Murabi atau Guru Saya yang Kontroversi

Murabi atau Guru Saya yang Kontroversi

Semua orang punya kebiasan yang dibuat khas khusus bagi dirinya, demikian dengan saya yang sering membuat sebuah tulisan berbau kritik, analisis dan ide, konsep. Dalam gaya tampilan tulisan dan warna yang berbedah dan tentu semua bisa saya pertanggungjawabkan dengan alasan-alasan logis.

Dibawah ini adalah kumpulan kata-kata saya beberapa hari belakangan yang tanpa sengaja menghasilkan sebuah rasa penasaran dengan balutan pertanyaan, sebagai berikut:

1. ( Kata murabi atau guru saya. HmI itu dominan dalam gerakan literasi,narasi, ideologi, filsafat umum yang membentuk gerakan intelektual kolektif. HmI tak bisa diukur kehebatannya semata karena berhasil menyelegarakan event program saja.

HmI harus bisa memproyeksikan masa depan pribadi dan umat lewat peruncingan logika, ketajaman analisis dan representasi objek dengan Argumentasi.

Semua itu didapatkan sebab hasil mengkonsumsi semua buku-buku diperpustakaan nononline mupun online.)

2. ( Kata murabi atau guru saya dia pernah mendengar teori Bonus Demografi. Yang berpendapat kita, indonesia. akan di pimpin oleh kaum milenials, karena kelebihan tenaga muda. Berbanding terbalik dengan negara maju lain yang kelebihan tenaga tua.

Namun itu yang menjadi pertanyaan dan tantangan bagi kita, mampukah kita bersaing merealisisasikan teori itu. dengan aktivitas kita yang tak bermutu ini??

teori ini masih bersifat fiksi. Semua akan terjawab lewat usaha kaum muda )

3. ( Kata murabi atau guru saya. Seandainya cewek cari keromantisan, cowok harus memiliki ketampanan. Seandainya cewek cari ketampanan, cowok harus cari kemapanan. Jika cewek cari kemapanan maka cowok harus punya keimanan )

4. (Kata murabi atau guru saya. Keajaiban membaca pergerakan lawan adalah dengan cara anda harus juga bergerak kecil maupun besar.

Anda tak bisa membaca kekuatan lawan secara kongkrit dengan monitor dari kantor semata.

Anda mungkin bisa namun kemungkinan meleset sangat besar. Maka pernyataannya anda takkan bisa dikatakan pejuang pergerakan.)

5. ( Kata murabi atau guru saya. Berangkat dari ideologi yang kuat, Politik yang sosial dapat memanfaatkan pertempuran untuk mengakhiri peperangan dan penggunaan kekuatan untuk memenangkan suatu pertempuran.

Demikian kajian ideopolitor-setratak HmI )

Kumpulan tulisan 1-5 diatas adalah kumpulan status saya yang di share dalam Story Watsap masih banyak lagi namun tidak sempat disimpan tulisannya. Fenomena dibalik status diatas banyak dari teman-teman kebetulan bertanya. Murabinya siapa? Nama gurunya siapa?

Kata murabi atau gurulah yang menjadi objek pertanyaan sebagian orang yang pernah melihat story saya, namun tidak sempat dijawab bahwa siapa murabi saya dan namanya siapa. Bukan karena tak mau membagikan orang yang bisa menjadi tempat belajar bagi teman-teman. Tetapi bagi saya hal ini bukanlah sesuatu yang wajib saya jawab walaupun saya bisa karena akan tampak kesan angkuh dalam diri saya. namun semakin lama sebagian terlihat sangat penasaran dan memaksa untuk saya jawab.

Oke. Sekarang saya jawab dalam tulisan ini yang saya tulis dengan mata sayup akibat kemesraan insomnia, Kalau teman-teman lebih jeli sedikit, teman-teman bisa melihat dalam kondisi saya yang dari segi ekonomi atau kemapanan financial yang tidak stabil. Tidaklah mungkin saya menyewa seorang guru atau murabi yang tiap hari berkata motivasi kepada saya. Teman-teman mungkin bisa berkata jangan sampai senior atau teman diskusi? Anda salah besar jika berpikir demikian. Mungkin saya memang terlihat rutin berdiskusi. Tapi saya biasa menyebut nama jika ada perkataan senior maupun teman diskusi yang menarik untuk dijadikan status apapun.

Dalam kata murabi atau guru itu, Saya berupaya menghargai akal pikiran saya dengan memberi label murabi atau guru pada kelebihan pemberian Tuhan satu-satunya pada manusia, sekaligus membedakan kita dengan mahluk ciptaan lainnya. Menghargai akal pikiran yang sering kita pakai untuk berpikir menganalisis dan merefleksikan segala pengetahuan empiris, rasional dan intuitif kita.

Mari mulailah mengasah hingga runcing akal pikiran kita tampung ilmu sebanyak-banyaknya sehingga kita tidak selamanya menjadi pendengar setia pemikiran orang, dengan demikan kita bisa mengkonsep gagasan lewat ide hasil berpikir akal sendiri namun tidak juga mengkerdilkan pemikiran orang lain.

Semoga terjawabkan

Penulis: Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar