Alga Cokelat (Phaeophyceae), Ciri-Ciri, Reproduksi dan Distribusi

Ciri-Ciri Utama Kelas Phaeophyceae
1)       Semua spesies multiseluler; morfologi dan struktur thalli sangat bervariasi, dari bentuk berfilamen mikroskopik bercabang sampai pada tumbuhan berdaun dengan puluhan meter panjangnya, dengan anatomi yang kompleks.
2)       Flagela tersisipkan secara lateral, bukan di bagian apikal atau subapikal seperti pada kebanyakan kelas-kelas lainnya pada Heterokontophyta; hanya pada kelas Sarchinochrysidophyceae flagela tersisipkan secara lateral, seperti pada alga coklat; pada Phaeophyceae, sel-sel berflagela selalu bersifat reproduktif; tidak ada flagela-flagela yang hidup bebas.
3)       Sel-sel berflagela biasanya memiliki alat fotoreseptor yang khas dari Heterokontophyta yang terdiri dari sebuah flagela yang membengkak pada flagela posterior dan sebuah bintik mata (stigma) yang terkandung dalam kloroplas; tidak ada alat bintik mata yang hadir pada beberapa alga coklat, yang saat ini kebanyakan pada ordo Laminariales.
4)       Daerah transisi flagela tidak memiliki sebuah “helix” transisi.
5)       Kloroplas-kloroplas pada umumnya diskoid dan berwarna coklat keemasan, karena klorofil tertutup oleh pigmen tambahan, fukoxanthin; pirenoid tersusun, atau paling tidak menonjol keluar dari kloroplas.
6)       DNA kloroplas tersusun dalam nukleoid yang berbentuk cincin.
7)       Kista silikat dan dinding-dinding sel bersilikat, seperti dinding-dinding sel yang terbentuk dari beragam Heterokontophyta, termasuk kelas Bacillariophyceae dan Chrysophyceae, tidak pernah ditemukan pada Phaeophyceae.
8)       Dinding-dinding sel terdiri dari jaringan mikrofibril/serat selulosa seperti bulu kempa yang mengeras oleh kalsium alginat dan membentuk fraksi struktur dinding, yang bersama-sama dengan fraksi matriks yang bergetah tak berbentuk (amorf) terdiri dari alginat fukoidan dan bergetah.
9)       Mitosis bersifat semi tertutup, pembungkus inti terlambat terbuka pada anafase; kumparan tidak lama bertahan pada telofase dan seperti mengempis, nuklei anak bergerak balik ke arah masing-masing dan terletak berdekatan satu sama lain; kumparan terbentuk di bagian dalam nukleus, di antara 2 pasang sentriol kutub-kutub; aster-aster mikrotubular berkumpul di sekitar sentriol yang menyebar di dalam sitoplasma.
10)    Pada spesies-spesies yang berkembang biak secara seksual, siklus hidupnya biasanya diplohaplontik dan dapat bersifat isomorfik atau heteromorfik; gamet-gamet dihasilkan dalam zoidangia banyak kamar (plurilocular), sedangkan meiospora-meiospora dihasilkan oleh zoidangia kamqar tunggal (unilocular). Zoidangia banyak kamar juga memproduksi zoospora-zoospora aseksual; ordo-ordo Fucales dan Durvillaeales dicirikan dengan siklus hidup diplontik, dengan meiosis gametik dan oogami.
11)    Hampir seluruh Phaeophyceae hidup di laut.

REPRODUKSI
1)       Reproduksi aseksual pada alga cokelat dalam bentuk-bentuk yang lebih sederhana adalah melalui produksi zoospora atau fragmentasi.
2)       Reproduksi seksual dikenal begitu baik untuk kebanyakan alga cokelat, kecuali untuk Fucales, sejarah hidupnya adalah haplodiplontik. Generasi sporofitik memproduksi generasi gametofitik melalui zoospora yang merupakan hasil meiosis.
3)       Beberapa ordo dicirikan dengan sporofit isomorfik dan gametofit, sedangkan ordo-ordo lainnya sporofit-sporofit dominan, heteromorfik.
4)       Anggota ordo Fucales memiliki sejarah hidup benar-benar diplontik. Semua bentuk gamet dapat ditemukan pada alga coklat.
5)       Jadi reproduksi mencakup isogami (Chordariales, Dictyosiphonales, Ectocapales), anisogami (Ralfsiales, Sphacelariales), dan Oogami atau telur dan sperma (Dictyotales, Fucales, Laminariales, Sporochnales. Tilopterdiales).
6)       Dua tipe utama sporangia yang ditemukan dalam alga coklat walaupun terdapat sejumlah modifikasi yang dapat dicatat bagi kelompok-kelompok spesifik. Sporangia ditemukan baik pada tumbuhan haploid (gametofit) dan diploid (sporofit). Sporangia banyak kama yang dihasilkan oleh gametofit akan melepaskan gamet-gamet melalui mitosis.
7)       Dalam banyak genera, khususnya spesies yang lebih sederhana, gamet-gamet dapat juga bertumbuh secara paternogenesis ke dalam gametofit-gametofit baru, yang memungkinkan sebuah pola reproduksi aseksual. Jika sporangia banyak kamar hadir dalam sporofit, zoospora-zospora diploid yang dihasilkan (melalui mitosis) akan berkecambah ke dalam sporofit-sporofit lagi. Siklus reproduksinya dipengaruhi oleh fotoperioda, suhu, nutrien dan salinitas.
ORDO-ORDO DARI KELAS PHAEOPHYCEAE
1)       Ectocarpales
2)       Sphacelariales
3)       Syringodermatales
4)       Dictyotales
5)       Scytosiphonales
6)       Cutleriales
7)       Dictyosiphonales
8)       Chordaliales
9)       Sporochnales
10)    Desmarestiales
11)    Laminariales
12)    Fucales
13)    Durvillaeales
14)    Ascoseirales.
DISTRIBUSI
1)       Kebanyakan alga cokelat hidup menempel pada batu di tepi pantai. Bagi alga cokelat yang lebih besar besar merupakan spesies pada perairan dingin, yang membentuk padang “kelp” sepanjang pantai Atlantik Utara (Laminaria, Alaria) dan Pasifik Utara (Nereocystis, Macrocystis).
2)       Alga cokelat juga ditemukan di dermaga, ilalang laut, alga laut lainnya. Alga-alga tersebut memiliki habitat yang relatif sama dengan alga merah. Alga cokelat yang besar adalah Macrocystis dan Nereocystis dimana panjangnya dapat mencapai 30-60 m bahkan lebih. Spesies alga coklat banyak juga terdapat di perairan subtropis dan tropis, seperti Dictyotales (Dictyota, Padina) dan Fucales (Sargassum, Cystoseira).


EmoticonEmoticon