Memahami Kasus Hiperinflasi di Perekonomian Modern Yang wajib Kita Baca

Tags

Pengetahuan mendasar dari materi Memahami Kasus Hiperinflasi di Perekonomian Modern, bila setiap warga negara wajib mempunyai kepahaman seputar materi ekonomi, hal ini dikarenakan dengan kemajuan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. wajib dicatat bahwa gaji lulusan ekonomi termasuk yang tertinggi dari disiplin apapun. Ekonomi mengajarkan bagaimana membuat keputusan yang tepat. Ini mengajarkan kita bagaimana Tutorial membuat pilihan, yang sangat penting dalam bisnis.

Memahami Kasus Hiperinflasi di Perekonomian Modern

Dalam kajian ekonomi, istilah inflasi merupakan salah satu yang umum ditemui. di praktiknya pun, inflasi selalu menjadi perhatian serius, bagus untuk otoritas fiskal ataupun moneter, mengingat angka inflasi merupakan salah satu petunjuk penting sejauh mana perekonomian suatu negara melaju.

Memahami Kasus Hiperinflasi di Perekonomian Modern
Namun demikian ada satu fenomena yang meskipun sangat jarang terjadi di dunia ekonomi modern, sangat layak untuk dijadikan pengetahuan mengenai bagaimana mengelola perekonomian negara.

Fenomena ini disebut dengan hiperinflasi (hyperinflation). di tulisan ini kita akan melihat salah satu contoh perekonomian negara yang menjalani hiperinflasi, yakni Zimbabwe.

Pertama-tama, kita akan melihat referensi mengenai pengertian inflasi. di prinsipnya, inflasi merupakan tingkat kenaikan rata-rata harga produk/barang untuk suatu periode tertentu. Adapun harga tersebut tercermin di indeks harga konsumen (consumer cost index) (Samuelson, P, in addition to William Nordhaus, Economics, 2002).

Lebih lanjut, terdapat beberapa penyebab atau sumber terjadinya inflasi, yang paling umum dikenali merupakan:
  • cost-push inflation, kondisi ini terjadi Sebab adanya kenaikan harga di saat pemanfaatan sumberdaya produksi tidak optimal, sehingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi, dan biasanya disertai dengan tingginya angka pengangguran.
  • demand-pull inflation, situasi demikian terjadi saat permintaan dengan cara agregat meningkat lebih cepat daripada potensi produksi ekonomi.

Berikutnya, Perkataan 'hyper', menurut oxford dictionaries Bisa diartikan sebagai sesuatu yang sangat besar atau diluar kondisi normal (www.oxforddictionaries.com).

Meski demikian, dalam konsep ekonomi, sejauh ini belum ada makna tunggal yang mendefinisikan istilah hiperinflasi. Oleh karenanya kita akan mengambil dua Sudut Pandang studi mengenai hiperinflasi.

Menurut Cagan, yang disebut hiperinflasi merupakan saat kenaikan harga rata-rata mencapai setidaknya angka 50% per bulan (Cagan, P, The Monetary Dynamics of Hyperinflation, 1956). Sedangkan Dornbush dan Fischer menyatakan bahwa hiperinflasi terjadi apabila angka inflasi dalam satu periode (tahun) melebihi angka 100% bila dibandingkan dengan periode sebelumnya (Dornbusch, R, in addition to Fischer, S, Macroeconomics, 1993).

Selanjutnya, tidak sedikit penelitian yang mencoba mencari tahu apa yang menyebabkan terjadinya hyperinflation. dengan cara garis besar terdapat beberapa kemungkinan, diantaranya:
  • kondisi politik dan ekonomi dalam negeri yang tidak stabil karena konflik bersenjata (perang) dan sebab lainnya.
  • pemerintah negara abai terhadap persoalan ekonomi domestik.
  • kesalahan strategi kebijakan makroekonomi.
  • tindakan perorangan atau kelompok penguasa yang terlalu memaksakan kehendaknya.

Dalam kasus yang dibahas di tulisan ini, pengertian hyperinflation telah memenuhi kriteria seperti yang dinyatakan oleh perspektif yang disebutkan diatas.

Untuk itu, sebagai pendahuluan kita akan mengenal dengan cara singkat sejarah negara Zimbabwe. Terletak di benua Afrika, tepatnya di wilayah timur Afrika, Zimbabwe mempunyai luas kawasan sekitar 390 ribu km2, dengan populasi penduduk kurang lebih 15.2 juta jiwa di 2014, dan angka GDP sebesar US$ 14.2 milliar di tahun yang sama. Berdasarkan data-data ekonomi, negara Zimbabwe termasuk dalam kategori low-income country (www.data.worldbank.org).

Tidak lama setelah negara Zimbabwe memperoleh kemerdekaan di 1980, dibawah kepemimpinan presiden Robert Mugabe, pemerintah setempat memperkenalkan mata uang Zimbabwe dollar (Z$) yang awalnya mempunyai nilai kurs sebesar 1.25/US$.

Persoalan mulai muncul di periode 1990’an, saat pemerintah negara tersebut mengampanyekan program redistribusi tanah (land redistribution), yakni dengan mengambil alih kepemilikan tanah yang sebelumnya dikuasai oleh masyarakat pendatang (umumnya petani dari Eropa), dan memberikannya kepada petani lokal.

Sebab masyarakat pribumi belum mempunyai kemampuan dan pengalaman dalam mengolah Tanah pertanian, maka banyak Tanah yang tidak membagikan hasil produksi dengan cara maksimal, bahkan sebagian diantaranya dalam keadaan menganggur (idle). Akibatnya, produksi pertanian merosot tajam. Penurunan produksi pertanian di gilirannya mengurangi persediaan produk di pasaran, sehingga mengerek harga komoditas pertanian. Bahkan menurut data yang ada, di periode 2002-2009, penurunan hasil pertanian mencapai 85.7% dari total GDP (Ellyne, M, in addition to Daly, M, Zimbabwe Monetary Policy 1998-2012: via Hyperinflation to Dollarization, 2016).

Catatan lain menyebutkan bahwa total output sektor pertanian Zimbabwe di 2000 kurang lebih sebesar 4.3 juta ton (setara dengan US$ 3.34 milliar), lalu merosot drastis menjadi 1.3 juta ton di 2009 (kurang lebih senilai US$ 1 milliar) (www.cato.org, The Cost of Zimbabwe's Continuing Farm Invasions, May 18, 2009).

Selain masalah land redistribution, ada isu lain yang ditengarai menyebabkan krisis ekonomi di Zimbabwe, yakni konflik keamanan dengan negara-negara dalam satu kawasan. Menurut penelitian, keterlibatan Zimbabwe dalam pertikaian dengan Congo memaksa pemerintah mengeluarkan dana tak kurang dari US$ 0 juta selama dua tahun saat konflik berlangsung.

Sementara penyebab lainnya dikaitkan dengan besarnya pembayaran jasa (gratuity) kepada para pejuang kemerdekaan dan veteran perang, yang mengambil anggaran negara hingga dua kali lipat dari pengeluaran pemerintah untuk program redistribusi tanah.

Selain tiga hal tersebut diatas, kemungkinan yang menjadi sumber hiperinflasi ialah terlalu masifnya bank sentral Zimbabwe (the Reserve Bank of Zimbabwe/RBZ) dalam menggelontorkan pinjaman, bagus kepada pemerintah, perusahaan milik negara (state-owned companies), ataupun pihak swasta. Praktik perbankan seperti ini tidak lazim dilakukan oleh institusi bank sentral, namun mengingat Zimbabwe baru aja menjalani kemerdekaan, Bisa jadi hal tersebut dimaksudkan untuk menggenjot perekonomian.

karena dari kebijakan-kebijakan tersebut, di masa antara 1990-1997, Zimbabwe menjalani defisit anggaran sebesar 6-7% dari total GDP. Bahkan di 2004, defisit anggaran melonjak hingga mencapai 20% dari total GDP.

Hal lain yang wajib dicatat merupakan melonjaknya inflasi hingga mencapai lebih dari 50% di periode 1997. Satu dasawarsa setelah itu, di 2007, angka inflasi negara ini semakin parah, yakni sebesar 115 ribu %, ditandai dengan langka’nya persediaan pangan, berkurangnya pasokan bahan bakar untuk produksi dan konsumsi, serta tidak tersedianya alat-alat dan fasilitas kesehatan untuk masyarakat.

Bahkan di bulan Nopember 2008, angka inflasi Zimbabwe mencatatkan rekor tertinggi sepanjang sejarah dunia modern, dengan besaran mencapai 79 milliar %, suatu fenomena yang tidak pernah terbayangkan akan terjadi di perekonomian suatu negara (Hanke, S, in addition to Kwok, A, On The Measurement of Zimbabwe’s Hyperinflation, Cato Journal Vol. 29, 2009). Sebagai Citra, di tahun tersebut nilai mata uang Z$ 50 juta setara dengan US$ 1.20.

Singkat cerita, pemerintah Zimbabwe mengajukan permintaan bantuan internasional melalui the International Monetary Fund (IMF). Akan akan tetapi dana yang semestinya digunakan untuk memperbaiki kondisi ekonomi domestik tidak dimanfaatkan dengan cara maksimal. Akibatnya, untuk membayar pinjaman tersebut bank sentral Zimbabwe mencetak uang tak kurang dari Z$ 21 trilliun. Tidak lama setelah itu RBZ kembali mencetak uang sejumlah Z$ 60 trilliun untuk membayar gaji tentara, polisi, dan aparat pemerintah lainya. Dengan semakin banyaknya uang beredar di pasar membuat nilai tukar mata uang Zimbabwe hampir tidak mempunyai harga sama sekali.

Hiperinflasi mulai Bisa dikendalikan saat pemerintah Zimbabwe mengumumkan kebijakan penggunaan mata uang asing, yakni US dollar, poundsterling Inggris, serta rand Botswana dan rand Afrika untuk transaksi perdagangan, di periode 2009'an.

Kebijakan multi-currency system sebagai media pembayaran transasksi perdagangan  membuahkan dampak signifikan terhadap perekonomian domestik Zimbabwe. Hingga beberapa tahun setelah itu, rata-rata pertumbuhan ekonomi domestik negara tersebut menunjukkan angka positif, bahkan mencapai 10.6% di 2012, setelah itu angka inflasi mulai menurun tajam hingga tinggal satu digit. Selain itu, sektor pertanian dan pertambangan tercatat menyumbangkan kontribusi yang signifikan untuk perekonomian Zimbabwe (www.africaneconomicoutlook.org, Zimbabwe, last updated May 28, 2015).

Untuk mengetahui dengan cara lebih mendalam mengenai hiperinflasi dan studi kasus yang terjadi di Zimbabwe, literatur berikut Bisa menjadi rujukan, When Money Destroys Nations: How Hyperinflation Ruined Zimbabwe, How Ordinary People Survived, in addition to Warning for Nations which Print Money, by Philip Haslam in addition to Russell Lamberti, 2015.

Epilog, terlepas dari alasan-alasan yang mengemuka, pengalaman negara Zimbabwe menunjukkan bahwa saat negara tidak dikelola dengan tepat, akibatnya Bisa sangat parah.


EmoticonEmoticon