Ato Basahona Share

follow us

Analisis Faktor Penyebab Krisis Ekonomi Yang wajib Kita Tau

Pengetahuan Fundamental seputar materi Analisis Faktor Penyebab Krisis Ekonomi, bahwa setiap warga negeri wajib mempunyai kepahaman seputar materi ekonomi, hal ini erat kaitannya dengan kemajuan ekonomi di rumahtangga, masyarakat dan negara itu sendiri, maka belajar ekonomi memang wajib di galakkan sejak dini, sejak masih mengenal bangku pendidikan. wajib dicatat bahwa gaji lulusan ekonomi termasuk yang tertinggi dari disiplin apapun. Ekonomi mengajarkan bagaimana membuat keputusan yang tepat. Ini mengajarkan kita bagaimana Tutorial membuat pilihan, yang sangat penting dalam bisnis.

Analisis Faktor Penyebab Krisis Ekonomi


Penyebab Krisis Ekonomi - Masih belum terlupakan bagaimana Indonesia menjalani situasi dan kondisi yang menegangkan saat kerusuhan tahun 1997. Ya saat itu negara ini menjalani Krisis Ekonomi atau juga dikenal dengan “Krisis Asia”. Namun sebenarnya fakta menyebutkan krisis ekonomi di saat itu juga melanda perekonomian global. Imbasnya tentu aja dihadapkan dengan menurunnya kualitas kesejahteraan rakyat. 

Hal ini merupakan jelasnya keterkaitan hubungan antara sektor moneter dengan sektor riil. Patut disadari atau tidak segala kebijakan dan berbagai Forum di bawahnya, sektor moneter hanyalah fasilitator untuk sektor riil. Lalu kita akan mencoba menjalankan analisis mengenai dampak krisis ekonomi di Indonesia.

Penyebab Krisis Ekonomi Menurut Identifikasi Ahli :
  1. Adanya productivity gap (kesenjangan produktifitas) yang erat berhubungan dengan lemahnya alokasi aset ataupun faktor - faktor produksi.
  2. Fenomena diequilibrium trap (jebakan ketidak seimbangan) berkaitan mengenai ketidakseimbanagan struktur antar sektor produksi.
  3. Fenomena loan addiction ( ketergantungan di hutang luar negeri imbas dari perilaku para pebisnis yang sering beraktifitas dalam bentuk mata uang asing (foreign currency)


Dampak Krisis Ekonomi untuk Negara Indonesia
Mari kita flashback sebentar kala itu di bulan Juni 1997 inflasi Indonesia rendah, nilai dagang surplus hingga melampaui 900 juta USD, stok mata uang luar begitu besar yaitu 20 millyiar lebih ditambah lagi kondisi perbankan yang sangat bagus. Terasa jauh dari terjangan badai krisis dan tak seperti negara tetangga kita, Thailand.

Namun sebagian besar perusahaan di Indonesia cenderung mempunyai pinjaman mata uang dolar AS. setelah itu lihat aja tahun berikutnya rupiah merangkak naik, praktisi ini telah menjalankan tugasnya dengan bagus untuk perusahaan tersebut. Tingkat efektifitas pinjaman perusahaan dan biaya finansial telah berkurang di saat harga mata uang lokal naik.

Di bulan Juli, pemerintah Thailand merintis baht, Otoritas Moneter Indonesia melonjakkan perdagangan dari 8 persen ke 12 persen. Mata uang rupiah mulai tersendat parah di Agustus. setelah itu tanggal 14 Agustus 1997 pertukaran floating teratur berpindah dengan pertukaran floating-bebas. Sementara rupiah terjun makin curam dan IMF dengan suka hati tiba dan menyodorkan dana pinjaman sebesar 23 milyar dolar. Namun kondisinya kian makin parah rupiah jatuh lebih dalam lagi Sebab dampak dari hutang perusahaan, permintaan dolar yang kuat, penjualan rupiah. Akhirnya di bulan September Bursa Saham Jakarta dan rupiah mendarat di  titik terendah. Moody’s menurunkan hutang jangka panjang Indonesia menjadi “junk bond”.

Babak krisis rupiah berawal di bulan Juli dan Agustus dan krisis kian parah di November saat neraca perusahaan terlihat devaluasi di musim panas. dengan cara otomatis dikarenakan rupiah makin terpuruk perusahaan yang meminjam dalam mata uang dolar wajib menanggung dana yang lebih besar. Dan makin diperkeruh dengan adanya penjualan rupiah yang murah demi memperoleh dolar saat itu.

Akibatnya Indonesia terpuruk, terjadi inflasi - inflasi rupiah dan kenaikan harga kebutuhan rakyat. Puncaknya yaitu peristiwa pengunduran diri presiden kala itu, Soeharto yang dianggap tidak mampu lagi untuk mengembalikan kondisi negara. Sebelumnya di bulan Februari 1998 beliau memecat Gubernur Bank Indonesia.

Pelajaran Berharga yang Bisa Ditarik dari Krisis Ekonomi

Beberapa poin misalnya lemahnya struktur pembayaran Indonesia dengan hanya menitikberatkan di satu sisi aja yakni sektor ekspor. Seharusnya pemerintah wajib melihat sisi produksi dan distribusi yang juga dinilai penting. Maka dari itu pembenahan manajemen pembangunan dan birokrasi pemerintahan sangat dibutuhkan.

Selain itu adanya kontrol reformasi sistem pengambilan keputusan. Dan juga diperlukan pengembangan kelembagaan yang memfasilitasi peningkatan dinamika perekonomian sehat sehingga diharapkan Bisa menekan biaya transaksi (transaction cost).

You Might Also Like: