Pendaki Gunung yang Beretika

Pendaki Gunung yang Beretika

Saya ingin menulis ini buat kita semua yang sering mendaki gunung termasuk juga para pemula yang mulai senang mendaki gunung karena pendaki adalah orang-orang mengagumi dan mensyukuri ciptaan Tuhan dengan cara bermesraan dengan alam. Maka, dengan jiwa cinta kita lakukan melalui tindakan beretika di alam.

Saya juga senang mendaki, nyaman di alam bersama suara-suara jangkrik dalam hembusan udara segar yang merasuki sela-sela kulit. Membuat pikiran bahagia, tenang dan waktu yang tepat dalam berkontemplasi akan kekurangan dalam kelebihan jiwa raga ini.

Etika lingkungan hidup merupakan suatu tindak yang mencerminkan rasa cinta terhadap alam. Tindakan yang benar-benar menunjukkan bahwa kita adalah pendaki, kita adalah pecinta alam dan kita adalah penjaga kelestarian alam. Bukan sebuah tindakan yang menganggu alam, membuat gaduh ekosistem bahkan merusak alam dalam skala besar.

Hakekat pendaki gunung bukan hanya trend semata, pendaki gunung bukan hanya berhura-hura tapi di balik semua itu pendaki gunung adalah orang-orang yang menyatu dengan alam.

Beretikalah ! jangan membuang sampah sembarangan ketika berada di jalur pendakian, sediakan kantong sampah dalam perlengkapan masing-masing. Apalagi sampah anorganik yang dibuang, sampai kita tua pun sampah itu belum tentu habis terurai. Berhentilah membuat tulisan ukiran di pohon-pohon menggunakan pisau karena kita hanya menjadi pengganggu sikul hidup pohon tersebut.

Sampah Puntung Rokok

Puntung rokok, sampah kecil yang dapat berakibat besar. Pernahkan anda mendengar hutan terbakar akibat puntung rokok ?

Sampah yang satu ini menjadi objek fokus saya sejak dulu, banyak sekali teman-teman pendaki saya ketika itu yang masih saja membuang puntung rokok sembarangan meskipun sudah sering diingatkan. Oleh karena itu, puntung rokok menjadi pembahasan yang sangat penting.

Berhentilah mabuk-mabukan ketika di puncak gunung, sebagai penghangat menurut saya boleh saja. Asalkan jangan sampai mabuk sebab berpotensi menimbulkan kekacauan.

Jangan mengambil tumbuhan yang dilarang karena dilindungi, misalnya bunga abadi (Javanese edelweiss) atau kantong semar ( Nepenthes).

Budayakan membawa kantong sampah per orang setiap melakukan pendakian agar masing-masing fokus pada sampahnya sendiri.

Pada suatu momen ulang tahun organisasi kampus ketika menjadi mahasiswa calon S1, saya melakukan kegiatan dengan tema "Bersih-bersih Puncak ", gunung yang menjadi tujuan waktu itu adalah Gn. Klabat dengan ketinggian kurang lebih 2010 m dpl yang juga termasuk gunung tertinggi di Sulawesi Utara.

Dengan jumlah mahasiswa sekitar 100 orang kita masing-masing membawa kantong sampah berukuran besar dan mulai melakukan pengumpulan sampah dari puncak sepanjang jalur pendakian dengan radius kanan dan kiri yang relatif sejauh mata memandang jika melihat sampah sampai di kaki gunung dan kemudian membuangnya ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) sampah.

Kesadaran dibangun atas dasar kepedulian terhadap alam dan semua itu semakin terjadi ketika kita sering melakukannya. Maka, terbiasalah dengan etika lingkungan hidup ketika berada di alam terutama saat mendaki gunung.

"Kesadaran terbukti dengan tindakan kepedulian, jika kita tidak perduli maka sama saja belum menyadari dan mencintai alam"
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar