Asal Usul Kata Alay dan Narsis Serta Penjelasannya

Asal Usul Kata Alay dan Narsis Serta Penjelasannya

Manusia kata 'Sartre' membentuk esensinya sendiri dengan kata lain manusia selalu berupaya melakukan sesuatu keinginan melalui tingkah laku sehari-hari tanpa dia sadari telah membentuk esensinya.

Pembentukan esensi manusia bisa melalui ciri khas manapun dari sudut pandangan berpikirnya atau tingkah lakunya, salah satu yang paling dominan saat ini adalah eksistensi manusia didunia maya maupun nyata yang secara tidak langsung membentuk esensinya sebagai individu.

Lihat juga : Foto Selfie yang Unik dan Langkah itu Saat Terjadi Gerhana Matahari

Eksistensi manusia modern saat ini, jika kita tarik agak kebelakang lebel yang pernah rame dibicarakan dan ditempelkan pada sebagian tingkahlaku orang yang dinilai berlebihan dalam dunia maya maupun nyata misalnya. Narsis dan Alay dua kategori yang ditinjau bermasalah dari pandang sebagian orang karena membentuk esensi individu buruk.

Sebagian orang tentu merasa bangga ketika menampilkan sesuatu yang berlebihan 'narsis' meskipun yang ditampilkan bukan dirinya dan terkesan pencitraan karena atas dasar ingin di akui eksistensi dirinya.

Kata narsis sendiri di adopsi dari mitologi yunani. Dalam mitologi yunani terdapat seorang yang bernama 'Narcissus' yang sepanjang hidupnya sangat mencintai dirinya melebihi apapun selain dirinya seorang.

Saking mencintai dirinya melebihi apapun dikisahkan bahwa Narcissus mati tenggelam ketika berusaha meraih sosok rupawan yang muncul dari dalam danau yang tidak lain adalah pantulan dari dirinya sendiri.

Maka bagi pandangan sebagian orang cara melebih lebih sesuatu dalam kapasitas diri berdampak negatif karena akhirnya seseorang bukan hidup dalam dunia nyata namun hidup dalam dunia angan-angan yang secara psikis dapat terganggu sebab telah merasa nyaman atas apa yang dilakukan.

Kata Alay sendiri merupakan singkatan dari (anak layangan) fenomena tingkah laku remaja dan sering dilihat dari kacamata kebanyakan orang adalah merupakan life style yang dinilai tindakan kampungan, norak dan katro

Dilain sisi alay dinilai berlebihan 'lebay' pada gaya dan berupaya selalu menarik perhatian, kategori anak alay yang terbilang minoritas tampak dalam gaya berpakaian dan bahasanya, kebiasan mencampurkan huruf besar dan kecil ketika menulis atau banyaknya singkatan yang muncul ketika berbicara terlebih dengan intonasi suaras dan ekho yang berlebihan.

Alayers 'panggilan para alay' juga selalu tampil dengan gaya dan warna pakaian mencolok dan tingkat kebisingan yang tinggi jika memodifikasi kendaraan, tentu jelas begitu berbanding jauh dengan gaya kehidupan mayoritas.

Lihat juga : Foto Selfie Jari Bertinta Dominasi Jejaring Sosial

Secara psikologi menurut Sigmend Freud pendiri aliran Psikoanalisis dalam ilmu Psikologi mengatakan fase kehidupan keremajaan yang seperti diatas akan tetap berdampak pada psikis karena terbilang pada usia dimana pembentukan krakter positif seharusnya lebih dikedepankan, walaupun tidak semua negatif akhirnya, namun membutuhkan dorongan kuat secara personal untuk berubah ke arah positif.

Tentu semuanya memiliki hak untuk demikian namun dampak yang terjadi dikemudian hari menjadi upaya untuk dipikirkan dan direnungkan sedalam-dalamnya. Semoga bermanfaat 'PISS'✌

Salam Dunia Hitam Manis

Penulis : Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar