Kakak Harus Kuat Jangan Sedih Meski Pedih

Kakak Harus Kuat Jangan Sedih Meski Pedih

Kak, Ku kira Kau lebih tahu. Tak perlu Ku ajari bagaimana yang terbaik untuk kuat tegar. Saat ini tampak nuranimu sakit. Pun dua bola mata, sudah Ku duga menyimpan sebening mata air yang sewaktu-waktu membasahi wajah. Sungguh itu sangat berat. Tetapi meski begitu, engkau harus mengetahui bahwa; Adikmu telah mendengar mulut curhat yang tunduk keluh dengan ketidakmampuan menghadapi belenggu-belenggu itu. Kak, dengar. Dalam bayang-bayang; menataplah dulu ini Adikmu, Doaku janganlah engkau menyedih meski itu pedih.

Kak, sungguh, ku lihat lelahmu tak sesekali. Tetapi ingat, janganlah engkau terbaring. semua ini harus kuat-tegar dan yakinlah bahwa Tuhanmu ada. Tuhan pasti tahu dimana Ia memberikan ujian kepada kita, adalah yang kelak terbatas disangguppi umat-Nya. Kak, meski itu adalah cobaan yang berat, angkat wajahmu, harus ihklas hadapi semua itu! Jika engkau tegar, halaskan sajaddah-Nya lalu tegap lurus bagaikan huruf alif, merukuk, sujud, dan ber-Doa. ku yakin, meski tak terhingga kuasa-Nya, Tuhan akan memeluk dengan penuh cinta-Nya.

Kak, jikalau semua beban dapat tertukar, saat ini pulah Aku angkuh. Karena yang Ku fikir kita telah terlahir dari satu rahim yang tak beda. Rahim itu, tentu rahim Ibu yang sembilan bulan mengandung dan melahirkan kita. Sudah barang tentu jika itu sakit, kegilaan dan kegalakkan batin seorang Adik lelaki saat bernustalgia tak satupun bisa membendungnya. Sebab, prinsip sedarah ; satu sakit, semua sedarah pasti turut merasa sakitpulah. Tenang sajalah Kak, selain berdoa, otak menjadi pemikir untuk berhadap-hadapan dengan biangnya.

Kak, hmm..., harus siap! Keladinya belum terpukul full, waspada. Jika batin Kakak sudah terlatih meski dengan tertatih-tatih, pasti kedepan apapun takdir yang Tuhan berikan tidak kaget menghadapinya. Bahkan separah-parahnya lemah, takkan terhiraukan di hatinya kakak. Dan, cuek saja, jangan lagi bertanya tentang cinta tulus dan kasih sayang itu. Karena setulus-tulusnya cinta yang tulus, adalah kepada-Nya dari Pemilik ketulusan cinta dan kasih sayang. Kak, tapi tunggu dulu, kalaupun sekeras-keras batu yang telah mengeras di hati, sesedikitlah melunak dan luangkan kesempatan waktu untuk menunggu. Menunggu bukan berarti Kakak mengira memberikan waktu untuk membebaskan serta mengangkat derajatnya. Karena sepintar dan seego-egonya manusia, waktu yang nanti diberikan Kakak itulah tentu menguburkanya. Sekira Kakak dapat memahami Isyaratnya.

Kak, kamu harus kuat, buat apa harus lemah dengan perlakuan tak nyaman. Apa tak lagi harus sedih, janganlah Kak, Agar tak terkesan seperti; kitalah yang bodoh dan apakah dianyalah yang pintar? Kan tidak mesti seperti itu, haruslah kuat. Sejatinya Kak, jadikan tiga serupa di sampingmu itu adalah buah hati terindah yang kelak besar nanti berguna bagi Keluarga, Nusa bangsa, Negara dan Agama. Tidak hanya itu saja, Belum lagi di sekeliling hidupmu ada keluarga dari sebelah Ayah dan Ibu. Mereka tak akan membiarkan begitu saja. Jangan khawatir. Kak, menangis apa lagi, semenjak usia kecil kita, kan cobaan hidup sudah melatih keras untuk tidak manja meski sakit. Sehingga dari pada itu Kak, jadikanlah pengalaman adalah guru besar dalam hidup dan Doa ialah munajat cinta yang selemah-lemahnya manusia.

Kak. yang terakhir, harus tersenyum riang, meski pahit syukuri kehendaknya. Semogah saja hikma dan mendapat hidayah-Nya, Kakak.

Oleh : Tri P.S. Saleh

Lihat tulisan Tri P.S. Saleh :

Penulis Polos “Wan-wan” dan Menyinggung Tanda Baca

Paham Dosa...! Tapi Pilihan Harus "Sukses"

Lelaki Buta dan Kerudung Bijak Berhati Malaikat

Oh Tuhan...! Hasrat Birahi dan Bulan Suci

Hujan dan Surat Kepada Tenaga Pengumpul Data (TPD)

Baca juga:

Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar