Dua Budaya Dalam Satu Cinta (Hal 1)

Dua Budaya Dalam Satu Cinta (Hal 1)

Pagi itu dengan sedikit cuaca mendung yang dingin, berjalan sorang pria muda, berkulit terang dengan kameja warna cokelat yang nampak sedikit kusut terlihat dari lipatannya, Juan berjalan dari arah parkiran motor menuju ruangan kerjanya. Diwaktu yang bersamaan terlihat seorang gadis dengan wajah asing tepat duduk di meja piket.

" Siapa ya ?" Juan berjalan sambil melirik dan terus melangkah ke ruang kerjanya.

Juan adalah seorang pemuda perantauan yang berasal dari Timur Indonesia, tepatnya Ternate, Maluku Utara. Kuliah di Manado, Sulawesi Utara hingga selesai dan bekerja, membuat Juan menjadi sosok yang mampu menyatu dengan kultur setempat.

Bukan tidak kembali dan bekerja di daerah asalnya tapi jiwa Nasionalisme Juan mampu membuat dia bekerja dimana saja, Bagi Juan sendiri, keberadaannya di Manado juga masih dalam tahap menimbah ilmu dunia kerja yang nantinya dapat diimplementasikan ke daerahnya suatu saat nanti. Bekerja di salah satu instansi pemerintah sekitar 4 tahun lamanya membuat Juan cukup memilik pengelaman terkait dunia kerjanya tersebut.

Ternyata gadis di meja piket tadi adalah Mira, pegawai baru yang berasal dari Jawa Tengah, kemudian di tempat tugaskan di kantor yang sama dengan Juan. Bedanya Juan hanya tenaga honorer sedang Mira adalah pegawai tetap.

Hari pertama Mira berada di kantor untuk melapor dan mulai bekerja, keberadaan di hari pertama menjadi bahan yang ramai diperbincangkan oleh pegawai-pegawai lainnya. Saling berkenalan mulai dilakukan, Juan hanya cuek sambil menunggu moment yang tepat untuk bersalaman ketika yang lain sudah selesai. Itulah salah satu kebiasaan Juan, pandai menjaga suasana dan imagenya agar tidak terlihat pria yang gampangan.

Mereka pun mulai berkenalan, tegur sapa, hingga benih suka mulai bermunculan di mata mereka. Juan dengan senyum menawannya dan Mira dengan tatapan cueknya. Dua anak manusia yang berbeda latar belakang budaya, Mira dari Indonesia bagian Barat dan Juan dari Indonesia bagian Timur, bertemu di Indoensia bagian Tengah (Manado) dalam satu cinta bersama kisah mereka.

Lanjut baca halaman 2 : Kesibukan Bukan Alasan Untuk Tidak Berkomunikasi
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar