Memahami Forum Kerjasama APEC dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kawasan Yang wajib Kita Tau

Tags

Memahami Forum Kerjasama APEC dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kawasan

inti Fundamental seputar materi Dinamika Forum Kerjasama APEC dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kawasan, bila setiap masyarakat negara wajib mempunyai kepahaman seputar pembahasan ekonomi, hal ini dikarenakan dengan perkembangan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. wajib dicatat bahwa gaji lulusan ekonomi termasuk yang tertinggi dari disiplin apapun. Penelitian yang berbeda cenderung menemukan nilai gaji lulusan ekonomi cukup dibayar dengan bagus. Ini mengajarkan kita bagaimana Tutorial membuat pilihan, yang sangat penting dalam bisnis.
Konektivitas antar negara telah memasuki banyak aspek kehidupan. Apabila di abad ke-19 hingga dengan awal abad ke-20, kerjasama internasional menitikberatkan di masalah politik dan pertahanan-keamanan, kini ruang lingkup kerjasama meluas di isu-isu besar lain, seperti perdagangan, investasi, lingkungan, dan kebudayaan. Salah satu bentuk kerjasama antar negara yang dilandasi oleh letak strategis kawasan merupakan the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) yang akan kita ulas di artikel ini.

Dinamika Forum Kerjasama APEC dalam Mewujudkan Kesejahteraan Kawasan
Sesuai data yang dimuat di situs resminya, APEC merupakan forum ekonomi regional yang dibentuk di 1989, dalam rangka melonjakkan konektivitas kawasan Asia-Pasifik. Adapun tujuan yang ingin dicapai oleh forum kerjasama APEC merupakan untuk melonjakkan kesejahteraan negara-negara di wilayah Asia-Pasifik dengan terciptanya pertumbuhan yang seimbang, berkelanjutan, inovatif, dan aman, melalui peningkatan integrasi ekonomi kawasan (www.apec.org).

Selain itu, data juga menunjukkan bahwa di 2014, total GDP dari 21 negara anggota APEC berkisar di angka US$ 43.8 triliun. di tahun yang sama, total populasi penduduk negara-negara anggota APEC tak kurang dari 2.8 milliar jiwa. Adapun total perdagangan di area Asia-Pasifik mencapai lebih dari 40% dari total perdagangan global.

di awal berdirinya, entitas ini beranggotakan 12 negara, antara lain Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Selandia Baru, Phillipina, Singapura, Thailand, dan Amerika Serikat. setelah itu di 1991 ada tiga anggota baru yang bergabung, yakni Taiwan, Hongkong, dan China. Dua tahun sesudah itu, dua negara lagi bergabung dalam APEC, yaitu Meksiko dan Papua Nugini, dengan demikian total anggota APEC di 1993 mencapai 17 negara.

Selanjutnya, dalam pertemuan puncak di Bogor di 1994, selain menghasilkan deklarasi Bogor, APEC mendapat tambahan anggota baru, yakni Chile. Lantas di 1998 terdapat tiga negara lagi yang berpartisipasi, meliputi Peru, Rusia, dan Vietnam, sehingga hingga dengan saat ini total anggota APEC berjumlah 21 negara.

Dalam mewujudkan visi'nya, APEC mempunyai tiga pilar utama sebagai pondasi kerjasama, yaitu:
  1. Liberalisasi perdagangan dan investasi (trade along with investment liberalization), dengan menurunkan hambatan tarif dan non-tarif, memperbanyak lapangan kerja baru, serta melonjakkan pertumbuhan dan pendapatan.
  2. Memfasilitasi perdagangan (trade facilitation), melalui upaya pengurangan ketidakpastian, periode waktu, serta biaya dalam aktivitas bisnis dan perdagangan.
  3. Kerjasama ekonomi dan teknik (economic along with technical cooperation/ecotech), meliputi pembangunan kapasitas teknis untuk mempromosikan investasi dan perdagangan, pembangunan sumberdaya manusia, penciptaan pasar modal yang aman dan efisien, peningkatan infrastruktur ekonomi, penemuan teknologi untuk masa depan, peningkatan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM), serta promosi pertumbuhan ekonomi jangka panjang yang ramah lingkungan.
Sementara suatu studi menyatakan empat alasan yang mendasari terbentuknya kerjasama APEC, yakni:
  1. Kondisi perekonomian yang terus berkembang di dekade 1980'an, ditandai dengan pertumbuhan investasi dan perdagangan di kawasan Asia-Pasifik.
  2. Adanya kepentingan bersama dari negara-negara di wilayah Asia-Pasifik untuk memelihara hubungan perdagangan internasional. Kerjasama ini, khususnya dengan product perdagangan terbuka, akan membagikan peluang besar untuk setiap negara untuk memasarkan produk-produknya.
  3. Kekhawatiran negara-negara di area Asia-Pasifik akan berkembangnya kawasan perdagangan lain, yang dengan cara potensial menjadi pesaing.
  4. Terjadinya perselisihan kerjasama bilateral dalam satu kawasan yang berpotensi memicu konflik, sehingga diperlukan forum dialog yang lebih luas dan melibatkan lebih banyak negara di kawasan yang sama.
(Janow, M, Assessing APEC’s Role in Economic Integration within the Asia-Pacific Region, Northwestern Journal of International Law & Business, Vol 17, 1997).

Disamping itu wajib dicatat adanya perbedaan antara APEC dengan organisasi trans-nasional, seperti ASEAN, TPP (the Trans-Pacific Partnership), atau WTO (the planet Trade Organization), yakni bahwa dalam forum-forum pertemuannya, APEC tidak membuat peraturan perdagangan, melainkan lebih di memfasilitasi diskusi untuk kepentingan integrasi ekonomi kawasan. Dengan Perkataan lain, forum APEC lebih merupakan mediasi yang menghubungkan negara-negara anggota dalam melaksanakan kerjasama multilateral.

Namun demikian, seperti halnya organisasi internasional dan forum kerjasama lainnya, APEC pun tidak lepas dari kritikan terkait dengan kinerja'nya. Berikut beberapa kritik terhadap kinerja APEC:
  • lambat dalam beradaptasi, terutama menyangkut kesepakatan kebijakan kompetisi dan hambatan non-tarif.
  • terlalu banyak area yang di'cover, sehingga mengakibatkan tidak fokus dalam penyelesaian masalah.
  • komitmen yang rendah dari sebagian anggotanya.
  • evaluasi yang tidak memadai atas komitmen yang disetujui.
  • Sebab kesepakatan APEC bersifat konsensus, maka tidak ada keputusan yang mengikat untuk dilaksanakan anggota-anggotanya.
  • koordinasi yang lemah, sehingga tidak mampu menetapkan skala prioritas.
  • keputusan yang diambil berpotensi menimbulkan tumpang-tindih (overlap) dan inefisiensi karena banyaknya kelompok kerja (working group) dalam forum APEC.
(McKay, J, APEC: Successes, Weaknesses, along with Future Prospects, Southeast Asian Affairs, 2002).

Selain masalah teknis seperti tersebut diatas, terdapat faktor non-teknis yang mempengaruhi dinamika APEC, diantaranya:
  • konflik politik dan keamanan diantara anggota APEC, misalnya menyangkut sengketa Bahari China Selatan (South China Sea).
  • adanya pertentangan kepentingan antara anggota yang berasal dari negara besar dengan negara yang lebih kecil. Negara-negara kecil cenderung mempunyai kapasitas ekonomi berskala terbatas, sehingga tidak mempunyai bargaining power dalam pengambilan keputusan.
  • adanya ego antar kelompok negara dari area yang berbeda, terkait kesepakatan yang diambil. Contohnya, Perdana Menteri Malaysia saat itu, Mahathir Muhammad, pernah mengusulkan untuk membentuk kaukus negara-negara Asia Timur (East Asian Economic Caucus/EAEC) dalam forum APEC untuk meng'counter kepentingan negara anggota APEC yang bukan berasal dari Asia Timur.
(Langdon, F, along with Brian L. Job, APEC beyond Economics: The Politics of APEC, Kellogg Institute, Working Paper 243, October, 1997).

Diluar pro dan kontra atas peran forum APEC dalam mewujudkan kesejahteraan negara-negara di kawasan Asia-Pasifik, kebutuhan untuk bekerjasama dalam bidang ekonomi, perdagangan, dan investasi, tetap menjadi alasan utama masih berlangsungnya forum kerjasama tersebut hingga saat ini.


EmoticonEmoticon