Ato Basahona Share

follow us

Dinamika Kerjasama ASEAN Plus Three (APT) Yang wajib Kita Baca

Pengetahuan Fundamental dari materi Dinamika Kerjasama ASEAN Plus Three (APT), bahwa setiap masyarakat negara wajib mempunyai kepahaman seputar materi ekonomi, hal ini dikarenakan dengan kemajuan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. wajib dicatat bahwa gaji lulusan ekonomi termasuk yang tertinggi dari disiplin apapun. Ekonomi mengajarkan bagaimana membuat keputusan yang tepat. Kemampuan ilmu ekonomi misalnya pengambilan keputusan: Apa yang wajib dilakukan bisnis untuk menaikkan margin keuntungan.

Dinamika Kerjasama ASEAN Plus Three (APT)

Kerjasama yang melibatkan banyak negara (multilateral) menjadi sarana setiap negara untuk memperkokoh stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan domestik ataupun regional. Namun demikian, tidak jarang terdapat dinamika yang unik dari kerjasama tersebut, mengingat adanya permasalahan diantara negara-negara yang terlibat, tak terkecuali dalam format kerjasama ASEAN Plus Three (APT). Artikel ini akan mengulas mengenai dinamika kerjasama ASEAN Plus Three, termasuk berbagai isu diantara negara anggota.

Dinamika Kerjasama ASEAN Plus Three (APT)
ASEAN Plus Three (APT) terdiri dari 10 negara anggota ASEAN dan Jepang (Japan), China (the People’s Republic of China), serta Korea Selatan (the Republic of Korea), mulai di inisiasi di akhir 1997, dan dengan cara resmi di institusionalisasi di 1999, saat terjadi pertemuan tingkat tinggi ASEAN Plus Three ke-3 (the 3rd ASEAN Plus Three Summit) di Manila, Phillipina.

Adapun kehadiran format kerjasama APT ini difungsikan sebagai sarana untuk memperluas basis kerjasama perdagangan, perekonomian, serta keamanan kawasan.

Meski begitu, menarik untuk ditelisik lebih jauh bagaimana dinamika kerjasama negara-negara ini, mengingat adanya isu-isu diantara beberapa negara yang menjadi anggota APT. Berikut ini beberapa dinamika permasalahan yang melibatkan negara-negara anggota APT.

Salah satu permasalahan besar di kawasan ini yaitu sengketa di Bahari China Selatan (South China Sea) yang melibatkan China dengan beberapa negara ASEAN. Kondisi ini sedikit banyak akan mempengaruhi pola kerjasama yang terbentuk.

Disamping itu, dengan cara historis beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Thailand, dan Phillipina, mempunyai kerjasama bilateral dengan Amerika Serikat (yang notabene yaitu kompetitor utama China), bagus dalam ekonomi, perdagangan, ataupun pertahanan-keamanan. Apalagi mengingat bahwa beberapa negara ASEAN tergabung dalam kelompok kerjasama the Trans-Pacific Partnership (TPP), yang dicitrakan sebagai Citra kekuatan Amerika Serikat dalam konstelasi perekonomian regional ataupun global.

Selain konflik di Bahari China Selatan, China mempunyai masalah perebutan kepulauan di Bahari China Timur (East China Sea) dengan Jepang, yakni Senkaku Islands (menurut penamaan resmi Jepang) atau Diaoyu Islands (menurut versi China).

Jepang pun mempunyai sejarah yang kurang bagus dengan Indonesia, Korea Selatan, dan China, terkait kolonialisme di masa lalu serta kasus perbudakan seks terhadap perempuan semasa perang dunia ke-2 (jugun ianfu).

Korea Selatan dan Jepang juga mempunyai konflik teritorial di wilayah Liancourt Rocks, atau Dokdo Islands (menurut klaim Korea Selatan), atau Takeshima Islands (menurut versi Jepang). Wilayah ini selain mempunyai keunikan geografis, merupakan area yang kaya akan ikan Bahari sehingga menjadi tempat fishing ground favorit, serta kaya akan gas alam (natural gas).

Tentu'nya setiap negara yang tergabung dalam APT tidak menginginkan dispute diantara negara-negara anggota menjadi penghalang kerjasama yang dibangun, terlebih menyadari akan pentingnya kerjasama kawasan dalam peta persaingan global.

Oleh karenanya, di setiap pertemuan resmi, seluruh anggota APT membuat dan menyepakati butir-butir pernyataaan yang menjadi pedoman dalam peningkatan kerjasama.

Lebih lanjut, dalam pertemuan tingkat tinggi ASEAN Plus Three ke-19 (the 19th ASEAN Plus Three Summit), di Vientiane, Laos (the Lao People’s Democratic Republic) di 7 September 2016, dihasilkan kesepakatan bersama (the Chairman’s Statement of the 19th ASEAN Plus Three Summit) berisi 29 butir pernyataan, yang beberapa diantaranya memuat hal penting sebagai berikut:
  • Bahwa semua pihak menyatakan kepuasan atas perkembangan kerjasama ASEAN Plus Three (APT), serta menegaskan komitmennya dalam memperkuat peningkatan perdamaian, stabilitas keamanan, dan kesejahteraan kawasan Asia Timur. Selain itu semua pihak menyerukan dukungannya terhadap Aplikasi the ASEAN Community Vision 2025 sebagai pondasi menuju kerjasama yang lebih erat di wilayah Asia Timur, serta pentingnya peran ASEAN dalam format kerjasama regional, melalui the East Asia Summit, the ASEAN Regional Forum (ARF), serta the Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
  • Kesadaran akan adanya hubungan yang kuat dalam investasi dan perdagangan antara ASEAN dengan tiga negara. Tercatat di 2015, total transaksi perdagangan ASEAN dengan Jepang, Korea Selatan, dan China bernilai tak kurang dari US$ 708.6 milliar, atau setara dengan 31.1% dari total perdagangan ASEAN. Sementara Foreign Direct Investment (FDI) yang mengalir dari tiga negara tersebut ke ASEAN mencapai angka US$ 31 milliar, atau sekitar 26% dari total FDI yang masuk ke ASEAN.
  • Upaya lebih intensif menyangkut negosiasi proses kerjasama RCEP, mengingat forum kerjasama ini dengan cara potensial mampu melonjakkan pertumbuhan dan perdagangan internasional.
  • Pengembangan kerjasama dibidang pertanian, perikanan, peternakan, dan kehutanan, dalam rangka peningkatan kedaulatan pangan di kawasan.
  • Kerjasama dibidang energi, termasuk kebijakan terkait keamanan energi, konservasi dan efisiensi energi, teknologi energi terbarukan, serta inisiasi program energi nuklir untuk kepentingan sipil.
  • Komitmen peningkatan kerjasama untuk melaksanakan agenda the Sustainable Development Goals (SDGs), seperti yang disepakati dalam the APT Leaders’ Statement on Promoting Sustainable Development Cooperation.
(Chairman’s Statement of the 19th ASEAN Plus Three Summit, 7 September 2016, Vientiane Lao PDR, Turning Vision into Reality for a Dynamic ASEAN Community).

Sementara di pertemuan yang sama, disepakati pula pernyataan dukungan untuk mempromosikan agenda kerjasama pembangunan jangka panjang, yang termuat dalam the ASEAN Plus Three Leaders’ Statement on Promoting Sustainable Development Cooperation, yang berisi komitmen dalam menyukseskan agenda the Sustainable Development Goals (SDGs). Adapun beberapa poin yang wajib mendapatkan perhatian antara lain:
  • Upaya memberantas kemiskinan sekaligus mengurangi kesenjangan (gap) pembangunan, bagus di dalam dan antar negara. Termasuk dalam upaya tersebut yaitu dengan mengakselerasi perekonomian kawasan, melonjakkan pembangunan sumberdaya manusia, mempererat kerjasama antar institusi yang terkait dengan upaya pemberantasan kemiskinan, serta perlindungan terhadap lingkungan hidup.
  • Mempromosikan pembangunan berkesinambungan terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) atau Micro, smaller, in addition to also Medium Enterprises (MSMEs), diantaranya melalui implementasi Rencana Aksi Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (the ASEAN Strategic Action Plan for SME Development) 2016-2025, serta penguatan akses MSMEs di pasar, permodalan, dan hal terkait lainnya.
  • Mempromosikan kerjasama sektor pariwisata dengan cara berkelanjutan. Termasuk didalamnya yaitu kerjasama dalam melonjakkan kualitas, aksesibilitas, dan promosi atas situs-situs budaya dan pariwisata beserta lingkungan sekitarnya, serta kerjasama pendidikan dan pelatihan disektor kepariwisataan.
  • melonjakkan kerjasama dan pertukaran kebudayaan, antara lain berupa pengembangan kerjasama antar instansi yang bertanggungjawab atas perlindungan peninggalan sejarah dan arkeologi, museum, arsip-arsip sejarah, perpustakaan, serta institusi kebudayaan.
(ASEAN Plus Three Leaders’ Statement on Promoting Sustainable Development Cooperation, Vientiane, 7 September 2016).

Sebagai Epilog, kerjasama antar negara dalam satu kawasan dengan cara potensial mampu menciptakan dampak positif terkait masalah keamanan wilayah, ekonomi, investasi, perdagangan, hingga sosial-budaya; meskipun tidak Bisa dipungkiri adanya dinamika atau gejolak yang ikut berpengaruh terhadap pola kerjasama tersebut.

You Might Also Like: