Bukan Mainan, Biarlah Hampa Tanpa Berada

Bukan Mainan, Biarlah Hampa Tanpa Berada

Pancaroba mengalir deras dalam darah, pikiran memanas oleh rasa yang menggila. Ingin ku buang karakter sampah ini tapi sayang bukan dia yang layak disalahkan.

Hari-hari mencengkram, raga menyesuaikan dan DIA tetap tersenyum. Ya ! senyuman sebab marah itu hanya buat kami, kata mereka terdahulu.

Tekanan ini halusinasi peradaban, niat tulus bersama tantang, apakah harus berkedok kemunafikan agar mencapai kemaslahatan ? Tidak ! biarlah aku sirna dalam kehampaan.

Jika kami hanya diberi tujuan, kenapa juga dititipkan nafsu yang kemudian diuji secara frontal. Jika itu tontonan menarik maka biarlah kami menjadi wayang yang sebenar-benarnya.

Bumi dan dunia menjadi saksi, ilmu langit masih menjadi fiksi yang termanja oleh kelompok terdahulu. Jika diberi pilihan maka hilang lebih baik setelah keberadaan. Jika diberi kehendak maka hapus saja keberadaan aku tak butuh dari awal proses itu.

Jangan salahkan jika hewan berbicara, jangan salahkan jika setan tertawa dan jangan salahkan jika malaikat berlari sebab aku bisa menjadi sangat buas.

Awal dan akhir telah usai, jangan menjadi hakim, tak perlu menjadi pecinta, jangan juga menjadi pelindung jika kami sudah dalamnya.

Jika pesimis dan optimis dipanjang, maka hancurkan saja, toh keadilaan juga relatif. Biarlah kejahatan dan kebaikan bermain hingga alam kebingungan dan semua akan hilang dalam kemajemukan rasa, raga dan jiwa.

Ini hanya mengalir sebab aku tak pandai membuat apalagi mencipta omong kosong. Jika aku lupa tak perlu diingatkan, dengan begitu aku menjadi hidup seutuhnya dalam kehendak.
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar