Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment) Yang wajib Kita Tau

Hal Fundamental dari materi Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment), bahwa setiap warga negara wajib mempunyai kepahaman seputar pembahasan ekonomi, hal ini erat kaitannya dengan kemajuan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. Misalnya, karir paling populer yang Bisa dikejar kebanyakan dengan gelar ekonomi. Penelitian yang berbeda cenderung menemukan nilai gaji lulusan ekonomi cukup dibayar dengan bagus. Ini mengajarkan kita bagaimana Tips membuat pilihan, yang sangat penting dalam bisnis.

Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment)

Pengangguran merupakan salah satu indikator utama terkait aktivitas ekonomi suatu negara. Ketersediaan lapangan kerja serta pertambahan penduduk usia kerja merupakan faktor penentu besarnya tingkat pengangguran (unemployment rate). di artikel ini kita akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan masalah pengangguran.

Menyadari begitu kompleksnya masalah pengangguran, maka isu tersebut menjadi salah satu agenda penting dalam kampanye the Sustainable Development Goals (SDGs), terutama di tujuan ke delapan, yakni mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang terbuka dan berkesinambungan, serta melonjakkan tenaga kerja produktif dan pekerjaan yang layak.

Sesuai dengan standar internasional yang diadopsi oleh the International Labour Organization (ILO), definisi pengangguran (unemployment) merupakan apabila seseorang:
  • tidak mempunyai pekerjaan, dalam arti tidak berada dalam posisi memperoleh upah sebagai pekerja/karyawan badan usaha/perusahaan atau sebagai pekerja mandiri (self-employed) selama periode tertentu.
  • di saat ini dalam posisi siap untuk bekerja atau berprofesi sebagai pekerja mandiri.
  • sedang mencari pekerjaan, dalam arti sedang berupaya aktif untuk mendapatkan penghasilan sebagai pekerja/karyawan atau pekerja mandiri.
Definisi diatas tertuang dalam laporan the International Conferences of Labour Statisticians (ICLS) ke-19 di Geneva, Swiss di 2-11 Oktober 2013.

Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment)

Lebih lanjut, terdapat beberapa istilah yang menggambarkan jenis pengangguran, antara lain:
  • Frictional unemployment. Makna pengangguran friksional merujuk di masa transisi antara pekerjaan sebelumnya dengan pekerjaan saat ini. Dengan Perkataan lain, seseorang dikatakan dalam fase menganggur di saat menunggu mulainya pekerjaan baru.
  • Cyclical unemployment. Istilah pengangguran siklikal muncul saat kondisi ekonomi mendapatkan resesi, sehingga mengakibatkan diberhentikannya tenaga kerja (bagus dengan cara permanen ataupun sementara), atau dengan Perkataan lain terjadi pengurangan jumlah tenaga kerja di institusi kerja/perusahaan. Kondisi tersebut diyakini akan berangsur pulih kembali ketka situasi ekonomi mendapatkan perbaikan (recovery).
  • Voluntary unemployment. Pengangguran voluntary merupakan kondisi saat seseorang belum menemukan pekerjaan seperti yang diharapkan, sehingga memutuskan tidak bekerja untuk sementara waktu.
  • Structural unemployment. Pengertian pengangguran struktural tidak jauh berbeda dengan frictional unemployment, hanya aja berlangsung dalam periode waktu yang lebih lama. Hal ini Bisa digambarkan saat kemampuan, pengalaman kerja, dan latar belakang pendidikan yang dikuasai seseorang tidak sesuai dengan lowongan pekerjaan yang tersedia.
  • Institutional unemployment. Pengangguran institusional terjadi karena adanya intervensi di pasar tenaga kerja yang memicu timbulnya pengangguran, misalnya kebijakan pemerintah menaikkan tarif pajak atau harga bahan bakar minyak.

Selanjutnya, menurut catatan the International Monetary Fund (IMF), di 2015 pertumbuhan ekonomi global hanya berada disekitar 3.1% dan sedikit meningkat dikisaran 3.6% di 2016. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan mendapatkan penurunan hingga beberapa tahun berikutnya, mengingat belum pulihnya perekonomian global dari perlambatan yang terjadi (The International Monetary Fund, World Economic Outlook 2015).

Sementara angka pengangguran total di seluruh dunia tercatat berada di angka 197.1 juta jiwa di 2015, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencatatkan angka sebesar 196.4 juta. Angka ini diperkirakan mendapatkan peningkatan hingga 2.3 juta di 2016 dan 1.1 juta setahun setelah itu.

Persoalan lain dalam konteks pengangguran merupakan semakin maraknya perdagangan manusia (human trafficking) untuk dipekerjakan di sektor-sektor tertentu, serta fenomena pekerja anak (child labour). Kejadian tersebut selain melanggar hukum dan hak hidup individu, juga merusak masa depan anak-anak. Fenomena seperti ini banyak terjadi di kawasan Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tenggara. (International Labour Organization, World Employment Social Outlook: Trends 2016).

Disamping itu, fenomena angkatan kerja muda (youth labour-force), yakni mereka yang berusia antara 15-24 tahun dan baru memasuki pasar tenaga kerja (pekerja pemula), mencatatkan dinamika yang bervariasi di wilayah-wilayah tertentu.

Di kawasan Afrika misalnya, pertumbuhan angkatan kerja muda mendapatkan peningkatan dari sekitar 226 juta di 2015 menjadi 340 juta di 2016, dan diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai lebih dari 520 juta di 2030. Sementara di wilayah Asia, angka tenaga kerja muda justru diprediksi mendapatkan penurunan dari 718 juta di 2015 menjadi 711 juta di 2030 (The United Nations Department of Economic in addition to Social Affairs, Population Facts, Youth population trends in addition to sustainable development, May, 2015).

Faktor pendidikan dipercaya menjadi pemicu menurunnya angkatan kerja muda yang memasuki lapangan kerja. Dengan Perkataan lain, semakin besar kesempatan menempuh pendidikan di level yang lebih tinggi akan cenderung menunda seseorang untuk memasuki dunia kerja.

Sementara saat akan memasuki lapangan kerja, angkatan kerja muda biasanya menemui hambatan dan kegagalan, hal tersebut terjadi Sebab:
  • minimnya informasi, jaringan kerja, serta kesiapan dalam berkarir.
  • tidak memadainya keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja.
  • kurangnya pengalaman yang menjadi syarat yang diajukan oleh pasar tenaga kerja.
  • sedikitnya ketersediaan peluang kerja untuk calon pekerja pemula.

Adapun karena jangka panjang dari pengangguran di usia muda antara lain:
  • penurunan kemampuan potensial individu, sebab tidak di daya-gunakan dengan cara maksimal.
  • penurunan daya dukung untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya, sehingga berpotensi memicu persoalan lain, seperti kesehatan, kecukupan nutrisi bergizi, serta masalah kemiskinan.

Lebih lengkap mengenai persoalan seputar pengangguran Bisa dipelajari dalam salah satu referensi terkemuka, yakni Inflation, Unemployment, in addition to Monetary Policy, by Robert M. Solow, James B. Taylor, in addition to Benjamin M. Friedman, 1999.

Sedangkan upaya-upaya yang dilakukan untuk mempersempit gap antara peluang kerja dengan melimpahnya persediaan tenaga kerja, diantaranya:
  • menyediakan pelatihan khsusus diluar pendidikan formal, dengan demikian angkatan kerja muda mempunyai keterampilan praktis yang diperlukan di dunia kerja.
  • mengembangkan pendidikan jalur kejuruan (vocational education), yakni pendidikan formal yang dengan cara khusus mendalami keterampilan yang Bisa diaplikasikan dalam pekerjaan, seperti tata boga, otomotif, dan sebagainya. Pendekatan ini sekaligus mampu menumbuhkan semangat kewirausahaan (entrepreneurship).
  • mengembangkan metode apprenticeship atau tugas magang untuk para pelajar dari institusi pendidikan ke entitas usaha selama periode tertentu, supaya lebih mudah beradaptasi di saat memasuki dunia kerja.

Epilog, problem pengangguran sangat kompleks dan berkaitan erat dengan aspek-aspek yang lebih luas, seperti pendidikan, kesehatan, hingga masalah kemiskinan.

0 Response to "Seputar Masalah Pengangguran (Unemployment) Yang wajib Kita Tau"

Post a Comment