Ato Basahona Share

follow us

Apa itu Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index Yang Wajib Kita Tau

Mengenal Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index

Pengetahuan Fundamental seputar materi Mengenal Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index, bila setiap masyarakat negara wajib mempunyai kepahaman seputar materi ekonomi, hal ini dikarenakan dengan kemajuan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. Misalnya, karir paling populer yang Bisa dikejar kebanyakan dengan gelar ekonomi. Ekonomi mengajarkan bagaimana membuat keputusan yang tepat. Ini mengajarkan kita bagaimana Tips membuat pilihan, yang sangat penting dalam bisnis.
Dalam literatur ilmu ekonomi dikenal beberapa instrumen pengukuran kesejahteraan nasional, diantaranya pertumbuhan ekonomi (economic growth), produk domestik bruto (gross domestic product/GDP), serta pendapatan per kapita (per capita income), yang penghitungannya didasarkan di sumberdaya modal (capital resources), output produksi, dan Hartah finansial. di perkembangannya, muncul konsep-konsep baru mengenai kesejahteraan bangsa (nation's welfare) yang tidak semata-mata mendasarkan diri di hal-hal yang bersifat materi.

Konsep Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index
Sebagai design alternatif terhadap GDP, konsep-konsep tersebut menawarkan Evaluasi dengan mempertimbangkan dimensi yang lebih luas, seperti aspek psikologis dan spiritual. Salah satu konsep yang hingga kini menjadi diskusi aktual merupakan Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index (indeks kebahagiaan).

Sekilas, konsep tersebut terdengar absurd dan tidak realistis. Oleh karenanya tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan pemahaman mengenai konsep dasar Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index.

untuk sebagian pihak, GDP dianggap gagal menempatkan manusia sebagai aktor utama pembangunan, Sebab hanya berlandaskan di faktor-faktor ekonomi dengan memperlakukan manusia tidak lebih dari sekadar faktor tenaga kerja. Salah satu kritikan keras disuarakan oleh Stiglitz, Sen, dan Fitoussi yang menyatakan bahwa konsep GDP gagal menjawab tantangan terkait kualitas hidup manusia sebagai individu dalam pembangunan dan pentingnya relasi antar individu dalam masyarakat.

Perspektif yang semata-mata berdasarkan di faktor produksi dan kekuatan finansial di akhirnya menggeser keutamaan hidup, contohnya saat dunia dipenuhi oleh produk-produk iklan yang menampilkan design yang bertubuh kekar, memakai arloji mewah, serta menenteng smartphone terbaru, maka image tersebut akan Inheren dalam benak banyak orang dan menjadikannya sebagai standar orang sukses.

Perumpamaan lain, misalnya saat seorang design perempuan berambut panjang terurai, berkulit kuning langsat, bertubuh ramping, berkaki jenjang, dan mengenakan busana merek tertentu, maka design seperti inilah yang dijadikan sebagai standar kecantikan. di akhirnya, tujuan hidup yang dikejar hanyalah penampilan fisik dan Hartah materi.

Sementara dari tinjauan spiritualitas, penampilan bagus dan harta yang dimiliki tidak terbukti membawa kebahagiaan hidup. Studi-studi empiris juga mengungkapkan bahwa individu yang tidak mempunyai banyak harta, Bisa jadi hidupnya bahagia, Sebab mempunyai banyak sahabat atau tingkat kekerabatan yang erat. Dari sudut pandang inilah gagasan mengenai Happiness Index mengemuka.

Lantas apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dalam konteks ini dan bagaimana mengukurnya?

di prinsipnya disadari bahwa kebahagiaan merupakan sesuatu yang abstrak dan bersifat subjektif. Meski demikian, terdapat keyakinan bahwa hakikat kebahagiaan sebenarnya tertuang dalam agenda the Sustainable Development Goals (SDGs) walau tidak dengan cara eksplisit, yakni terkait dengan pembangunan manusia, pembangunan lingkungan dan ekosistem kehidupan, serta kerjasama antar negara untuk mewujudkan kesejahteraan jangka panjang.

Selain itu diyakini bahwa negara yang bahagia, selain menghasilkan pendapatan tinggi, juga mempunyai ikatan kuat dalam komunitas sosial, tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi kepada pemerintah, serta kemampuan membangun kehidupan bermasyarakat dengan cara berkualitas.

Salah satu negara yang mencanangkan kebahagiaan sebagai indeks nasional ialah Bhutan. Adapun konsep indeks kebahagiaan dikemukakan pertama kali oleh Raja Bhutan, Jigme Singye Wangchuck di era 1970’an.

Dalam pandangannya, pembangunan berkelanjutan seharusnya diwujudkan melalui pendekatan holistik, dengan memperhitungkan faktor-faktor ekonomi dan non-ekonomi. Ditambahkannya pula bahwa kebahagiaan lebih dari sekadar inspirasi, melainkan juga prinsip utama untuk pemerintah dalam menentukan kebijakan publik. dengan cara filosofis dinyatakan bahwa bila suatu pemerintah tidak mampu menciptakan kebahagiaan untuk warganya, maka tidak ada gunanya pemerintah tersebut berdiri.


dengan cara konseptual, terdapat empat pilar yang menjadi pondasi indeks kebahagiaan, yakni tata kelola pemerintahan yang bagus, pembangunan sosial-ekonomi yang berkesinambungan, ketahanan dan perlindungan budaya, serta ketahanan dan pemeliharaan lingkungan.

Lebih lanjut, empat pilar tersebut dijabarkan menjadi sembilan poin sasaran, yaitu kesehatan psikologis, kesehatan fisik, pendidikan, pemanfaatan waktu, ketahanan dan keanekaragaman budaya, tata kelola pemerintahan, ikatan komunitas, ketahanan ekologi, serta standar hidup. Poin-poin ini setelah itu di break-down lagi menjadi 33 indikator yang digunakan sebagai dasar Evaluasi. Dari Evaluasi terhadap poin-poin tersebut ditetapkanlah besaran indeks kebahagiaan dengan cara nasional (the Gross National Happiness Index).

Dalam GNH Index terdapat tiga tipe hasil pengukuran, yakni headcount, intensity, dan GNH total. Headcount menunjukkan persentase warga yang bahagia (tingkat kebahagiaan warga negara), intensity merupakan angka rata-rata warga yang menikmati kebahagiaan, sedangkan GNH total menunjukkan hasil akhir indeks kebahagiaan dengan cara agregat, dimana semakin tinggi angka indeks (mendekati angka 1) menunjukkan bahwa negara tersebut semakin bahagia (Ura, K, Alkire, S, as well as also also Tshoki Zangmo, GNH as well as also also GNH Index, The Centre for Bhutan Studies, 2011)

Namun demikian wajib digarisbawahi bahwa pendekatan yang digunakan dalam Evaluasi GNH Index mempunyai beberapa catatan, diantaranya:
  • Metodologi yang digunakan dalam GNH tidak mampu menjawab bagaimana mendistribusikan kebahagiaan kepada setiap individu, atau dengan Perkataan lain tidak Bisa menerangkan bagaimana mencapai distribusi kebahagiaan yang seimbang.
  • Konsep kebahagiaan bukanlah suatu tujuan fisik atau yang Bisa diwakili dengan angka, tahun, ataupun nilai mata uang, sehingga sulit untuk menentukan target kebahagiaan.
  • Kondisi bahagia merupakan kondisi subjektif individu dan tidak mewakili komunitas masyarakat, dengan demikian tidak Bisa diterapkan dengan cara kolektif, sebab kebahagiaan seseorang tidak sama dengan kebahagiaan orang lain.

Kesimpulan, meskipun masih menjadi perdebatan, Gross National Happiness (GNH) dan Happiness Index hadir sebagai alternatif Gross Domestic Product (GDP) sebagai alat ukur keberhasilan pembangunan yang tidak semata-mata didasarkan di output produksi dan Hartah finansial, namun terkait pula dengan pembangunan mental-spiritual manusia.

You Might Also Like: