Bukan Politik Diam

Bukan Politik Diam

Beberapa hari kemarin saya menonton sebuah acara televisi tentang dialog seputar politik nasional. Salah seseorang pembicara membahas tentang politik diam yang dijalankan, yaitu tidak membahasa tuduhan dan prasangka buruk orang lain, politik diam lebih fokus pada langkah-langkah membangun bangsa dan negara ketimbang membalas ocehan dan tuduhan orang lain.

Bukan Politik Diam


Begitu jeda iklan dari tayangan acara tersebut, saya terdiam beberapa detik dan berpikir " bagaimana orang dapat berpolitik jika hanya diam ?".

Menurut saya secara kosakata tidak tepat atau biasa teman jurnalis saya katakan kalimatnya kurang seksi. Saya pahami bahwa narasi-narasi politik memang memiki seni tersendiri dalam memakai kalimat. Namin, seni dalam beretorika atau penggunanaan kata juga harus relevan dengan kalangan umum, nilai seninya dapat dan nilai bahasa yang seksinya dapat.

Kata seksi ini istilah yang sering saya dengar dari seorang teman wartawan online dalam menulis berita. Kata-kata yang seksi menggambarkan suatu daya tarik yang dapat membuat banyak orang menyukai kalimat tersebut.

Saya mencoba untuk manarik benang merah antara politik diam dan keseksian sebuah kata tapi sulit. Kata diam secara umum berarti tidak bergerak. Makhkuk hidul dalam hal ini manusia hanya diam ketika telah meninggal atau benda fisik (anorganik)

Orang yang sedang tidur tidak dalam keadaan diam, dia melakukan proses pernapasan (gerak) dan dapat berbicara saat mimpi. Jika politik diam dihubungkan dengan suara atah berbicara ! untuk apa anda berpolitik jika anda tidak berbicara. Padahal pada kenyataanya anda berpolitik.

Muncul dipikiran saya saat ini untuk kata yang pas adalah " Politik Santun ". Arti kata Santun dalam KBBI yaitu halus dan baik, (budi bahasa dan tingkahlakunya). Politik Santun mencerminkan sebuah karakter politik yang lahir dengan tutur bahasa dan tingkahlaku yang baik. Jadi jangan diam dalam berpolitik sebab orang diam tidak dapat berpolitik. Santunlah berpolitik, maka hubungan silaturahmi dan persaudaraan tetap utuh dalan pergolakan politik.
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar