Kategorisasi Eksistensi Mahasiswa Kontemporer

Kategorisasi Eksistensi Mahasiswa Kontemporer

Mahasiswa ! Siapalah yang tidak mengenalkan kata terkenal itu? Kata yang menerjemahkan seorang atau sekelompok manusia yang mendapatkan kesempatan mengunyah pengetahuan secara sistemik dan menerjemahkan kondisi sosial dalam fungsinya sungguh memiliki warna sendiri dalam gambaran eksistensinya.

Sebut saja Mahasiswa Apatis yang akan selalu merayakan disetiap moment kebahagiaannya seperti halnya ulang tahun, hari jadian dengan pacarnya. Ini adalah mahasiswa yang bagaikan ateis romantis, yang tidak percaya akan adanya tuhan, ia menganggap bahwa penciptaan biologisnya di bentuk oleh materi, sekalipun ada tuhan, tapi ateis romantis tidak peduli, teori-teori yang di lontarkan saat perdebatan dengan kaum agamais mengacu pada teori Big-Bang (Ledakan Besar)

Mahasiswa Apatis, tidak peduli dengan masalah-masalah yang menimpa rumahnya sendiri dan tak mau tahu dengan keadaan sosial yang terjadi. Sifat Acu tak acu ini mengelabui alam pikirannya, mahasiswa Apatis itu beranggapan bahwa sifat seperti ini akan menjauhkan dirinya dari masalah yang akan datang menimpa, sekalipun yang mendapat masalah tersebut adalah saudaranya sendiri.

Lihat juga : Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Dalam Pusaran Modernisme

Mereka terfokus kepada kehidupan kampus yang amat mengekang gerak pemikiran mereka, dalam kehidupan seperti ini membuat mereka nyaman, padahal jika di rasionalkan ketika mereka tidak mendapatkan masalah dari eksternal tetapi tanpa mereka sadari mereka mendapat masalah dari internal dalam akalnya

Mahasiswa aktivis, mereka tidak peduli jika selesai dan tidaknya kuliah. yang mereka tahu hanya menyelesaikan beban negara yang dari sebelum merdeka sampai sesudah merdeka tapi belum adil, makmur menjelma keseluruhan, kehidupan seperti ini selalu memacu semangat mereka untuk menyelesaikan keadaan sosial yang terjadi.

Lihat juga : Telaah Singkat Eksistensi Mahasiswa Dalam Politik Indonesia

Dibalik itu mahasiswa aktivis selalu mendapat pengekangan dari kehidupan pribadi mereka. Disetiap moment kebersamaan dengan keluarga pasti adanya omongan yang menanyakan "kapan selasainya nak" inilah yang menjadi beban setiap mahasiswa aktivis namun tampak upaya menyelesaikan study tidak dilupakan.
Beban sosial akan membenturkan kepercayaan keluarga dengan anaknya, disetiap saat orang-orang disekitar mereka akan menanyakan hal yang tidak asing lagi di dengar, karena beban sosial inilah keluarga selalu berprasangka buruk terhadap anaknya. Secara manusiawi normal pemikiran demikian.

Lihat juga : Krisis Hakekat Mahasiswa Bisa Menjadi Pengiriman Bingkisan Dalaman Wanita

Dalam keseharian pun pertanyaan-pertanyaan yang disisipkan oleh warga sekitar seakan menjadi kebutuhan primer. Hati nurani berkata kapan kau akan turun dari langit wahai seruan merdu. " MERDEKA "

Mahasiswa aktivis campur apatis, berkoar-koar ketika di jalan, takut dosen ketika di kampus, nah, yang begini ini adalah mahasiswa yang selalu menjilat ludahnya sendiri, kejadian di lapangan tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam hati mereka, kehidupan seakan di peralat untuk memuaskan Egosentris mereka, realita yang terpampang di dalam kehidupan mereka di tutupi ketika dalam keadaan apatis.

Lihat juga : Pengertian, Sejarah dan Pengaruh Common Enemy untuk Mahasiswa Kontemporer

Ketakutan selalu meredam jiwa analisis saya ketika mahasiswa seperti ini nantinya akan menjadi seorang pemimpin, karna realita yang terjadi pelanggaran tertinggi disetiap masalah negara adalah orang-orang terpelajar yang sudah mengenyam pendidikan tinggi dalam syarat-syarat pemerintahan.

Penulis: Eka Dwi Putra
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar