Diskusi Santai Tolak-Ukur Memilih Pemimpin, Jokowi atau Prabowo?

Diskusi Santai Tolak-Ukur Memilih Pemimpin, Jokowi atau Prabowo?

Beberapa hari lalu ketika saya berada ditempat kopi dekat Universitas Sam Ratulangi Manado nama tempatnya. Cafe The Mukaruma tepat di kelurahan Kleak. Mungkin sebagian teman-teman pembaca sudah pernah berkunjung kesitu.

Seingat saya ketika sedang asyik meneguk kopi hitam yang di temani sebatang rokok yang sedang menyalah, ada seorang mahasiwa Unsrat yang kebetulan juga berkunjung di Cafe The Mukaruma, saya kenal dia karena kami bersama dari Kab. Kep. Sula (Sanana). Ia menyapa dan meminta izin duduk di depan saya.

Sontak dia bertanya. Sedang apa bang? Sendirian saja? Iya sendiri, sedang nongkrong saja. Jawab saya.

Kemudian kembali dia bertanya, Bang pemimpin itu harusnya seperti apa? Sontak saya kaget, dalam hati saya kenapa tiba-tiba pertanyaan jadi serius ya? Emangnya kenapa sampai tanya demikian? Tanya saya. Dia kembali bertanya memang jokowi bukan sosok pemimpin ya? Waduuh makin laju ni. Hehe

Tuggu! Pesan kopi buat kamu dulu. Biar lebih mantap diskusinya. Diapun berdiri dengan terburu-buru. Dalam hatinya mungkin berkata, udah kepancing abangnya ini. Makanya dia buru-buru. Diapun kembali dengan segelas kopi panas yang dia hantarkan sendiri ke mejanya, saya makin yakin bahwa dia juga tak sabaran mendengar tanggapan saya.

Jadi begini, bukan bermaksud menggurui. Semua orang itu pemimpin dalam pandangan agama yang dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 30. Namun berbicara mengenai pemimpin negara semua orang punya kriteria masing-masing untuk mengatakan bahwa si A adalah pemimpin.

Lihat juga : Analisa 2 Nama CAWAPRES Sandiaga Uno dan Ma'ruf Amin Pada PILPRES 2019

Berbicara mengenai Pak Jokowi secara prosedural menjadi pemimpin negara beliau sudah terbukti, tetapi mungkin dalam menjalankan amanah seorang pemimpin dari tahun 2014 lalu yang dituntut oleh 400 ribu jiwa masyarakat indonesia masih belum terlihat sehingga yang anda lihat pada media nasional adalah sebagian orang menyuarakan ketidakpuasannya pada Jokowi dengan memperlancar kritikan. Itu hal wajar dalam negara demokrasi.

Tetapi jangan mengeneralisir bahwa dalam masa Jabatannya Pak Jokowi gagal berupaya menjadi pemimpin dalam kaca mata rakyat indonesia, sebab dibalik orang yang memusuhinya banyak juga yang mendukung dan dibalik yang mengkritik beliau banyak juga diantara peserta kritik yang mengharapkan Pak Jokowi lebih baik jika terpilih nanti.

Jadi abang memilih Pak Jokowi? Tanya dia kembali. Belum juga masuk waktu pencoblosan masa saya sudah harus memilih kan belum cukup tolak ukurnya!.

Berarti abang pilih Prabowo ? Bukan itu poin pentingnya. Jawab saya. Jadi maksudnya bagaimana bang? Sautnya!

Ketika saya dan anda menyatakan memilih Pak Jokowi atau Pak Prabowo diwaktu sekarang yang terbilang kecepatan ini. Seandainya kita kader partai PDIP atau Gerindra atau Partai gabungan Koalisinya yang sudah memilih tanpa pikir panjang. Maka saya wajib jawab sekarang.

Poin pentingnya adalah ketika saya dan anda yang memiliki posisi diluar keterikatan partai politik manapun kita mestilah memiliki tolak ukur memilih pemimpin misalnya: track record, Visi-Misi berbasis kemajuan, Program-Program yang pro rakyat. Bukan hanya faktor emosional semata.

Kita haruslah memiliki klasifikasi dalam menentukan pilihan kita, jangan memilih dengan ketidaksandaran ataupun mengaungkan pilihan namum tak memiliki alasan kenapa memilih. Kita harus menjadi pemilih cerdas karena suara kita yang menentukan kesejahteraan kita lima tahun kedepan.

Contoh pemimpin itu harus punya ide, gagasan, konsep. Kaya literasi, narasi semua itu bisa terlihat lewat pidato-pidato dalam fenomena panggung kampanyenya. Jadi jangan buru-buru memilih.

Oow.. jadi begitu bang? Iya. Jadinya anda mau memilih siapa? Tanya saya.

Pilih abang aja. Candanya, sambil tertawa terbahak-bahak.

Oke. Abang menuju pemilihan legislatif tahun 2019, dapil Wailau Garis keras. Hehe. Sambung saya dengan nada bercanda

Pertemuan yang tak terduga yang menghasilkan secercah pengharapan menuju negara maju lewat penentuan politik Pilpre 2019, yang diraut bersama segelas kopi hitam semoga pemimpin yang terpilih seperti kopi hitam yang semuanya memuji walaupun dia hitam kepahitan.

Salam kopi hitam

Penulis: Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar