Pengertian, Sejarah dan Pengaruh Common Enemy untuk Mahasiswa Kontemporer

Pengertian, Sejarah dan Pengaruh Common Enemy untuk Mahasiswa Kontemporer

Common Enemy dalam transliterasi Indonesia artinya Musuh Bersama, musuh bersama sering menjadi pemacu kesadaran universal mulai dari zaman perjuangan kemerdekaan terdapat sebuah kelompok yang dijadikan musuh bersama yaitu 'Penjajah' yang mengakibatkan lahirnya pemahaman satu untuk mengusir penjajah keluar dari bumi nusantara.

Tidak sedikit sebagian Mahasiswa yang berupaya begitu panjang menghadirkan pemahaman, mengkampanyekan common enemy dalam upaya membentuk semangat perjuangan kolektif hingga sampai pada pelosok-pelosok negeri dan alhasil dapat memerdekakan bangsa Indonesia dari pandangan dunia lewat jalur perlawanan fisik dan diplomasi.

Lihat juga : Gerakan Mahasiswa dan Pemuda Dalam Pusaran Modernisme

Memasuki era kepemimpinan Presiden Ir. Soekarno yang mengalami ketidak-stabilan negara di tahun 1965-1966 para pejuang muda yang tergolong dalam mahasiswa pada saat itu menemukan suatu dampak kebijakan yang tidak sejalan dengan aspirasi setiap masyarakat, kemudian dari itu muncullah pemahaman musuh bersama dan melahirkan gerakan perjuangan-perjuangan yang salah satunya kita kenal dengan nama Peristiwa Malari dan berimbas lengsernya Presiden Soekarno sekaligus berakhir rezim orde lama.

Common Enemy berikut bagi Mahasiswa berada di tahun 1996-1998 dimana mahasiswa mulai gerah dengan sistem pemerintahan bercorak diktator yang digambarkan dengan begitu banyaknya kesenjangan dalam bernegara, praktek Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang begitu bergeliat ditambah Krisis Moneter (KRISMON) menuntut mahasiswa menempatkan rezim orde baru sebagai dasar gerakan turun kejalan melawan ketidak-benaran dalam praktek pemerintahan yang tidak pro-rakyat kala itu.

Terbukti bahwa di era diatas mahasiswa begitu menjiwai peran sebagai agen of cange dan agen of control dengan tampilan begitu kritis dan militan, tentu semua membutuhkan pedoman perjuangan dengan kecerdasan yang begitu radikal dan amunisi yang disiapkan dari perolehan literasi dan narasi yang begitu masif. secara keseluruhan lingkungan juga ikut dalam pembentukan karakter kritis, mulai dari faktor internal dan eksternal yang diolah menjadi budaya hingga sekarang.

Dalam realitas kontemporer begitu penuh kerisihan memandang dinamika yang terbilang semu, mahasiswa kontemporer begitu terkesan mundur dari hakikat agen yang ditempelkan padanya. masa mungkin berubah namun budaya demikian seharusnya tidak ditinggalkan. kepekaan menganalisis lingkungan meskilah selalu dihadirkan pada setiap jiwa hingga merespon begitu banyak persoalan sosial kenegaraan yang begitu banyak.

Setiap orang tidaklah bisa menjamin bahwa di abad 21 sekarang tidak adanya indikasi musuh bersama, banyak yang terlintas meskipun dengan wajah yang berbedah namun sayangnya tidak dilihat secara kritis oleh sebagian mahasiswa, kita bisa membuat sebuah contoh kecil musuh bersama kita dizaman sekarang misalnya Modernitas, kenapa harus modernitas? karena modernitas mengakibatkan timbulnya sikap keapatisan, pragmatisme, hedonisme dalam tubuh sebagian mahasiswa. secara normal kita tidak bisa menghindari arus modernitas sebab sudah mejadi bagian dari proses perkembangan zaman. tetapi kita bisa membuat suatu penyusuaian atas dasar memahami fungsi hadirnya suatu teknologi.

Lihat juga : Telaah Singkat Eksistensi Mahasiswa Dalam Politik Indonesia

Kalaupun kita gambarkan pada skala Common Enemy yang lebih besar di zaman sekarang adalah pemerintah yang tidak selaras janji politik dengan implementasinya. Pada beberapa hari-hari terakhir terdapat dinamika menyedikan dengan upaya mengucilkan asas negara demokrasi dengan pelarangan-pelarangan dengan dalil pembenaran setiap butiran hukum kepentingan ditambah merosotnya nilai tukar rupiah Indonesia dimata uang dunia yang sampai sekarang bertahan di Rp.14. 262 dan diprediksi naik sampai pada Rp. 15.000 akhir pekan ini.

Upaya menguraikan Common Enemy diatas bukanlah mengajak mencari setiap kesalahan tanpa dasar namun harus diikuti dengan analisis kritis oleh mahasiswa. Terlebih uraian ini upaya menghadirkan pemahaman bahwa sikap kritis mahasiswa bukan hanya asas adanya Common Enemy ataupun bukan sikap menunggu dengan berpangku kaki yang ditonjolkan, namun dengan kepekaan keikhlasan mengoreksi sebuah kesalahan dalam proses bernegara pada negeri tercinta kita Indonesia ini.

 Salam Dunia Hitam Manis

Penulis : Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar