Mengolah Pikiran Kritis dalam Lingkungan Kampus

Mengolah Pikiran Kritis dalam Lingkungan Kampus

Semua punya gaya menyeimbangkan arus modernisasi, demikian kami juga punya hal serupa untuk mengimbanginya, sebab untuk melawan arus modernisasi yang mengikis tingkah laku sosial, sungguhlah tak begitu efisien sebagai solusi terbaik, ibarat melawan berarti kita harus siap menanggalkan aksesoris teknologi dan menyisihkan diri dari konteks sosial saat ini yang hidup serba produk modern.

Semua dimensi penghambat harus bisa di siasati oleh mahasiswa yang disebut kaum terpelajar, kaum intelektual yang memiliki kewajiban mengawal dinamika masyarakat dan pemerintahan.

Lingkungan kampus harus bisa menjadi tempat mengolah simbol yang berbungkus fenomena sosial dan tempat dimana di temukan pola pikir konstruktif sebagai tahapan menghadirkan pemikiran kritis sehingga bisa mengkonsepkan gagasan yang terus bersesuaian dengan perkembangan sosial kultural.

Pemikiran kritis dalam ruang lingkup kampus harus bisa di jaga, sebab negara butuh gagasan segat, konsep segar bukan memeliara gagasan lama dan membenarkan konsep lama meskipun beresiko gagal.

Dari kaca mata filosofis kampus tempat lahirnya seorang pemikir yang original lewat metode-metode pembelajaran formal hingga nonformal dari sudut pandang kualitas mahasiswa wajib mampu meraih semua tuntutan demikian.

Dalam menangkap pembelajaran nonformal mahasiswa harus bisa terbuka dalam menerima semua instrumen-instrumen pengetahuan yang ada, entah itu bersifat pemahaman kiri ataupun kanan. Sebab logika butuh metode perbandingan (komparasi) dua hal yang berbedah, metode ini jika di tinggalkan akan lahir kesimpulan yang rentan di patahkan atau kesalahan berpikir (Fallacy) dalam aktifitas penalaran seseorang.

Dinamika ini yang juga disebut kemandulan mengolah objek dan akan lahir generasi yang membenarkan sesuatu karena kesepakatan mayoritas ini akan berbanding terbalik dengan ekspektasi sebagai kaum intelektual kritis yang digadang bisa membongkar sesuatu secara radikal, sistematis dan universal.

Salam literasi

Penulis: Awin Buton
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar