Teori Absoluut atau Mutlak Hukum Pidana Yang wajib Kita Baca

Tags

Teori Absoluut atau Mutlak Hukum Pidana - Semua warga negara bagus yang termuda hingga yang tertua tinggal dalam alokasi hukum yang kompleks yang mengakar seputar hak, tanggung jawab, transaksi, standar, proses, prosedur, implikasi yang sangat sering sangat tidak sempurna dipahami, dan diserahkan kepada para ahli. di taraf yang sangat mendasar, hukum yang mengikat membentuk peraturan masyarakat. Tujuan peraturan ini merupakan untuk menyamakan standar perilaku tertentu untuk penduduknya demi kepentingan umum. Tanpa undang undang itu, para warga kita akan terjerumus ke dalam sikap tidak beraturan.

Teori Absoluut atau Mutlak Hukum Pidana

Menurut teori-teori “absolute” ini setiap kejahatan diikuti dengan pidana, tidak boleh tidak, tanpa tawar-menawar. Seorang mendapat pidana, oleh Sebab telah menjalankan kejahatan. Tidak dilihat karena-karena apapun, yang mungkin timbul dari dijatuhkannya pidana. Tidak diperdulikan, apa dengan demikian masyarakat mungkin akan dirugikan. Hanya dilihat kemasa lampau, tidak dilihat masa depan.
         

 “ Hutang pati, nyaur pati, hutang lara, nyaur lara “ , yang berarti : si pembunuh wajib dibunuh, si penganiaya wajib dianiaya. Demikianlah semboyan terdengar di Indonesia. “ Oog o moog, tand om tand” (mata sama mata, gigi sama gigi) dari Kitab Injil “oude testament” bermakna sama.

Nada yang sama sekiranya terlihat juga dalam kitab Al’Quraan bagian An Nisaa ayat 93, yang berbunyi : “Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka jahanam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”.

“Pembalasan” (vergelding) oleh banyak orang dikemukakan sebagai alas an untuk mempidana suatu kejahatan. Kepuasan hatilah yang dikejar, lain tidak.

Apabila ada seorang oknum yang langsung tersambar dan menderita Sebab kejahatan itu, maka kepuasan hati ada di keluarga si korban khususnya, dan di masyarakat umumnya.

Dengan meluasnya kepuasan hati ini di sekumpulan orang, maka mudah juga meluasnya sasaran dari pembalasan di orang-orang lain dari di si penjahat, yaitu di para sanak keluarga atau kawan-kawan karibnya. Maka unsure pembalasan, meskipun Bisa dimengerti tidak selalu Bisa tepat menjadi ukutan untuk penetapan suatu pidana.

akan tetapi ternyata Perkataan “vergelding” atau pembalasan ini biasanya dipergunakan sebagai istilah untuk menunjukan dasar dari teori “absolute” mengenai Hukum Pidana (absolute straftrechstheorien).

Prof.Mr.J.M.van Bemmelen dalam buku karya bersama dengan Prof.Mr.W.F.C.van Hattum “Hand-en-Leerboek van het Nederlandsche Strafrecht” jilid II halaman 12 dan 13 mengemkakan unsut “naastenliefde” (Cinta di sama manusia) sebagai dasar adanya norma-norma yang dilanggar oleh para penjahat.
   
Menghargai sesama manusia diantaranya mencakup larangan mencuri, menipu, membunuh, menganiaya dan lain-lain sebagainya sebab jika ia saling menghargai manusia, ia tidak layak mencuri, menipu, membunuh, menganiaya. Dengan dasar ini maka kejahatan sudah selayaknya ditanggapi dengan suatu pidanam yang dilimpahkan kepada si penjahat. Tidak wajib dicari lain alas an. Jadi kini ada nada “absolute” atau mutlak pula.
Dikutip dari : Catatan ke-3 Asas-asas Hukum Pidana Di Indonesia, 
oleh : Prof.Dr.Wirjono Prodjodikoro SH


EmoticonEmoticon