Kausalitas Hukum Pidana Yang wajib Kita Tau

Kausalitas Hukum Pidana - Semua warga negara dari yang termuda hingga yang tertua mempunyai alokasi hukum yang kompleks yang mengakar seputar hak, tanggung jawab, transaksi, standar, proses, prosedur, implikasi yang begitu juga sangat tidak sempurna untuk dimengerti, dan diserahkan kepada para ahli. di taraf yang begitu Fundamental, hukum yang mengikat membentuk peraturan masyarakat. Tujuan undang-undang ini merupakan untuk mempertahankan standar perilaku tertentu dalam penduduknya demi kepentingan umum. Tanpa undang undang itu, para warga Bisa jadi akan turun ke dalam sikap tidak beraturan.

Kausalitas Hukum Pidana

Tiap- tiap peristiwa pasti ada sebabnya tidak mungkin terjadi begitu aja, Bisa juga suatu peristiwa menimbulkan peristiwa yang lain. Disamping hal tersebut diatas Bisa juga terjadi satu peristiwa sebagai karena satu peristiwa atau beberapa peristiwa yang lain. Masalah sebab dan karena tersebut dengan nama causalitas, yang berasal dari Perkataan “causa”  yang artinya merupakan sebab.

Di dalam ilmu pengetahuan hukum pidana ajaran causalitas ini bertujuan untuk membagikan jawaban atas pertanyaan bilamanakah suatu perbuatan dipandang sebagai suatu sebab dan karena yang timbul atau dengan perkataan lain ajaran causalitas bertujuan untuk mencari hubungan sebab dan karena seberapah jauh karena tersebut ditentukan oleh sebab.

Seperti yang kita ketahui, bahwa ilmu pengetahuan hukum pidana mengenal beberapa jenis delik yang penting dalam ajaran causalitas merupakan perbedaan antara delik formal dan delik materiil. Delik formal merupakan delik yang telah dianggap penuh dengan dilakukannya suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan suatu hukuman. Sedangkan delik materiil merupakan delik yang telah dianggap selesai dengan ditimbulkannya karena yang dilarang dan diancam dengan hukuman dan undang-undang.

            Contoh-contoh delik formal dan materiil sebagai berikut:
      Delik formal
1.  Pasal 362 KUHP : Yang dilarang dalam perbuatan pencurian ini merupakan perbuatannya mengambil barang milik orang lain.
2.      Pasal 242 KUHP : Yang dilarang membagikan keterangan palsu dalam sumpah.
·       
       Delik materiil
1)     Pasal 338 KUHP : yang dilarang dalam delik ini merupakan menyebabkan matinya orang lain.
2)   Pasal 351 KUHP : yang dilarang dalam delik ini merupakan menimbulkan sakit atau luka di orang lain.
3)  Pasal 187 KUHP : yang dilarang dalam delik ini merupakan timbulnya kebakaran , peledakan banjir, sedangkan perbuatannya menimbulkan karena tersebut tidak menjadi soal.
Dalam Delik formal perbuatan itulah yang dilarang dan di delik materiil yang ditekankan merupakan karena dari perbuatan itu. Apabila ajaran kausalitas dihubungkan dengan delik formal sebagaimana telah diketahui karena suatu peristiwa tidak dinyatakan dengan tekad sebagai unsur dari suatu delik. Oleh Sebab itu, ajaran kausalitas  dalam hubungannya dengan delik formal tidak membagikan pengaruh yang tegas. Akan akan tetapi bila ajaran kausalitas ini dihubungkan dengan delik materiil, akan lain halnya Sebab yang ditekankan dalam delik ini merupakan karena dari perbuatanya, jadi ajaran kausalitas ini penting untuk delik materiil.
            Tiap-tiap karena di kenyataannya Bisa ditimbulkan oleh beberapa masalah, dan masalah satu dengan yang lainmerupakan suatu rangkaian sehingga karena tersebut tidak ditimbulkan dalam suatu perbuatan aja, bahkan oleh beberapa perbuatan yang merupakan rangkaian yang Bisa dipandang sebagai sebab dari timbulnya suatu karena.
Sumber:http://fitriahartina011.blogspot.com/2012/10/ajaran-kausalitas-dalam-hukum-pidana.html


Macam Ajaran Kausalitas
1. Teori Conditio Sine Qua Non
Teori dari Von Buri (ahli hukum Jerman), teori ini tidak membedakan mana faktor syarat yang mana faktor penyebab, segala sesuatu yang masih berkaitan dalam suatu peristiwa sehingga melahirkan suatu karena merupakan termasuk menjadi penyebabnya. Oleh Sebab itu, menurut teori ini, keensam faktor yang menjadi contoh, tidak ada yang merupakan menjadi syarat semuanya menjadi penyebab.. semua faktor dinilai sama pengaruhnya. Tanpa salah satu faktor tersebut, tidak akan terjadi karena menurut waktu, dan tempat keadaan senyatanya dalam peristiwa itu.
Dengan ajaran ini maka menjadi diperluasnya pertanggungan jawab dalam hukum pidana, hal ini Sebab orang yang perbuatannya dari sudut objektif hanya sekedar syarat aja dari timbulnya suatu karena, misalnya di contoh case diatas. Si pengemudi dinilai bertanggungjawab.
Kelemahan ajaran ini ialah tidak membedakan antara faktor syarat dan faktor penyebab, yang Bisa menimbulkan ketidakadilan.

di contoh diatas si pengemudi mobil dipertanggungjawabkan atas kematian bapak tadi, dipandang tidak adil, Sebab di dirinya tidak ada kesalahan (kesengajaan ataupun kealpaan) dalam hal terjadinya peristiwa tadi, dan artinya bertentangan dengan asas hukum pidana tiada pidana tanpa kesalahan.
Untuk mengatasi kelemahan teori ini maka Van Hammel menjalankan penyempurnaan dengan menambahkan ajaran mengenai kesalahan. Bahwa tidak semua orang yang perbuatannya menjadi salah satu faktor di antara rangkaian demikian faktor dalam suatu peristiwa yang melahirkan karena terlarang wajib bertanggungjawab atas timbulnya karena itu, melainkan apabila di diri si pembuat dalam mewujudkan tingkah lakunya itu terdapa unsur kesalahan bagus kesengajaan ataupun keaalpaan.

2. Teori yang Mengindivualisir
Teori yang dalam usahanya mencari faktor penyebab dari tiombulnya suatu karena dengan hanya melihat di faktor yang ada atau terdapa setelah perbuatan dilakukan, dengan Perkataan lain setelah peristiwa itu beserta akibatnya benar benar terjadi dengan cara konkret. Menurut teori ini setelah peristiwa terjadi maka di anatara demikian faktor yang terkait dalam peristiwa itu, tidak semuanya merupaka faktor penyebab. Faktor penyebab itu merupakan hanya beruipa faktor yang paling berperan atau paling dominan atau mempunya andil yang paling kuat terhadap timbulnya suatu karena, sedangkan faktor lain dianggap sebagai faktor syarat aja dan bukan faktor penyebab.
Menurut Birkmeyer tidak semua faktor yang tidak Bisa dihilangkan Bisa dinilai sebagai faktor penyebab, melainkan hanya terhadap faktor yang menurut kenyataannya setelah peristiwa itu terjadi dengan cara konkret merupakan merupakan faktor yang paling dominan atau paling kuat pengaruhnya terhadap timbulnya karena. Menurut pendapat ini di contoh diatas, faktor “Agresi penyakit” jantunglah yang paling dominan peranannya terhadap kematian itu.
Walaupun teori ini lebih bagus dari teori sebelumnya, namun terdapat juga kelemahannya berhubung ada dua kesulitan yaitu :
  1.  Dalam hal kriteria untuk menentukan faktor mana yang mempunyai pengaruh yang paling kuat
  2.  Dalam hal apabila faktor yang dinilai paling kuat itu lebih dari satu dan sama kuat pengaruhnya terhadap karena yang timbul.


3. Teori yang Menggenaralisir
Teori yang dalam mencari sebab dari rangkaian faktor yang berpengaruh atau berhubungan dengan timbulnya karena merupakan dengan melihat dan menilai difaktor mana yang dengan cara wajar dan menurut akal serta pengalaman di umumnya menimbulkan suatu karena. Jadi mencari penyebab dan menilainya tidak berdasarkan di faktor setelah peristiwa terjadi beserta akibatnya, akan tetapi di pengalaman di umumya menurut akal dan kewajaran manusia.

a. Teori Adequat Subjektif
Dipelopori oleh Von Kries yang menyatakan bahwa faktor penyebab merupakan faktor yang menurut kejadian normal merupakan adequat (sebanding) atau layak dengan karena yang timbul, yang faktor mana diketahui atau disadari oleh si pembuat sebagai adequat untuk menimbulkan karena. Jadi dalam teori ini faktor subjektif dan sikap batin sebelum si pembuat berbuat merupakan amat penting dalam menentukan adanya hubungan kausal.
di contoh diatas, maka pengendara mobil tidaklah Bisa dipersalahkan atas kematian bapak tadi, Sebab faktor menginjak rem yang menimbulkan suara slip tidak Bisa dibayangkan di umumnya adequat untuk menimbulkan kematian.

b. Teori Adequat Objektif
Teori ini dipelopori oleh Rumelin, di ajaran ini tidak memperlihatkan bagaimana sikap batin si pembuat sebelum berbuat, akan akan tetapi di faktor-faktor yang ada setelah peristiwa beserta akibatnya terjadi, yang Bisa dipikirkan dengan cara akal (objektif) faktor-faktor itu Bisa menimbulkan karena. mengenai bagaimana alam pikiran/sikap batin si pembuat sebelum ia berbuat tidaklah penting, melainkan bagaimana Hakikat objektif setelah peristiwa terjadi setelah akibatnya, apakah faktor tersebut menurut akal Bisa dipikirkan untuk menimbulkan karena.
Perbedaan antara teori adequat subjektif dan objektif yang dikemukakan oleh Prof Moeljatno, contohnya :
Seorang juru rawat telah dilarang oleh dokter untuk membagikan obat tertentu di seorang pasien, diberikan juga olehnya. Sebelum obat itu diberikan di si pasien, ada orang lain yang bermaksud membunuh si pasien dengan memasukkan racun di obat itu yang tidak diketahui oleh juru rawat. Sebab meminum obat yang telah dimasukkan racun, maka racu itu menimbulkan karena matinya pasien.
Menurut ajaran adequat subjektif Sebab juru rawat tidak Bisa membayangkan atau tidak mengetahui perihal diamsukkannya racun, maka perbuatan meminumkan obat di pasien bukanlah penyebab kematian pasien. Perbuatan meminumkan obat dengan kematian, tidak ada hubungan kausal.
Dipandang dari ajaran adequat objektif , Sebab perbuatan orang lain memasukkan racun ke dalam obat tadi menjadi pertimbangan dalam upaya mencari penyebab matinya, walaupun tidak diketahui oleh juru rawat, perbuatan juru rawat yang meminumkan obat yang mengandung racun merupakan adequat terhadap matinya, karenanya itu ada hubungan kausal dengan karena kematian pasien.

0 Response to "Kausalitas Hukum Pidana Yang wajib Kita Tau"

Post a Comment