Krisis Hakekat Mahasiswa Bisa Menjadi Pengiriman Bingkisan Dalaman Wanita

Krisis Hakekat Mahasiswa Bisa Menjadi Pengiriman Bingkisan Dalaman Wanita

Manado : Krisis Hakekat Mahasiswa Bisa Menjadi Penyebab Pengiriman Bingkisan Penuh Dalaman Wanita Kembali

Selasa 4 september 2018. Hujan datang tepat jarum jam mengararah pada angka 12.09 dengan rintikan yang mendatangkan basah dengan durasi lambat pada tanah lingkungan kampus kering pembahasan kritis seorang insan akademis/mahasiswa kampus yang tunduk asyik bercengkarama manja dengan produk modern pada detik negara membutuhkan Sumber Daya Manusia(SDM)penuh ide, gagasan dan konsep yang matang.

Krisis Hakekat Mahasiswa


Dalam tuntutan negara yang krisis pelopor gagasan briliant, tentu mengharapkan para insan akademis bukan ikut kering seperti tanah kampus yang hanya basah jika pertolongan hujan, melainkan perngharapan insan akademis bisa membasahi dirinya sendiri dengan mencoba mengupas semua fenomena sosial kenegaraan dengan logika kritis.

Lihat juga : Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Dalam Pusaran Modernisme

Hari ini saya berlindung dari rintikan pada suatu lokal yang dikenal dengan sebutan Kantin Kampus bukan karena tidak ada tempat berlindung lain, namun saya memilih tempat ini sebab berharap mendapatkan sekelompok mahasiswa yang kiat membahas persoalan lain dari pada rutinitas berbicara dan mengeluh tuntutan kampus seperti tugas, jam kuliah, dosen killer terlebih saya penikmat kopi hitam, sehingga mendorong melangkah memberontak mencari kopi di tempat ini.

Nasib naas menimpah saya karena berharap lebih pada 'Insan akademis game' saya sebut demikian karena realita berkata demikian dalam kantin tempat saya menyurup kopi hitam. Karena yang terjadi sekelompok insan akademis yang saya temui hanya sibuk dengan 'Game Mobile Legends' yang lagi trend dikalangan pemuda saat ini. Sungguh menyayat hati pyang penuh harapan seperti niatan negara dalm meningkatkan kualaitas kaum milenial.

Saya cukup bahagia atau goresan luka saya sedikit terobati karena ada seorang anak muda yang berorganisasi ekstra sama dengan saya datang menghampiri berdiskusi hakikat seorang mahasiswa, dinamika sosial area kampus hingga sosial kultural manado.

Melihat situasi seperti dikantin ini. Saya teringat sebuah cerita ketika masih aktif berkelana mencari ilmu pada senior-senior yang di anggap kompeten dalam kacamata saya kala itu, bahwa pada jaman perjuangan Reformasi 98 mahasiswa manado di undang turun kejalan menyuarakan aspirasi namun enggan menggubris undangan itu. Sampai pada satu ketika mahasiswa manado pernah di kirim bingkisan dari jawa yang berisikan BH atau Kutang wanita yang menandakan menempelnya sifat banci pada mahasiswa manado.

Lihat juga : Telaah Singkat Eksistensi Mahasiswa Dalam Politik Indonesia

Mulai saat itu saya tidak mau dicap sebagai mahasiswa banci, segala upaya menutup stempel itu saya usahakan. Saya berharap kejadian serupa tidak terulang di era kita ini. Namun terkadang muncul sifat pesimis dalam jiwa akibat dari pengalaman melihat rutinitas sebagian besar mahasiswa yang semakin apatis, pragmatis dan hedonis.

Tentu masih ada secercah sebagian kelompok insan intelektual yang dapat kita gantungkan pengharapan atas niat menghindari peristiwa memalukan seperti di tahun 98 itu. Dan upaya ini diharapkan semua ikut sadar dan andil mempersiapkan kualitas bukan sekedar pemapang ijazah.

Salam Dunia Hitam Manis

Penulis: Awin Buton
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar