Skip to main content

follow us

Sejarah Hegemoni dan Hegemoni Kekuasaan Antonio Gramsci

Istilah hegemoni berasal dari bahasa Yunani Kuno, ‘eugemonia’. Konsep hegemoni banyak digunakan oleh sosiolog untuk menjelaskan fenomena terjadinya usaha untuk mempertahankan kekuasaan oleh pihak penguasa. Penguasa disini memiliki arti luas, tidak hanya terbatas pada penguasa negara (pemerintah) saja. Hegemoni dapat didefinisikan sebagai dominasi oleh satu kelompok terhadap kelompok lainnya, dengan atau tanpa ancaman kekerasan, sehingga ide-ide yang didiktekan oleh kelompok dominan terhadap kelompok yang didominasi dapat diterima sebagai sesuatu yang wajar (common sense).

Gagasan tentang hegemoni pertama kali diperkenalkan pada tahun 1885 oleh para Marxis Rusia, terutama oleh Plekhanov pada tahun 1883-1984. Gagasan tersebut telah dikembangkan sebagai bagian dari strategi untuk menggulingkan Tsarisme. Istilah “tsarisme” menunjukkan kepemimpinan hegemoni yang harus dibentuk oleh kaum proletar dan wakil-wakil politiknya, dan dalam suatu aliansi dengan kelompok-kelompok lain, termasuk beberapa kritikus borjuis, petani dan intelektual yang berusaha mengakhiri negara Tsaris.

Agar kaum buruh dapat menciptakan hegemoninya, Gramsci memberikan 2 cara, yaitu melalui

1.war of position(perang posisi) 

Perang posisi dilakukan dengan cara memperoleh dukungan melalui propaganda media massa, membangun aliansi strategis dengan barisan sakit hati dan pendidikan pembebasan melalui sekolah-sekolah yang meningkatkan kesadaran diri dan sosial. Tujuan dari perang posisi adalah mencapai hegemoni bagi kaum proletar dalam masyarakat sipil sebelum terjadi perebutan kekuasaan negara oleh partai komunis dan lainnya

2. war of movement(perang pergerakan)

Perang pergerakan yaitu perang dalam suatu masyarakat dengan berbagai institusi dan organisasi yang memiliki tingkat perkembangan rendah di dalam ”masyarakat sipil” di negara Eropa Timur (terutama di Inggris dan Prancis).

Karakteristik dari Perang Pergerakan antara lain:

Perjuangan panjang mengutamakan perjuangan dalam sistem dan diarahkan kepada dominasi budaya dan Ideologi perang pergerakan dilakukan dengan serangan langsung (frontal), tentunya dengan dukungan massa, dan perang pergerakan bisa dilakukan setelah perang posisi dilakukan, namun bisa juga tidak.

Gramsci mengeluarkan argumen bahwa kegagalan kaum buruh dalam melakukan revolusi disebabkan oleh ideologi, nilai, kesadaran diri dan organisasi kaum buruh yang tenggelam oleh hegemoni kaum penguasa (borjuis). Hegemoni ini terjadi atau dibentuk melalui media massa, sekolah-sekolah, bahkan melalui khotbah atau dakwah kaum religius, yang melakukan indoktrinasi sehingga menimbulkan kesadaran baru bagi kaum buruh.

Akibatnya, daripada melakukan revolusi, mereka (kaum buruh) malah berpikir untuk meningkatkan statusnya ke kelas menengah, mampu mengikuti budaya populer, dan meniru perilaku atau gaya hidup kelas borjuis. Ini semua tidak lain hanyalah ilusi yang diciptakan kaum penguasa agar kaum yang didominasi kehilangan ideologi serta jati dirinya sebagai manusia merdeka.

Konsep hegemoni dikemukakan oleh Gramsci. Ia menggunakan atau memakai konsep hegemoni untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana masyarakat kapitalis modern diorganisasikan pada masa lalu dan masa kini. Terdapat semacam kebingungan disini tentang konsep-konsep yang dilibatkan, karena Gramsci tampaknya terlebih dahulu membedakan konsep negara dengan masyarakat sipil.

Negara didefinisikan sebagai sumber kekuasaan koersif dalam suatu masyarakat, sementara masyarakat sipil didefinisikan sebagai lokasi kepemimpinan hegemoni. Gramsci kemudian menghubungkan kedua konsep ini untuk mendefinisikan apa yang dia sebut sebagai ‘negara integral’ sebagai kombinasi hegemoni yang dilengkapi dengan kekuasaan koersif.

Artikel Terkait:

Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar