Ato Basahona Share

follow us

Tinjauan mengenai Modal Sosial (Social Capital) serta Kaitannya dengan Ekonomi dan Pembangunan Yang wajib Kita Ketahui

Hal Fundamental dari materi Tinjauan mengenai Modal Sosial (Social Capital) serta Kaitannya dengan Ekonomi dan Pembangunan, bila setiap masyarakat negeri wajib mempunyai kemampuan pemahaman seputar pembahasan ekonomi, hal ini erat kaitannya dengan kemajuan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. wajib dicatat bahwa gaji lulusan ekonomi termasuk yang tertinggi dari disiplin apapun. Penelitian yang berbeda cenderung menemukan nilai gaji lulusan ekonomi cukup dibayar dengan bagus. Kemampuan ilmu ekonomi misalnya pengambilan keputusan: apa yang wajib dilakukan pemerintah untuk mengurangi defisit anggaran

Tinjauan mengenai Modal Sosial (Social Capital) serta Kaitannya dengan Ekonomi dan Pembangunan

Modal sosial (social capital) merupakan konsep yang multidisipliner. Berbagai penelitian, bagus dalam kajian sosiologi, kebudayaan, ataupun ekonomi, membagikan penekanan dengan cara khusus mengenai konsep modal sosial. Tulisan ini akan merangkum beberapa tinjauan mengenai modal sosial (social capital) dan kaitannya dengan ekonomi dan pembangunan.

Tinjauan mengenai Modal Sosial (Social Capital) dan Kaitannya dengan Ekonomi
Hingga saat ini belum ada kesepakatan tunggal yang mampu menggambarkan makna modal sosial. Setiap peneliti mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda atas pengertian yang Inheren di konsep tersebut. Dibawah ini terdapat beberapa pihak yang menyatakan pandangannya mengenai konsep dasar modal sosial (social capital).

Pierre Bourdieu.
Bourdieu, seorang sosiolog asal Perancis berpendapat bahwa konsep masyarakat (society) tidak hanya Bisa dilihat dari sudut pandang ekonomi semata, namun juga dari perspektif yang lebih luas.

Lebih lanjut menurut Bourdieu, social capital merupakan sumberdaya yang terdapat di individu ataupun kelompok masyarakat yang terhubung dalam suatu jaringan (network), yang terkait dalam relasi yang bersifat institusional ataupun non-institusional, dan saling menguntungkan satu sama lain.

Dalam bahasa yang lebih sederhana, modal sosial di dasarnya merupakan jalinan yang menghubungkan antara individu dan kelompok masyarakat, yang memberi dampak positif untuk masing-masing pihak.

Ditambahkan pula bahwa jalinan yang menghubungkan antara individu dan masyarakat tersebut bukanlah suatu yang muncul begitu aja (given), melainkan merupakan hasil interaksi dengan cara individual ataupun kolektif yang dilakukan bagus dengan cara sadar ataupun tidak sadar, sehingga menghasilkan relasi yang bersifat jangka pendek ataupun jangka panjang (Bourdieu, Pierre, The Forms of Capital, in John C. Richardson (ed), Handbook of Theory as well as Research for the Sociology of Education, p.241-258, 1986).

James Coleman.
Dari perspektif Coleman, social capital merupakan sumberdaya yang memberi dampak berupa kemampuan untuk individu-individu untuk bersikap dan berperilaku dalam kehidupan. Coleman menekankan kapasitas modal sosial sebagai kekuatan untuk menyelesaikan bermacam persoalan dalam masyarakat.

Ditekankan pula bahwa social capital muncul seiring dengan interaksi antar individu yang membentuk struktur atau pola yang menghubungkan individu-individu tersebut. Struktur atau pola itu mencakup norma yang tercipta dari interaksi, nilai dalam perilaku, pengetahuan, serta relasi antar individu (Coleman, James, Social Capital within the Creation of Human Capital, American Journal of Sociology, Vol. 94, 1988).


Robert Putnam.
Putnam menyatakan bahwa social capital merupakan wujud masyarakat yang terorganisir, bagus ditinjau dari jaringan kerja, norma, serta nilai kepercayan, yang berperan dalam kerjasama dan tindakan yang bermanfaat.

dengan cara khusus ia berpendapat bahwa lunturnya ikatan dalam keluarga dan masyarakat akan membawa dampak signifikan dalam kehidupan bersosial. Lebih jauh, lunturnya ikatan tersebut cenderung diakibatkan oleh semakin menurunnya nilai kepercayaan yang ada.

Selain itu, modal sosial terbentuk mulai dari level kecil hingga ke populasi yang lebih luas. Kekuatan modal sosial ini juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan ekonomi dan politik (Putnam, Robert D., Bowling Alone: The Collapse as well as Revival of American Community, 2001).

Francis Fukuyama.
Fukuyama menegaskan bahwa social capital merupakan syarat mutlak untuk terciptanya demokrasi yang stabil. Ia juga mengungkapkan bahwa modal sosial sangat berpengaruh di efisiensi dari fungsi perekonomian modern.

untuk Fukuyama, social capital merupakan norma-norma yang membentuk jalinan kerjasama antara dua atau lebih individu. Norma ini Bisa merupakan interaksi antar individu, bagus dalam bentuk yang sederhana seperti pertemanan, ataupun yang lebih kompleks seperti keyakinan yang hidup dalam masyarakat.

Norma ini hidup berlandaskan di kejujuran, komitmen, serta keterikatan satu sama lain, sehingga membentuk kerjasama dalam komunitas masyarakat. Lebih lanjut, Fukuyama menerjelaskan bahwa fungsi ekonomi dari social capital merupakan untuk mengurangi biaya transaksi (transaction costs), atau dengan Perkataan lain untuk melonjakkan efisiensi. Efisiensi ini Bisa bermanifestasi menjadi beragam bentuk, seperti dalam mekanisme kontrak kerjasama, hirarki organisasi, Anggaran birokrasi, dan lain-lain.

Oleh Sebab itu disimpulkan bahwa kekuatan modal sosial mampu menjadi perekat untuk perkembangan yang sehat untuk kehidupan ekonomi dan politik (Fukuyama, Francis, Social Capital as well as Civil Society, IMF Working Paper WP/00/74, 2000).

Neva R. Goodwin.
Sementara Goodwin dalam studinya menerjelaskan bahwa pembangunan jangka panjang membutuhkan peningkatan modal-modal dengan cara produktif, bagus berupa modal finansial (financial capital), modal alam (natural capital), modal fisik (produced capital), modal manusia (human capital), serta modal sosial (social capital). Modal-modal tersebut membagikan pengaruh di pola produksi, distribusi, dan konsumsi.

Social capital sendiri digambarkan sebagai kepercayaan, kesepahaman bersama, norma, serta pengetahuan yang mampu mendorong kegiatan dan koordinasi ekonomi. Social capital juga menjadi perekat untuk modal-modal lain dalam mengakselerasi proses ekonomi, sehingga mampu menghasilkan output sesuai dengan yang diharapkan.

Yang membedakan social capital dengan modal-modal yang lain merupakan, keempat modal yang lain digunakan dengan cara langsung dalam proses produksi, sehingga mengurangi jumlah, nilai, dan/atau kapasitas modal tersebut, sementara modal sosial tidak digunakan dengan cara langsung dalam produksi dan tidak menjalani penurunan manfaat (Goodwin, Neva R., 5 Kinds of Capital: Useful Concepts for Sustainable Development, G-DAE Working Paper No. 03-07, 2003).

The Organisation for Economic Co-operation as well as Development (OECD).
The Organisation for Economic Co-operation as well as Development (OECD) menegaskan bahwa social capital merupakan jaringan yang terbentuk dengan norma, nilai kepercayaan, dan rasa saling pengertian, yang menjadi dasar kerjasama suatu komunitas atau antar komunitas. Jaringan ini merupakan jembatan yang menghubungkan antara individu dalam suatu komunitas ataupun diantara komunitas (Organisation for Economic Co-operation as well as Development, The Well-being of Nations: The Role of Human as well as Social Capital, 2001).

Literatur lain mengenai social capital Bisa diperoleh di buku Social Capital: Theory as well as Research, by Ronald S Burt (ed), Karen Cook (ed), as well as Nan Lin (ed), 2001.

Sebagai Epilog, meskipun terdapat perdebatan dan perbedaan Sudut Pandang mengenai konsep modal sosial (social capital), namun demikian ada benang merah yang menghubungkan berbagai pendapat yang telah dirangkum diatas, yakni bahwa modal sosial memberi nilai dan kontribusi yang Bisa dimanfaatkan dalam perekonomian dan pembangunan.

You Might Also Like: