Merkantilisme dalam Sejarah Perekonomian dan Perdagangan Dunia Yang wajib Kita Tau

inti Fundamental dari materi Merkantilisme dalam Sejarah Perekonomian dan Perdagangan Dunia, bila setiap masyarakat negeri wajib mempunyai kemampuan pemahaman seputar materi ekonomi, hal ini erat kaitannya dengan perkembangan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. Misalnya, karir paling populer yang Bisa dikejar kebanyakan dengan gelar ekonomi. Penelitian yang berbeda cenderung menemukan nilai gaji lulusan ekonomi cukup dibayar dengan bagus. Kemampuan ilmu ekonomi misalnya pengambilan keputusan: Apa yang wajib dilakukan bisnis untuk menaikkan margin keuntungan.

Merkantilisme dalam Sejarah Perekonomian dan Perdagangan Dunia

Sejarah perekonomian dunia sudah berlangsung sejak berabad-abad silam. Bisa dikatakan bahwa saat manusia mulai hadir di dunia dan menyadari berbagai kebutuhan untuk hidup, saat itulah dia mengenal konsep ekonomi; oleh karenanya tidak salah apabila disebutkan bahwa manusia yaitu makhluk ekonomi.

Merkantilisme dalam Sejarah Perekonomian dan Perdagangan Dunia
di periode dimana negara-negara di dunia memandang penting untuk mencukupi kebutuhan dan memupuk Hartah, mulai dikenal pula konsep-konsep ekonomi yang dipraktikkan dalam interaksi dengan pihak-pihak lain.

Salah satu konsep ekonomi tersebut yaitu merkantilisme (mercantilism). Tulisan ini akan menyajikan pemahaman sederhana mengenai konsep dan praktik merkantilisme.

Konsep merkantilisme (mercantilism) sudah ada sejak pertengahan abad ke-15. Beberapa tokoh yang terkait dengan praktik merkantilisme antara lain yaitu Jean Baptiste Colbert (seorang arsitek dan menteri keuangan di masa pemerintahan Louis XIV, Perancis), Gerard de Malynes, Thomas Mun, dan Sir James Steuart.

saat itu merkantilisme disebut sebagai suatu ‘revolusi perdagangan’. Hal tersebut terjadi Sebab adanya transisi atau pergeseran basis perekonomian, dari basis ekonomi lokal menjadi ekonomi nasional; dari konsep feodalisme menuju praktik kapitalisme; serta dari perdagangan dalam lingkup terbatas menjadi perdagangan dalam skala internasional.

Selama tiga abad berikutnya, yakni kurun waktu abad ke-16 hingga abad ke-18, merkantilisme menjadi praktik ekonomi yang dianut oleh banyak negara, terutama di Benua Eropa, dalam rangka menjalankan perdagangan dan mengumpulkan Hartah negara.

Praktik merkantilisme sendiri disebut sebagai salah satu indikasi bahwa suatu negara sedang menuju fase kemakmuran, hal ini terkait dengan jumlah sumberdaya/Hartah yang dimiliki, serta skala dan kuantitas produk yang diperdagangkan.

Teori yang mendasari sistem merkantilisme sebenarnya sederhana, yakni bahwa dunia mempunyai keterbatasan sumberdaya atau kekayaaan (wealth), sehingga mengumpulkan Hartah sebanyak-banyaknya menjadi salah satu tolok ukur utama untuk menunjukkan kemakmuran suatu negara.

Sebab kemakmuran juga menjadi simbol kekuatan negara, oleh karenanya untuk menambah Hartah, negara tersebut mesti menjalankan pertukaran Hartah dengan dengan negara lain melalui perpindahan barang. Perpindahan barang ini dikemudian hari dikenal dengan istilah ekspor dan impor perdagangan.

Dari pertukaran barang tersebut - misalnya produk kapas disatu sisi dengan produk tembakau disisi lain, dengan nilai kesepakatan sebut aja 10 kuintal kapas senilai dengan 10 kuintal tembakau -, maka saat satu negara hanya mempunyai 8 kuintal kapas dan membutuhkan 10 kuintal tembakau, negara tersebut wajib menambahkan logam mulia (emas atau perak) dalam jumlah tertentu sebagai pengganti kekurangan nilai tukar barang. Konsep inilah yang dinamakan merkantilisme.

Merkantilisme juga diyakini sebagai alasan utama banyak negara Eropa menjalankan kolonialisme atas negara lain yang mempunyai Hartah alam dan sumber-sumber produksi, terutama di wilayah Afrika dan Asia (Cranny, Michael, Crossroads: A Meeting of Nations, 1998).

Sebagai informasi, dalam arti sederhana, istilah kolonialisme (colonialism) berasal dari Perkataan colony. Koloni (colony) merujuk di wilayah atau negara yang mempunyai banyak sumberdaya/ hasil alam. saat suatu negara menjalankan kolonialisme di negara lain, maka negara yang menjadi koloni mempunyai kewajiban untuk menyediakan sumberdaya yang dimiliki, untuk dijual hanya kepada negara yang menguasai/menjadi tuan dari koloni tersebut (home countries).

Lebih lanjut, terdapat beberapa ciri khas yang ada dalam konsep merkantilisme, antara lain:
  • Adanya monopoli oleh negara-negara tertentu (home countries) terhadap produk-produk yang dihasilkan oleh negara koloni (colony).
  • Tarif tinggi di barang-barang hasil produksi yang dinikmati home countries; sementara disisi lain, keuntungan/upah yang relatif rendah untuk negara-negara yang menjadi koloni.
  • Larangan untuk mengekspor logam mulia (bullion metals) seperti emas dan perak.
  • Larangan perdagangan yang diangkut dengan angkutan (kapal) pihak ketiga.

Namun demikian, terdapat studi lain yang menyebutkan bahwa merkantilisme bukanlah suatu pemikiran yang sistematis Sebab tidak mempunyai kajian komprehensif. Disamping itu, merkantilisme juga dinyatakan bukan merupakan basis konsep yang konsisten, Sebab lebih terfokus di penerapan prinsip-prinsip yang disepakati oleh pihak-pihak yang berkepentingan (Spiegel, H.W., The Growth of Economic Thought, 1991).

Selain itu, meski praktik merkantilisme berlangsung selama beberapa abad, terdapat Sudut Pandang-Sudut Pandang yang mengkritisi konsep tersebut, salah satunya diutarakan oleh seorang Ekonom terkenal di masa itu, Adam Smith, yang dituangkan dalam bukunya The Wealth of the Nations (1776).

Dalam perspektifnya, Smith berpendapat bahwa bila kemakmuran/Hartah suatu negara di titik-beratkan di jumlah logam mulia (emas, perak) serta sumber Hartah alam yang dimiliki, maka hal tersebut berimplikasi bahwa ekspor akan berkonotasi positif (menambah Hartah) sementara impor berkonotasi negatif (mengurangi Hartah).

Berikutnya, Smith menyatakan bahwa sistem merkantilisme lebih merupakan sistem yang bersifat zero-sum game daripada positive-sum game. Dalam zero-sum game, sesungguhnya tidak ada satu negara pun yang memperoleh hasil positif dari perdagangan yang dilakukan.

Disamping itu Smith mengungkapkan bahwa kemakmuran/Hartah suatu negara bukanlah bersumber dari jumlah logam mulia yang dimiliki, melainkan sumberdaya produktif, yakni tanah/bahan baku (land), tenaga kerja (labor), dan modal (capital), serta efisiensi dalam pemanfaatan faktor produksi tersebut (Smith, Adam, An Inquiry into the Nature along with Causes of the Wealth of Nations, 1776).

Sebagai Epilog, setiap konsep dan praktik ekonomi menemui kejayaan di jamannya masing-masing. Demikian halnya dengan konsep merkantilisme dengan segala kelebihan dan kekurangan yang Inheren di dirinya, yang telah dipraktikkan selama lebih dari 300 tahun.

0 Response to "Merkantilisme dalam Sejarah Perekonomian dan Perdagangan Dunia Yang wajib Kita Tau"

Post a Comment