Tidak Sepaham Itu Biasa Tapi Hati Harus Tetap Damai

Tidak Sepaham Itu Biasa Tapi Hati Harus Tetap Damai

Sebijak-bijaknya manusia yaitu dapat memilah mana urusan kelompok dan mana hubungan persaudaraan, pertemanan dan persahabatan” Ato Basahona.

Tidak Sepaham Itu Biasa Tapi Hati Harus Tetap Damai – Arah perjalanan kehidupan tidak selamanya bergerak sesuai dengan keinginan atau harapan kita begitu juga sebaliknya tak sering buruk seperti yang kita bayangkan sebab itu sebuah kesempurnaan hidup yang Tuhan anugerahkan pada manusia.

Manusia menyadari akan hal itu, namun tetap saja luput dari tindakan dalam bentuk kesadaran maka intropeksi diri menjadi benang merah yang wajib ditonjolkan guna memberikan rangsakan kesadaran siring mengarah pada pemahaman.

Manusia-manusia yang beragama semua mengklaim menyembah Tuhan sebagai bukti rasa cinta dan sayang kepada-Nya. Pertanyaan yang patut dilontarkan yaitu mengapa kita menyatakan cinta dan sayang kepada Sang Pencipta jika kita masih cenderung membanci, menghakimi, mencela atau menghujat ciptaan-Nya dalam konteks kemanusiaan ?

Ibarat anda membuat suatu meja yang indah dengan sebaik-baiknya, rasa yang lahir pada jiwa anda adalah kepuasan dan kesenangan lalu tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dan merusak meja tersebut, apa yang anda rasakan ?

Kita mencintai Tuhan dalam bentuk ketaatan lalu kita masih sering membenci ciptaan-Nya, apakah Tuhan menginginkan hal itu ? jelas jawabannya pasti tidak !

Pasti ada yang akan mengatakan : Tapi kita sebagai manusia yang tidak luput dari kekhilafan pasti akan mengalami hal itu (membenci) ! ya, benar tapi bentuk pada kebencian itu mengarah pada sifat dan tingkahlaku individu bukan pada suatu keutuhan manusia. Dengan begitu maka walaupun kita tidak sepaham itu merupakan hal yang biasa tapi hati kita akan tetap damai terhadap sesama dan bentuk kepedulian sebagai nilai-nilai sosial manusia yaitu saling mengingatkan, saling memberi saran dan lain sebagainya agar terjadi perubahan pada sifat dan tingkahlaku yang kurang baik tersebut. Hal berbeda yang dapat terjadi ketika kita membenci sepenuhnya maka kemudian hadirlah sifat apatis, egois dan pastinya menjaga jarak saat bertemu.

Kebijaksanaan itu dilatih dalam kebiasaan tindakan hingga menjadi sebuah penyatuan dalam diri kita. Hal yang sering terjadi berdasarkan pengalaman penulis, permasalahan dalam kelompok tertentu baik organisasi kemahasiswaan, organisasi masa atau partai yang tendensinya lebih ke arah politik akan berimbas luas ke hubungan keluarga, pertemanan dan persahabat. Misalnya saat momentum pemilhan umum atau pilkada. Dalam suatu kelompok masyarakat yang berbeda figur yang dipilih dan perdebatan itu akan berdampak sampai pada renggangnya hubungan kekeluargaan.

Begitu juga halnya dengan sebuah organisasi, misalnya perbedaan pemahaman kadang berimbas juga pada hubungan silaturahmi serta kamunikasi individu, padahal seyognya kita harus lebih mampu menjadi lebih cerdas dan bijak dalam berorganisasi. Perbedaan persepsi, saling mengkritik, terjadi benturan kepentingan itu hal yang wajar dalam semua sisi kehidupan. Namun, sebagai manusia yang memiliki kemampuan kapasitas otak yang lebih dari makhluk lain kita juga harus mampu menjaga hati untuk selalu damai dalam perbedaan apapun.
Buka Komentar
Disqus
Blogger
Pilih Sistem Komentar

Tidak ada komentar