Politics is Art : Seni Membuat Masyarakat Bahagia

Politics is Art : Seni Membuat Masyarakat Bahagia

Beberapa detik yang lalu saya membaca kembali postingan dalam Blog ini mengenai 'Insomnia menyerang, menulis saja sampai pagi' sebuah kalimat yang mendorong ketika tak bertemu kantuk di malam menjelang pagi.

Di dalam keheningan malam dengan mata terbuka lebar akibat insomnia melanda, saya teringat sebuah ungkapan menarik dalam literatur politik. Mahasiswa Ilmu pemerintahan dan Ilmu Politik tentu tidak asing dengan sebutan Politics is art atau politik itu seni yang bermaksud semua orang bisa berpolitik tanpa pernah mengunya yang namanya power poin dosen ilmu politik. Tentulah tidak salah sebab fakta sekarang membuktikan demikian.

Sekarang mari kita lihat dari sudut yang lebih jauh dari sekedar semua orang bisa berpolitik maka disebut Politik itu seni. Karena bagi saya secara praktik semua bisa namun ada seni politik lain dalam teori-teori politik yang harus kita goresi dalam pemahaman bahwa seni politik yang membuat orang senyum bahagia melalui wawasan teori politik kita.

Bahagia yang dimaksud adalah memakai kelebihan menerjemahkan bahasa politik untuk kepentingan kesejateraan orang banyak, terlebih saya melihat seni demikian yang dalam dunia politik sekarang, mulai terkikis pada tatanan perpolitikan negara.

Akibatnya masyarakat mulai kehilangan kepercayaan atas politisi yang dari background apapun karena sebab tingkah laku pelaku politik yang melupakan seni membuat masyarakat senyum bahagia tanpa melucu sebagai pelawak.

Saya sering mengeluarkan ungkapan dalam diskusi yang terbilang pesimis namun kritis "Jika anda mengaku politisi ulung namun belum bisa membuat satu desa tersenyum bahagia? Maka tertawalah sebab anda gagal sebagai politisi." Ungkapan ini saya ucap karena sebagian yang mengaku mengenyam pendidikan tinggi tapi tidak bisa merubah pola kerja politik yang asasnya kepentingan pribadi pada realita saat ini.

Mungkin sebagian orang akan berkata anda kira gampang merubah pola main di lapangan? Saya setuju itu tidak gampang. Tidak gampangnya karena anda mengkonsumsi teori politik sebatas menghafal ketika menyusun tugas, proposal, skripsi maupun tesis dan desertasi anda tanpa implementasi dalam kerja anda di lapangan karena tekanan yang memaksa anda mengkebiri ilmu dan rakyat.

Tentu tidaklah mudah menghilangkan goresan buruk yang telah terukir pada lembaran sejarah perpolitikan kita saat ini. Namun ingat. Setiap tahun ada ribuan penulis lembaran politik baru yang dihasilkan perguruan tinggi negeri hingga swasta. Catatlah lembaran baru yang masih putih itu dengan ukiran senyum bahagia pada masyarakat.

Janganlah pesimis untuk merubah stigma buruk politik dalam realita pada zaman sekarang, penuhi kata generasi baru dengan tidak memakai pemahaman generasi lama.

Salam kopi hitam

Penulis: Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar