Pengertian Reklamasi Hutan

Selain pengertian reklamasi wilayah pesisir pantai, dalam lingkup kehutanan juga terdapat istilah reklamasi hutan yang terdapat pada Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor : P. 4/MENHUT-II/2011 Tentang Pedoman Reklamasi Hutan.

Pengertian Reklamasi Wilayah Pesisir Pantai

Pengertian Reklamasi Berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 122 Tahun 2012 Tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil :
Reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase.

Pengertian Reklamasi Wilayah Pesisir Pantai
Pengurungan
Pengurugan adalah kegiatan penimbunan tanah dan/atau batuan di atas permukaan tanah dan/atau batuan
Pengeringan Lahan
Pengeringan lahan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengubah perairan dan/atau daratan menjadi lahan kering dengan cara pemompaan dan/atau dengan drainase.
Drainase
Drainase adalah metode pengaliran air permukaan atau air tanah agar perairan berubah menjadi lahan.
Pada peraturan di atas dikecualikan bagi reklamasi di :
a.    Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan (DLKp) pelabuhan utama dan pelabuhan pengumpul serta di wilayah perairan terminal khusus;
b.    lokasi pertambangan, minyak, gas bumi, dan panas bumi; dan
c.     kawasan hutan dalam rangka pemulihan dan/atau perbaikan hutan dan
d.    Reklamasi pada kawasan konservasi dan alur laut.
Alur laut atau Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) adalah areal yang ditetapkan sebagai alur untuk pelaksanaan Hak Lintas Alur Laut Kepulauan berdasarkan konvensi hukum laut internasional. Alur ini merupakan alur untuk pelayaran dan penerbangan yang dapat dimanfaatkan oleh kapal atau pesawat udara.
Dalam pelaksanaan reklamasi wilayah pesisir wajib menjaga dan memperhatikan keberlanjutan kehidupan dan penghidupan masyarakat dan keseimbangan antara kepentingan pemanfaatan dan kepentingan pelestarian fungsi lingkungan pesisir dan pulau-pulau kecil.
Segala bentuk kegiatan yang berhubungan langsung dengan alam atau lingkungan pasti memiliki dampak positif dan negatif yang dapat dirasakan oleh masyarakat, khususnya pada masyarakat sekitar
Dampak Positif Reklamasi Wilayah Pesisir :
Terdapat tambahan daratan sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam kebutuhan oleh masyarakat dan pemerintah setempat terkait dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) seperti pembuatan taman kota sebagai tempat rekreasi.
Dampak Negatif Reklamasi Wilayah Pesisir :
1.    Hilangnya lingkungan hidup hewan dan tumbuhan laut sehingga terjadi gangguan ekosistem sekitar lokasi reklamasi
2.    Pencemaran laut akibat dari kegiatan reklamasi

Lanjut baca : Pengertian Reklamasi Hutan

Klasifikasi Tumbuhan Tingkat Tinggi

Di dunia ini terdapat lebih dari 280.000 spesies tumbuhan, belum termasuk sekitar 100.000 spesies jamur, yang kesemuanya telah diidentifikasi dan telah diberi nama sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ada pendapat yang mengelompokan kedalam tumbuhan karena kemiripannya dan ada juga yang mengelompokkannya tersendiri karena jamur tidak berklorofil (Campbell dan Reece, 2002). Dari keseluruhan tumbuhan yang tersebar di muka bumi, sekitar 10% diantaranya berada di Indonesia. 
Tumbuhan yang tingkat perkembangannya lebih tinggi, yaitu tumbuhan tingkat tinggi (Phanerogamae), dimasukkan dalam satu divisio, Spermatophyta yang terbagi atas Gymnospermae dan Angiospermae. Angiospermae terbagi lagi atas Monocotyledonea dan Dicotyledone.
Manusia telah memanfaatkan tumbuhan sebagai tanaman sumber bahan makanan (tanaman pangan, tanaman perkebunan, tanaman sayuran, dan tanaman buah-buahan), sumber bahan obat, sumber bahan rempah/bumbu, sumber tanaman hias, sumber bahan kerajinan/industri/, sumber bahan sandang, dan sumber bahan papan. Agar spesies tumbuhan tersebut dapat dikenali karena kaitannya dengan peranannya dalam bidang produksi tanaman secara efektif dan produktif, maka perlu dikaji pengetahuan tentang klasifikasi tumbuhan, sehingga semua tumbuhan dapat dikelompokkan secara taksonomis berdasarkan ciri-ciri yang spesifik.
Klasifikasi Tumbuhan Tingkat Tinggi
Tumbuhan yang tingkat perkembangannya lebih tinggi, yaitu tumbuhan tingkat tinggi (Phanerogamae), dimasukkan dalam satu divisio, Spermatophyta yang terbagi atas dua takson :
a.    Gumnospermae
b.    Angiospermae
Adapun ciri-ciri bangsa tumbuhan berbiji (spermathophyta) adalah :
a)    Menghasilkan biji
b)    Didalam biji terdapat embrio
c)    Mengalami penyerbukan
d)    Organ tubuhnya sudah sempurna (sudah memiliki akar, batang, dan daun secara lengkap)
e)    Sporofitnya merupakan tanaman utama, sedang gametofitnya mengalami reproduksi
f)     Kandungan lembaganya ajan berubah menjadi biji
A. Gymnospermae
Ciri-ciri tumbuhan berbiji terbuka
1. Akar :
a)    Tunggang
b)    Berkambium
c)    Terdapat trakeid, yaitu fasis (berkas pembuluh pengangkut) yang belum berfungsi secara sempurna
d)    Berkaliptra dengan batas antara ujung akar dengan kaliptra tidak jelas
2. Batang
a)    Memiliki kambium
b)    Terdapat trakeid
c)    Batngbtua maupun muda tidak memiliki floeterma (sarung tepung), yaitu endodermis yng menghasilkan zat tepung
3. Daun
a)    Tidak terlalu lebar
b)    Tebal
c)    Kaku
d)    Seperti jarum
4. Biji
a)    Bakal biji tidak terlindungi oleh bakal buah
b)    Terjadi pebuahan tunggal
Klasifikasi gymnospermae (berbiji terbuka)
1.    Kelas pteridospermae
2.    Kelas Gycadinae
3.    Kelas Bennettinae
4.    Kelas Cordaltinae
5.    Kelas Ginkyoinae
6.    Kelas Coniferinae
7.    Kelas Gnetinae
Klasifikasi angyospermae (berbiji tertutup)
1.    Kelas Monocotyledoneae (monokotil)
2.    Kelas Dycotyledoneae (dikotil)
Ciri Monocotyledoneae
1.    Pada setiap bijinya terdapat kotiledon
2.    Akarny tersusun dalam sistem akar serabut
3.    Akar dan atang tidak berkambium
4.    Pertumbuhan akar dan batang tidak dapat melebar
5.    Susunan tulang daun  sejajar / melengkung
6.    Jumlah mahkota dan kelopak bunga
Ciri Dicotyledonae
1.    Setiap biji memiliki dua buah kotiledon
2.    Akarnya tersusun dalam sistem akar tunggang
3.    Batang dan akarnya berkambium
4.    Akar dan batangnya dapat tumbuh melebar
5.    Susunan tulang daun menjari
6.    Jumlah mahkota dan kelopak bunga pada umumnya berkelipatan empat atau lima dan berbelah dua
7.    Ujung akar dan batang tidak mempunyai pelindung
8.    Tudung akar (kalipptra) tidak memiliki kaliptrogen

Morfologi Rumput Teki Cyperus rotundus serta Khasiat dan Manfaatnya

Rumput teki tumbuh liar di tempat terbuka atau sedikit terlindung dari sinar matahari pada lapangan rumput, pinggir jalan, tegalan, atau lahan pertanian yang tumbuh sebagai gulma yang sukar diberantas. Rumput ini bisa tumbuh pada bermacam-macam tanah dan terdapat dari 1-1000 meter dpl (Dalimartha, 2009).

Cara Penanaman Rumput Gajah Odot

Rumput Gajah Odot mempunyai karakteristik yang berbeda dibandingkan kultivar rumput gajah lainnya. Dibandingkan dengan kultivar-kultivar rumput gajah lainnya perbedaan yang nyata tinggi rumput ini terlihat dibandingkan kultivar lain seperti Taiwan dan King Grass. Sehingga kami juga menyebutnya rumput gajah mini. Perbedaan lain dari rumput gajah ini dengan yang lain adalah ruas pada batang pendek (3-4 cm) sedangkan pada kultivar lainnya panjangnya sekitar 10-12 cm, dari jumlah.

A. Syarat lahan
Rumput Gajah Odot membutuhkan Sinar matahari penuh atau minimal 40%. Rumput ini dapat tumbuh pada sinar matahari dengan intensitas kecil 30-40 % namun dari jumlah anakan dan umur panen lebih lama. Rumput ini dapat beradaptasi di berbagai macam tanah meskipun hasil panennya berbeda
B. Perkembangbiakan
Perkembangbiakan dengan cara vegetative dilakukan dengan membagi rumpun akar dan bonggol atau dengan stek batang (minimal 3 ruas, 2 ruas dibenamkan dalam tanah, 1 stek batang dapat dibagi menjadi 2 bagian atau 3 bagian)
C. Pola Tanam
1.     Monokultur; artinya pada lahan hanya ditanami rumput gajah odot saja
2.     Tanaman sela; karena ukuran rumput gajah ini pendek rumput ini bisa ditanam sebagai tanaman sela dikombinasikan dengan hijauan pakan lain, di pinggir pematang sawah, atau disela-sela tanaman perkebunan dengan memberhatikan intensitas sinar matahari.
3.     Rumput ini juga bisa digunakan untuk menahan erosi lahan dengan penanaman pada tanah yang berkontur miring
D. Cara penanaman
1.    Bersihkan lahan yang akan ditanami rumput dari tanaman gulma dan semak belukar
2.    Buat guludan( gundukan tanah dan tinggi) lebar 60-80 cm dengan tinggi 20 cm
3.    Tanam bibit rumput berupa stek minimal 3 ruas dan2 ruas ditanam dalam tanah di tengah guludan
4.    Jarak tanam dalam barisan 75 cm. Jarak tanam antar barisan 75- 150 cm. Berdasarkan pengalaman kami pada kondisi tanah yang subur dengan hara yang cukup rumput ini bisa mempunyai anakan 60 batang dalam satu rumpun sehingga dengan jarak tersebut nanti akan saling berhimpitan
E. Pemupukan
1.    Untuk pupuk dasar, berikan dan campur dengan pupuk kandang dengan jumlah 3 ton/ha
2.    Untuk mempercepat pertumbuhan dapat dilakukan pemupukan pada umur 15 hari setelah tanam dengan pupuk kimia majemuk (NPK) sebanyak 60 kg Ha
3.    Pupuk cair, Urine Kambing fermentasi juga dapat digunakan untuk pupuk cair untuk pemupukan dengan aplikasi disemprot ke tanaman. Dosis 400-500 ml (2 cup gelas air mineral) dicampur dengan 14 liter air (1 tangki Hand Sprayer). Penyemprotan dilakukan 1 minggu setelah panen dan 3 minggu setelah panen.
F. Pemanenan
1.    Pada penanaman pertama kali rumput odot dapat dipanen pada umur 60-70 hari
2.    2. Ciri-ciri rumput sudah dapat dipanen adalah adanya ruas pada batang yang sudah berukuran minimal 15 cm
3.    Umur panen pada musim penghujan 35-40 hari. Umur panen pada musim kemarau 40-50 hari
4.    Jika ingin pada musim kemarau tetap panen optimal lakukan pengarian
5.    Gunakan sabit yang tajam untuk memotong rumput
6.    Potong pendek sejajar dengan tanah, menurut pengalaman kami jika pemotongannya tinggi batang akan lebih kecil dan jika terkena hujan terusmenerus akan busuk dan mati.
7.    Untuk pemanenan pertama kali sebaiknya dipanen lebih dari 60 hari atau ditunggu sampai ukuran batang yang ada ruasnya 30-40 cm. Menurut pengalaman jika rumput dipanen lebih muda hasil panennya berbeda dengan yang dipanen pertama sudah tua.
8.    Jumlah anakan dalam satu rumpun setelah pemanenan 2 dan seterusnya minimal 40 batang dengan potensi produksi bisa mencapai 15 kg per rumpun pada kondisi hara yang baik.
G. Pengairan
Pada kondisi yang kering atau musim kemarau rumput ini memerlukan pengairan minimal 10 hari sekali untuk pertumbuhan optimal dan mempercepat umur panen
H. Pemeliharaan
Lakukan pembumbunan atau meninggikan guludan dengan tanah, sekaligus melakukan penyiangan dari rumput-rumput lain (gulma) yang tidak dikehendaki.
I. Hama
Rumput ini sangat disukai oleh unggas (Ayam, Itik, Angsa), Tikus dan serangga sehingga perlu dibuat pagar jika penanaman rumput ini terdapat binatang tersebut.
Terima kasih semoga bermanfaat

Sumber : www.lembahgogoniti.com

Definisi Tanaman Obat, Penggunaan dan Bagian yang dimanfaatkan Menurut Ahli

Pengertian Tanaman Obat
Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit.Pengertian berkhasiat obat adalah mengandung zat aktif yang berfungsi mengobati penyakit tertentu atau jika tidak mengandung zat aktif tertentu tapi mengandung efek resultan / sinergi dari berbagai zat yang berfungsi mengobati (Flora, 2008). 

Tanaman obat tidak berarti tumbuhan yang ditanam sebagai tanaman obat.Tanaman obat yang tergolong rempah-rempah atau bumbu dapur, tanaman pagar, tanaman buah, tanaman sayur atau bahkan tanaman liar juga dapat digunakan sebagai tanaman yang di manfaatkan untuk mengobati berbagai macam penyakit.Penemuan-penemuan kedokteran modern yang berkembang pesat menyebabkan pengobatan tradisional terlihat ketinggalan zaman.Banyak obatobatan modern yang terbuat dari tanaman obat, hanya saja peracikannya dilakukan secara klinis laboratories sehingga terkesan modern.Penemuan kedokteran modern juga mendukung penggunaan obat-obatan tradisional (Hariana, 2008).
Tanaman obat atau biofarmaka didefinisikan sebagai jenis tanaman yang sebagian, seluruh tanaman dan atau eksudat tanaman tersebut digunakan sebagai obat, bahan atau ramuan obat-obatan. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari selnya. Eksudat tanaman dapat berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan/diisolasi dari tanamannya (Herdiani, 2012).
Pengunaan Tanaman Obat
Dalam penggunaan tanaman obat sebagai obat bisa dengan cara diminum, ditempel, untuk mencuci/mandi, dihirup sehingga penggunaannya dapat memenuhi konsep kerja reseptor sel dalam menerima senyawa kimia atau rangsangan.Hingga sekarang, pengobatan tradisional masih diakui keberadaannya dikalangan masyarakat luas.Ini sejalan dengan kebijakan pemerintah yang terus membina dan mengembangkannya. Salah satu pengobatan tradisional yang sedang trend saat ini adalah ramuan tanaman obat secara empirik, ramuan tradisional dengan tanaman obat paling banyak digunakan oleh masyarakat. Penggunaan ramuan tradisonal tidak hanya untuk menyembuhkan suatu penyakit, tetapi juga untuk menjaga dan memulihkan kesehatan (Stepanus, 2011).
Obat tradisional telah berada dalam masyarakat dan digunakan secara empiris dapat memberikan manfaat dalam meningkatkan kesehatan tubuh danpengobatan berbagai penyakit. Departemen Kesehatan mengklasifikasikan obat tradisional sebagai jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka Obat tradisional adalah ramuan dari berbagai macam jenis dari bagiantanaman yang mempunyai khasiat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.Obat tradisional di Indonesia dikenal dengan nama jamu. Obat tradsional sendirimasih mempunyai berupa senyawa.Sehingga khasiat obat tradisional mungkin terjadidengan adanya interaksi antar senyawa yang mempunyai pengaruh yang lebih kuat(Nurhayati, 2008).
Pengetahuan tentang tanaman obat dari luar seperti india, China terdapat kemiripan dikarenakan letak geografis Nusantara di antara dua pusat kebudayan yaitu China dan India. Hubungan dagang dan penyebaran agama menjadi media penyaluran pengetahuan tentang tanaman obat.Sejak zaman kerajaan di Nusantara dari mulai Kutai Kartanegara, Sriwijaya, Majapahit sampai pada Kesultanan Mataram dan zaman VOC obat yang digunakan nenek moyang bangsa kita adalah tanaman obat.Pelajaran tentang obat modern di Indonesia berawal ketika didirikan Sekolah Dokter Djawa (STOVIA) tahun 1904 di Batavia oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter dilingkungan mereka, pada zaman itu dimulai pelajaran tentang obat-obatan moderen dengan pendekatan kimiawi, sehingga pada saat itu pengobatan tradisionil mulai sedikit terlupakan (Flora. 2008)
Keampuhan pengobatan herbal banyak dibuktikan melalui pengalaman. Berbgai macam penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan melalui pengobatan aleopati (kedokteran), ternyata masih bias diatasi dengan pengobatan herbal. Penyakit cardiovascular (penyakit yang berhubungan dengan darah dan jantung) serta penyakit saraf ternyata lebih efektif mengunakan pengobatan herbal dari pada obat-obatan kimia.Keungulan dari pengunaan tanman alami sebagai obat terletak pada bahan dasarnya yang bersifat alami sehingga efek sampingnya dapat di tekan seminimal mungkin, meskipun dalam beberapa kasus dijumpai orang-orang yang alergi terhadap tanaman herbal.Namun alergi tersebut juga dapat terjadi pada obat-obatan kimia.Tidak dapat dipungkiri bahwa obat obatan medik sering menimbulkan efek samping yang menyebabkan munculnya berbagai penyakit lain (Utami, 2008).
Kelebihan dari pengobatan dengan menggunakan ramuan tumbuhan secara tradisional tersebut adalah tidak adanya efek samping yang ditimbulkan seperti yang terjadi pada pengobatan kimiawi.Obat obatan tradisional selain menggunakan bahan ramuan dari berbagai tumbuh-tumbuhan tertentu yang mudah didapat di sekitar perkarangan rumah kita sendiri, juga tidak mengandung resiko yang membahayakan bagi pasien dan mudah dikerjakan oleh siapa saja baik dalam keadaan mendesak sekalipun (Thomas, 1992).
Bagian-Bagian Tanaman Obat yang di Manfaatkan
Tanaman obat pada umumnya memiliki bagian-bagian tertentu yang
digunakan sebagai obat, yaitu :
1.    Akar (radix) misalnya pacar air dan cempaka.
2.    Rimpang (rhizome) misalnya kunyit, jahe, temulawak
3.    Umbi (tuber) misalnya bawang merah, bawang putih, teki
4.    Bunga (flos) misalnya jagung, piretri dan cengkih
5.    Buah (fruktus) misalnya delima, kapulaga dan mahkota dewa
6.    Biji (semen) misalnya saga, pinang, jamblang dan pala
7.    Kayu (lignum) misalnya secang, bidara laut dan cendana jenggi
8.    Kulit kayu (cortex) misalnya pule, kayu manis dan pulosari
9.    Batang (cauli) misalnya kayu putih, turi, brotowali
10. Daun (folia) misalnya saga, landep, miana, ketepeng, pegagan dan sembung
11. Seluruh tanaman (herba) misalnya sambiloto, patikan kebo dan meniran
Salah satu prinsip kerja obat tradisional adalah proses (reaksinya) yang lambat (namun bersifat konstruktif), tidak seperti obat kimia yang bisa langsung bereaksi (tapi bersifat destruktif/merusak).Hal ini karena obat tradisional bukan senyawa aktif.Obat tradisional berasal dari bagian tanaman obat yang diiris, dikeringkan, dan dihancurkan. Jika ingin mendapatkan senyawa yang dapat digunakan secara aman, tanaman obat harus melalui proses ekstraksi, kemudian dipisahkan, dimurnikan secara fisik dan kimiawi (di-fraksinasi). Tentu saja proses tersebut membutuhkan bahan baku dalam jumlah yang sangat banyak (Herdiani, 2012).

Lihat juga : 

Pengertian Tumbuhan Obat beserta Keunggulan dan kelemahannya Menurut Ahli 

Pengertian Tumbuhan Obat beserta Keunggulan dan kelemahannya Menurut Ahli

Pengertian Tumbuhan Obat beserta Keunggulan dan kelemahanya Menurut Ahli
Tumbuhan obat adalah semua tumbuhan yang dapat digunakan sebagai obat, berkisar dari yang terlihat oleh mata hingga yang nampak dibawah mikroskop (Hamid et al., 1991). Menurut Zuhud (2004), tumbuhan obat adalah seluruh jenis tumbuhan obat yang diketahui atau dipercaya mempunyai khasiat obat yang dikelompokkan menjadi :
1.    Tumbuhan obat tradisional, yaitu; jenis tumbuhan obat yang diketahui atau dipercaya oleh masyarakat mempunyai khasiat obat dan telah digunakan sebagai bahan baku obat tradisional.
2.    Tumbuhan obat modern, yaitu; jenis tumbuhan yang secara ilmiah telahdibuktikan mengandung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obatdan penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
3.    Tumbuhan obat potensial, yaitu; jenis tumbuhan obat yang diduga mengandung senyawa atau bahan aktif yang berkhasiat obat, tetapi belum dibuktikan secara ilmiah atau penggunaannya sebagai obat tradisional sulit ditelusuri.
Departemen Kesehatan RI mendefinisikan tumbuhan obat Indonesia seperti yang tercantum dalam SK Menkes No. 149/SK/Menkes/IV/1978, yaitu:
1.    Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu.
2.    Bagian tumbuhan yang digunakan sebagai bahan pemula bahan baku obat (precursor).
3.    Bagian tumbuhan yang diekstraksi digunakan sebagai obat (Kartikawati, 2004).
Obat bahan alam Indonesia dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu ; jamu yang merupakan ramuan tradisional yang belum teruji secara klinis, obat herbal yang merupakan obat bahan alam yang sudah melewati tahap uji praklinis, sedangkan fitofarmaka adalah obat bahan alam yang sudah melewati uji  praklinis dan klinis (SK Kepala BPOM No. HK.00.05.4 .2411 tanggal.17 Mei 2004). Penyebaran informasi mengenai hasil penelitian dan uji yang telah dilakukan terhadap obat bahan alam menjadi perhatian bagi semua pihak karena menyangkut faktor keamanan penggunaan obat tersebut. Beberapa hal yang perlu diketahui sebelum menggunakan obat bahan alam adalah keunggulan obat tradisional dan kelemahan tumbuhan obat (Suharmiati dan Handayani, 2006).
Keunggulan Tumbuhan Obat
Manfaat atau keunggulan tumbuhan obat antara lain (Suharmiati dan Handayani, 2006):
1.    Efek samping obat tradisional relatif lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat, baik tepat takaran, waktu penggunaan,cara penggunaan, ketepatan pemilihan bahan, dan ketepatan pemilihan obat tradisional atau ramuan tumbuhan obat untuk indikasi tertentu.
2.    Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan obat/ komponen bioaktif tumbuhan obat. Dalam suatu ramuan obat tradisional umumnya terdiri dari beberapa jenis tumbuhan obat yang memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat setepat mungkin agar tidak menimbulkan efek kontradiksi, bahkan harus dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang dikehendaki.
3.    Pada satu tumbuhan bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Zat aktif pada tumbuhan obat umumnya dalam bentuk metabolit sekunder, sedangkan satu tumbuhan bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder, sehingga memungkinkan tumbuhan tersebut memiliki lebih dari satu efek farmakologi.
4.    Obat tradisional lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeneratif. Perubahaan pola konsumsi mengakibatkan gangguan metabolisme tubuh sejalan dengan proses degenerasi. Penyakit Diabetes (kencing manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi), asam urat, batu ginjal, dan hepatitis yang merupakan penyakit metabolik. Penyakit degeneratif antara lain rematik (radang persendian), asma (sesak nafas), ulser (tukak lambung), haemorrhoid (ambein/wasir), dan pikun (lost of memory).
Kelemahan Tumbuhan Obat
Menurut Zein (2005), Kelemahan tumbuhan obat sebagai berikut:
1.    Sulitnya mengenali jenis tumbuhan dan bedanya nama tumbuhan berdasarkan daerah tempatnya tumbuh.
2.    Kurangnya sosialisasi tentang manfaat tumbuhan obat terutama dikalangan dokter.
3.    Penampilan tumbuhan obat yang berkhasiat berupa fitofarmaka kurang menarik dibandingkan obat-obatan paten.
4.    Kurangnya penelitian komprehensif dan terintergrasi dari tumbuhan obat.
5.    Belum ada upaya pengenalan dini terhadap tumbuhan obat.
Untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut diperlukan waktu lama sehingga penggunaan obat alam lebih tepat, karena efek sampingnya relatif lebih kecil. Di samping keunggulannya, obat bahan alam juga memiliki beberapa kelemahan yang juga merupakan kendala dalam pengembangan obat tradisional antara lain efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai mikroorganisme (Zein, 2005). Secara umum dapat diketahui bahwa tidak kurang 82% dari total jenis tumbuhan obat hidup di ekosistem hutan tropika dataran rendah pada ketinggian di bawah 1000 meter dari permukaan laut. Saat ini ekosistem hutan dataran rendah adalah kawasan hutan yang paling banyak rusak dan punah karena berbagai kegiatan eksploitasi kayu oleh manusia (Zuhud, 2009)