Berbahaya Ketika Kritik Dianggap Absurd (Konyol)

Berbahaya Ketika Kritik Dianggap Absurd (Konyol)

Malam ini tepat jam 9.18 WITA saya mencoba memainkan kata dengan usaha mengungkap rasa dalam hati, mengenai sebuah problem yang sering tersalur namun tak digubris lebih.

Dalam tulisan ini saya mengekspresikannya dengan cara abstraksi hanya orang-orang tentulah yang dapat memahami. terlepas dari kenyataan itu tentulah memilik makna positif yang dapat di petik dan menjadi sandaran dalam kehidupan.

Bukan sering terucap kita berbedah maka tidak perlu di persamakan namun saling melengkapi, entah kenapa semua mulai aneh jika dipandang. Aku dan kau, kita di percaya bisa bersenergi dalam kritikan melahirkan ide, gagasan, konsep namun kenapa berbua hindari dan condong anti kritik.
.
Kau pernah menuai rasa susah berbalut pengalaman kesunyian yang mengakibatkan kita saadar betapa pentingnya menukarkan informasi dan membarterkan konsep dalam kemajuan. Kita pernah menangis dalam dinamika kita juga pernah meratapi kesalahan tapi kenapa kau pupuk bibit kesalahan itu, apakah pengalaman dulu kau tak belajar dari itu.

Sekarang semua butuh keterbukaan aku kita bukanlah musuh bukanlah virus yang mestinya di hindari ataupun kanker yang menggorogoti dan harus diangkat di buang. Semua butuh formula kau butuh solusi kita butuh konklusi dalam berbagai aspek persoalan, apakah tak kau sadari kita kalah selangkag dari tetangga.

Mengetahui musuh adalah metode terbaik menyelesaikan problem, kenapa tertutup seakan kita tak pernah berkomitmen untuk bersinergi Kembalilah menyadari sebab semua butuh perhatian, dengan kesadaran membaca realitas kita bisa menghitung peluang dan mengkaji solusi dan bisa memproyeksikan kepentingan kita kedepan.

Jika telah kau sadari jangan membuang waktu dengan mengakui kelalaian, akuilah dengan tindakan perubahan dari berbagai aspek yang mulai memudar. Batang tubuh dengan berbagai fungsinya kehilangan metode, kehilangan pemahaman dan termanjakan menyebabkan terlepasnya kata mandiri yang diharapkan.

Empat sayap kita terluka dan membutuhkan pengobatan intensif, bulu-bulu kita lemah hingga menggugur karena akibat fungsi tubuh lain tak bekerja, rutinitas pada bulu juga dalam memahami tak tersedia. Kita punya alumni yang pernah menghidupkan fungsi badan pada jamannya dan mengepakkan sayapnya dengan indah meninggi melawan udara di jaman kalah itu. kenapa tak belajar darinya

Terlebih kita juga punya para pion berpengalaman terbang yang tak di ragukan lagi, namun kita lupa dan terkesan meninggalkan, jika di sadari demikianlah sebagian dari investasi diluar tubuh kita. Kepala burung berisi otak, otak yang memerintahkan fungsi secara otomatis lewat prosedur biologis lewat kepala itu proses berpikir dengan dialektika bisa membangun dinamika pemahaman kerja.

Pada lain sisi jika kepala itu lemah, buntuh dan terkesan personal maka harapan terakhir kepala itu harus di kritik biar bereaksi dengan sensor emosinya, namun jika kepala itu anti kritik dan bermuka masam maka tamatlah cerita kita.

Jangan digubris terlalu serius tapi pahamilah hingga Infrastruktur yang kita bangun tak lebih dari bangunan tak berdasar. Hehe

Salam Kopi Hitam

Penulis : Awin Buton
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar