Dalam hubungan suami istri memang diwajibkan untuk saling membantu, akan tetapi tidak dianjurkan untuk suka menyuruh-menyuruh.

Ketika suami sedang mengalami kesulitan, tanpa disuruh maka sang istri membantu, begitupun saat istri sedang kerepotan dalam menajalankan tugasnya sebagai seorang istri ataupun ibu maka secara sukarela seorang suami harus siap membantu. Jika suami ataupun isteri kurang pengertian atau sedang sibuk sebaiknya pasangan mengerti atau bisa untuk sebentar meminta tolong bukan menyuruh untuk sejenak menghentikan aktifitasnya dan membantu kerepotan kita.

d. Selalu dikendalikan

Dalam hubungan rumah tangga, sebaiknya kita selalu memberikan kebebasan kepada pasangan selama itu tidak menyimpang dari aturan agama. Jangan sampai kita terlalu menyetir ataupun mengendalikan apa-apa yang akan dilakukan oleh pasangan, karena itu juga akan mengakibatkan stres pada pasangan.

e. Selalu Merasa Benar

Manusia tidak selamanya melakukan benar, karena manusia tempatnya lupa dan salah. Hal ini juga berlaku dalam hubungan keluarga, posisi kita sebagai suami ataupun isteri belajarlah untuk mengakui kesalahan yang kita lakukan dan segera meminta maaf pada pasangan kita. Selalu merasa benar terhadap apa yang dia lakukan dan selalu menyalahkan pasangan akan membuat pasangan itu merasa jemu dan stres.

f. Membuat Pasangan Tertekan

Seringkali menuntut pada pasangan suami ataupun isteri kita akan membuat pasangan kita mengalami tekanan yang lebih. Oleh sebab itu, terimalah semua kekurangan pasangan kita, belajarlah memahami dan melengkapi atas kekurangan -kekurangan yang ada dalam pasangan kita agar terjalin kehidupan keluarga yang terus harmonis.

g. Berbuat kasar

Dalam hubungan suami isteri jangan sampai berbuat kasar pada pasangan sebesar apapun masalah atau konflik yang sedang dihadapi, karena hal ini dilarang oleh agama. Selain dilarang dan dapat melukai fisik pasangan, perbuatan kasar ini juga dapat menimbulkan traumatis pada pasangan yang berakibat stres emosional.

Lihat juga : Cara Membentuk Pikiran Positif Dari Sudut Pandang Positif

4. Anak

Selain hubungan suami isteri yang kurang baik, hubungan yang kurang baik antara orang tua dan anak juga dapat menimbulkan stres. Anak memang seringkali menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tuanya, akan tetapi jika sedang ada masalah yang cukup serius terjadi pada anak kita, juga menyebabkan orang tua memiliki kekhawatiran dan kecemasan yang berlebih dan memuncak pada sikap stres.

Kadang-kadang anak juga menimbulkan kesalahpahaman yang terjadi antara orang tua, apalagi bagi pasangan yang baru saja menjadi orang tua. Mereka harus beradaptasi dengan keadaan baru misalnya seorang istri yang harus lebih sering terbangun karena menjaga si kecil yang masih terjaga. Menjaga seharian si kecil saat suami sedang di kantor. Jika satu sama lain tidak saling pengertian, hal ini juga akan memicu konflik-konflik yang terjadi akibat masalah-masalah sepele saja.

Peran menjadi orang tua kadang -kadang memang bisa menimbulkan sikap stres. Mengingat tanggung jawab orang tua yang besar terhadap anak. Padahal kadang kita harus membagi waktu dan tenaga kita dengan pekerjaan - pekerjaan yang lain. Terlalu sibuk di kantor membuat anak kurang terkontrol, dan tak jarang anak juga protes atas apa yang kita lakukan meskipun kita melakukannya demi anak. Belum lagi faktor-faktor yang lain yang ditimbulkan oleh kenakalan anak dan lain sebagainya.

Akan tetapi bentuk stres tersebut tidak boleh diluapkan dalam bentuk emosi apalagi marah. Karena marah atau frustrasi pada anak Anda dapat menyakiti mereka baik secara fisik maupun psikologis. Dalam keadaan apapun, kita harus bisa mengenali dan mengelola perasaan negatif sehingga kita dapat menikmati peran orang tua, dan menciptakan hubungan harmonis dan bahagia dalam keluarga.

Sebagai orang tua sebaiknya kita harus bisa membangun hubungan saling percaya, penuh kasih dan menghargai dengan anak karena ini merupakan salah satu cara untuk menuntun mereka kepada kehidupannya kelak. Anak-anak belajar dengan mengikuti contoh yang ditetapkan oleh orang dewasa di sekitar mereka terutama orang tua mereka sendiri. Oleh sebab itu kita harus bisa memberikan mereka contoh yang baik dan mengarahkan mereka untuk menjadi orang yang mampu mengendalikan diri, mengelola perasaan negatif mereka dengan cara damai, percaya diri, menghormati orang lain, dan berperilaku dengan hati-hati dan kasih sayang.

Lihat juga : 3 Cara Blokir Konten Dewasa di YouTube Agar Terhindar dari Anak-Anak

Untuk menghadapi konflik-konflik bisa dimulai dengan terus menjalin komunikasi yang baik antara orang tua dan anak, selalu meluangkan waktu untuk anak bercerita tentang aktifitas kesehariannya agar anak terus terkontrol sekaligus menghilangkan rasa kecemasan mereka atas apa yang mereka alami. Selalu memberikan contoh yang baik dengan penuh kasih sayang, jangan pernah mengeluarkan sikap emosi, marah ataupun sikap yang kurang mengenakkan hati anak, siap membagi waktu dan tenaga untuk pekerjaan dan keluarga secara seimbang.

5. Kecemasan Terhadap Masa Depan

Sebuah kecemasan seringkali hadir dalam fikiran kita ketika kita takut akan apa yang akan terjadi di masa depan. Ketakutan adalah salah satu kendala terbesar dalam hati dan pikiran manusia. Rasa takut yang berakar dan tidak disadari akan terus mengancam dan menimbulkan kekacauan dan keraguan diri.

Ketakutan - ketakutan tersebut juga akan menciptakan kegelisahan, tanggapan adiktif, metabolisme yang lambat dan bahkan insomnia.

Gejala-gejala kecemasan ini biasa disebabkan oleh fikiran diri kita sendiri dengan berfikir buruk akan masa depan yang akan kita hadapi nanti. Seolah-olah masa depan yang akan kita hadapi adalah masa depan yang suram dan tidak memiliki harapan apa-apa. Gambaran-gambaran buruk tersebut akan akan menimbulkan ketakutan tinggi atas sesuatu yang belum kita alami dan menyebabkan stres. Gangguan kecemasan ditandai dengan rasa ragu dan kerentanan tentang kejadian di masa depan. Perhatian orang cemas difokuskan pada prospek masa depan mereka, dan ketakutan bahwa prospek masa depan akan menjadi buruk.

Lihat juga : Merasakan Kesejukan dan Ketenangan Jiwa Setelah Berwudhu

Kebanyakan orang mengabaikan ketakutan yang mereka alami atau berpura-pura mereka tidak memiliki rasa takut. Namun sesungguhnya, ketakutan-ketakutan tersebut bisa kita minimalisir dengan cara selalu berfikir positif, bersikap optimis dan bermimpi besar dan usaha yang besar untuk mencapai mimpi tersebut. Selalu merasa bahagia dan bersemangat dalam menjalani hidup dan membuang jauh-jauh fikiran negative.
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar