Maret yang Melupa Hangat

Oleh : Lia Zaenab Zee 


Di sela hari, Maret masih ditempa
hujan. Bulir air berceceran. Sementara
orang-orang sibuk membenah
terompah basah atau sesekali
mengintip pewarta berbibir kesumba
membaca silang sengketa pemilihan
Gubernur. Hujan melupa berkirim
pesan memetik hangat atau berpinta
pada gerombol awan untuk pergi

Kaca-kaca terus dijajah basah.
Kenangan berpesta pora mengundang
air mata berlinang. Terbang ke masa
lalu, dada yang teremas merantai
langkah antara cabikan luka dan
memoar yang tak mau mati

Maret, prasasti waktu memancang
monumen, dinding-dindingnya
bungkam memendam sunyi. Gemuruh
deras air penghujung, ia deras
kesedihan dibaca kenangan bagai
banal hujan, enggan berdamai di
denyar yang selamanya gigil

Makassar, 31 Maret 2016

Pengertian Dendrologi

Dendrologi menurut Harlow dan Harrar (1969) didefinisikan sebagaiilmu yang mempelajari tentang pohon atau ilmu yang mempelajari tentang taksonomi tumbuhan berkayu termasuk pohon, perdu dan liana. Taksonomi mempelajari klasifikasi, tatanama (nomenclature) dan identifikasi obyek-obyek yang bersifat alami. Berkait dengan sifatnya yang alami, maka dendrologi tidak sekedar mempelajari hal-hal yang bersifat morfologis tetapi juga mempelajari habitat suatu pohon dan penyebarannya. Dengan demikian lingkup ilmu pengetahuan yang dipelajari  meliputi lapangan dan laboratorium.

Dengan acuan definisi dendrologi seperti di atas, maka ada beberapa istilah yang perlu dikenal definisinya terlebih dahulu agar batasannya menjadi jelas dan tidak dipertentangkan pada bahasan-bahasan selanjutnya. Beberapa istilah yang dimaksud adalah sebagai berikut:
Klasifikasi :
- penyusunan bersistem dalam kelompok atau golongan menurut kaidah atau standar yang ditetapkan (Kamus Bahasa Indonesia)
- penggolongan menurut jenis (A Glossary of Botanic Term)
Tata Nama (nomenclature): perangkat peraturan penamaan dalam ilmu (botani) beserta kumpulan nama yang dihasilkan (Kamus Bahasa Indonesia)
Identifikasi: proses pengenalan/penentuan karakteristik obyek (alami) (Kamus Bahasa Indonesia)
Pohon : tumbuhan yang mempunyai akar, batang dan tajuk yang jelas dengan tinggi minimum 5 m (Dengler)
Pohon: tumbuhan berkayu yang mempunyai satu batang pokok yang jelas serta tajuk yang bentuknya jelas, yang tingginya tidak kurang dari 8 feet (Baker)
Pohon: tumbuhan berkayu yang berumur tahunan dengan batang utama tunggal yang jelas (PROSEA)
Perdu: tumbuhan berkayu yang bercabang-cabang tumbuh rendah dekat dengan permukaan tanah dan tidak mempunyai batang yang tegak (Kamus Bahasa Indonesia).
Perdu: tumbuhan berkayu yang memiliki struktur lebih kecil dari pada pohon (A Glossary of Botanic Terms)
Perdu: tumbuhan berkayu yang bercabang dari pangkalnya, semua cabang setara (PROSEA)
Herba: tumbuhan (pendek, kecil) yang mempunyai batang basah, karena mengandung banyak air dan tidak mempunyai kayu (Kamus Bahasa Indonesia).
Herba: tumbuhan yang tidak memiliki batang berkayu di atas permukan tanah.
Liana: tumbuhan berkayu yang hidup dengan cara melilit batang tumbuhan lainnya.
Ruang lingkup Dendrologi
1. Mengenal karakteristik/sifat morfologi pohon: habitus, batang, tajuk, kulit batang,  kayu, getah, daun, bunga, buah, biji;
2. Persebaran jenis;
3. Habitat/ekologi;
4. Manfaat: komersil/non komersil;
5. Anatomi kayu;
6. Mengenal klasifikasi tumbuhan;
7. Kunci determinasi;
8. Koleksi;
9. Herbarium
Peranan dendrologi dalam kehutanan
Setiap ilmu yang dipelajari pastilah memiliki arti bagi kehidupan manusia di muka bumi ini, begitu juga dengan dendrologi. Meskipun secara keilmuan dendrologi dekat sekali dengan ilmu murni seperti halnya taksonomi, namun ternyata dendrologi memiliki arti sangat penting di bidang kehutanan.
Pengenalan jenis, dengan pengetahuan tentang ciri-ciri morfologis yang telah dipelajari dalam ilmu ini, maka dendrologi sangat berperan dalam menentukan antara lain jenis-jenis pohon komersial dan non komersial.
Ekologi > untuk dapat memilih jenis yang tepat untuk dikembangkan dalam suatu kawasan, erat kaitannya dengan pengetahuan apakah habitat kawasan tersebut sesuai dengan sifat/kebutuhan satu jenis pohon untuk tumbuh dan berkembang.
Inventarisasi/cruising > kegiatan ini sangat mengandalkan kemampuan seseorang untuk mengenali setiap jenis pohon yang ada di wilayah kerjanya agar dapat mengetahui potensinya secara tepat.
Pemuliaan > hasil yang optimal pada kegiatan pemuliaan akan dicapai apabila pengetahuan tentang jenis dan sifat-sifatnya dapat diketahui dengan pasti. Kesalahan yang fatal dapat terjadi jika misalnya terjadi kekeliruan mengenal jenis tanaman sehingga 2 tanaman yang akan disilangkan berbeda karakter genetiknya (contoh: berbeda genus atau species).
Biosistematik > ilmu ini antara lain mengembangkan pengetahuan tentang taksonomi secara molekuler. Untuk bisa mempelajarinya dengan baik dan benar maka pengetahuan tentang anatomi tumbuhan sedikit banyak diperlukan, selain itu juga diperlukan pengetahuan tentang populasi suatu jenis (contoh) dan sebagainya.
Landscape > untuk dapat menata areal dengan baik diperlukan pengetahuan tentang arsitektur pohon yang meliputi bentuk percabangan, struktur batang, bentuk tajuk dan sebagainya.
Konservasi > pengetahuan tentang jenis sangat diperlukan misalnya saja pada suatu kasus pencarian jenis-jenis tumbuhan langka untuk dikonservasi.
dan masih banyak lagi contoh tentang peranan dendrologi.
Daun (folium) adalah bagian dari tubuh tumbuhan yang merupakan alat vegetatif berguna untuk menegakkan kehidupan tumbuhan tersebut. Fungsi daun dapat dibedakan menjadi 4 yaitu: alat fotosintesa/pengolahan zat-zat makanan, alat transpirasi/penguapan air, alat respirasi/pernafasan dan alat resorpsi/pengambilan zat-zat makanan.Berdasarkan bagian-bagiannya, daun dapat dibagi menjadi 2 yaitu daun lengkap dan daun tidak lengkap. Daun dikatakan lengkap apabila memiliki helaian, tangkai dan pelepah. Sedangkan jika ada salah satu atau lebih bagian daun yang tidak ada maka daun tersebut dikatakan tidak lengkap. Daun tidak lengkap dapat berupa daun yang hanya memiliki:
1. Tangkai dan helaian saja, contoh: jati (Tectona grandis)
2. Pelepah dan helaian saja, contoh: jagung (Zea mays)
3. Helaian tanpa pelepah dan tangkai, contoh: tempuyung (Sonchus oleraceus)
4. Tangkai saja, umumnya bila terjadi hal ini tangkai menjadi pipih dan melebar sehingga menyerupai helaian. Daun semu seperti ini sering disebut dengan filodia Contoh: Acacia spp.

Pengertian Silvikultur

Silvikultur merupakan cara-cara mempermuda hutan secara alami dan buatan, serta pemeliharaan tegakan sepanjang hidupnya. Termasuk kedalam sivikultur ialah pengetian tentang persyaratan tapak atau tempat tumbuh pohon perilakunnya terhadap berbagai intensitas cahaya matahari, kemampuannya untuk tumbuh secara murni atau campuran, dan hal-hal lain yang mempengaruhi pertumbuhan pohon. Jadi sangatlah pentig untuk mengetahui silvikultur masing-masing jenis pohon, sebelum kita dapat mengelolah suatu hutan dengn baik.


Silvikultur dapat dianalogikan dengan ilmu agronomi dan holtikultura di pertanian, karena silvikultur dapat juga membicarakan cara-cara membudidayakan tumbuhan,dalam hal pohon – pohon hutan . Dalam pengertian lebih luas , silvikultur dapat disebut Ilmu pembinaan hutan, dengan ruang lingkup mulai dari pembijian , persemaian, penanaman lapangan, pemeliharaan hutan, dan cara-cara permudaannya.

Untuk itu, seorang ahli sivikultur perlu mempelajari berbagai ilmu dasar yang mendukungnya, misalnya ilmu tanah, ilmu iklim, ilmu tumbuhan (botani) ,dendrologi, fisiologi,genetika, serta ekologi. Sekarang, ahli silvikultur pada hakikatnya adalah seorang pemraktek ekologi. Kita menanam dan memelihara hutan, tidaklah hanya untuk dikagumi keidahannya, tetapi yang utama untuk dapat memanfaatkan hutan secara lestari. Dengan demikian ,aspek ekonomi termasuk kedalam pengertian sivikultur sejak dini. Meskipun demikian, alam tetap merupakan guru kita yang tebaik. Karena itu kaidah-kaidah dalam hokum alam harus selalu diperhatikan. Hal ini sangat terlihat bika kita hendak membangun hutan tanaman, dan menggunakan jenis pohon asaing yang didatangkan dari luar kawasan , atau dari luar negeri.

Sementara penulis, seperti Baker (1950) dan Hawley and Smith (1962), membagi ilmu silvikultur atas dua bagian, yaitu silvik dan silvikultur. Demikian pula pembagian tersebut dapat diartikan sebagai dasar teori silvik dan penerapan praktek silvikultur. Tanpa memahami dasar teori, memang sulit untuk mengembangkan penerapan sivikultur di lapangan. Silvik dapat menjawab berbagai pertanyaan berikut: mengapa suatu jenis pohon dipilih untuk ditanam di suatu tapak tertentu? Mengapa ditanam secara murni atau dicampur dengan jenis lain? Mengapa ditanam dengan cara vegetatif atau generative ? Mengapa diperlukan simbiosa dengan jamur pembentuk mikoriza ? Mengapa untuk keperluan reboisasi tanah kritis diperlukan jenis pohon pionir atau pelopor? Dan sebagainya.
 
Dengan uraian diatas, maka sekarang dapat diberikan batasan pengertian atau definisi istilah-istilah yang digunakan.

Silvik ialah ilmu yang mempelajari sejarah hidup dan ciri-ciri umum pohon dan tegakan hutan dalam kaitannya dengan factor-faktor lingkungannya.
Silvikultur ialah ilmu dan seni menghasilkan dan memelihara hutan dengan menggunakan pengetahuan silvik untuk memperlakukan hutan serta mengendalikan susunan dan pertumbuhannya.

Kehutanan ialah ilmu, seni dan praktek mengurus dan mengelolah sumberdaya hutan secara lestari bagi manfaat manusia.

Hutan ialah suatu lapangan betumbuhan pohon-pohon yang secara seluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem.
Asas Kelestarian Hasil ialah dasar atau pegangan seorang rimbawan dalam mengelolah hutan yang bertujuan menanam hasil hutan berupa kayu maupun non kayu secara lestari, tanpa membahayakan kemampuan berproduksinya.

Rimbawan ialah seseorang yang karena berpendidikan, pelatihan dan pengalamannya, berkeahlian dan mampu melaksanakan kegiatan-kegitan kehutanan. Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa silvikultur menempati dan memainkan peranan sentral dalam setiap kegiatan kehutanan yang lestari. Silvikultur merupakan tiang utama dalam kehutanan.

Cara Menggunakan Bahan Pelajaran dan Mengenal Peserta Didik

Cara Menggunakan Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran atau referensi yang digunakan dalam proses pembelajaran menjadi salah saru faktor terpenting dalam jalannya kegiatan belajar mengajar. Karena dari bahan ajarlah pendidik mendapat semua ilmu pengetahuan yang akan sampaikan kepada peserta didik. 

Untuk itu sebagai seorang pendidik sebelum memulai kegiatan belajar mengajar harus mempersiapkan hal-hal seperti di bawah ini: 
  1.Sediakan keterangan-keterangan/saran-saran untuk membantu peserta didik tentang cara menggunakan buku bacaan secara efektif, antara lain mengenai kata pendahuluan dan kata pengantar, daftar isi, maksud dari judul tiap bagian dalam suatu pasal, petunjuk footnote, penggunaan indeksi, dan maksud bibliografi.
  2.Pelajari perpustakaan secara teliti untuk memperoleh bahan-bahan yang mungkin baik bagi pendidik maupun peserta didik ketika mereka mengerjakan unit. Dan aturlah bahan-bahan ini di dalam satu daftar yang rapi.
  3. Buatlah satu daftar alat peraga yang diperlukan dan bahan-bahan yang bersumber dari masyarakat. Susunlah sedemikian rupa, sehingga mudah mempergunakannya dalam pengajaran.
  4.Susun suatu peraturan dalam menggunakan bahan dan perlengkapan-perlengkapan belajar.
   5. Rencanakan kegiatan belajar secara terperinci dan awasilah kelas pada saat itu.
  1) Pilih beberapa peserta didik di dalam kelas yang tampaknya kurang bersemangat bekerja. Pelajari secara seksama latar belakang parapeserta didik ini, sehingga pendidik dapat melihat sebab-sebab kekurangan minat mereka. Berdasarkan penyelidikan ini, cobalah lakukan pendekatan terhadap masing-masing peserta didik tersebut dengan memberikan perhatian secara khusus terhadap mereka.
  2) Lakukanlah musyawarah dengan pendidik-pendidik lainnya mengenai cara-cara menimbulkan perhatian anak. Supaya kita dapat menyusun teknik-teknik memberikan dorongan yang sesuai dengan situasi dan kondisi.
  3) Adakan suatu obrolan pedagogis dengan para peserta didik untuk mengetahui hal-hal apakah yang menarik perhatian mereka di dalam pekerjaannya. Obrolan pedagogis ini membutuhkan suatu rencana yang teliti.
Hal-hal seperti ini yang perlu diperhatikan oleh setiap pendidik untuk mempersiapkan bahan pelajaran dalam proses belajar mengajar di kelas.
Mengenal Peserta Didik
Sebaiknya seorang pendidik dalam hal mendidik, mengajar dan melatih sebelumnya alangkah baiknya bisa mengenal siapa yang diajarnya. Hal ini sangat penting juga agar pendidik bisa mengetahui apa yang sebenarnya diperlukan oleh seperta didiknya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Dalam hal ini akan diberikan beberapa petunjuk untuk membantu para pendidik bekerja dengan para peserta didik secara individual dalam kelas. Pendidik dapat mengerjakan banyak hal untuk membimbing perkembangan dan pertumbuhan setiap peserta didik, apabila peserta didik telah dikenal sebaik-baiknya. Karena itu perlu diperhatikan bahwa pendidik harus mengenal peserta didik dengan mempelajari minat, kebutuhan, masalah pribadi mereka secara individual. Dan usahakanlah agar mereka mengetahui, bahwa antara pendidik dan peserta didik itu telah terjadi hubungan yang akrab. Selain itu perlu diketahui, bahwa di antara sekian jumlah peserta didik tersebut, sesungguhnya tidak ada dua orang yang persis sama, akan tetapi masing-masing berbeda satu sama lain. Itu sebabnya pengajaran individual sangat diperlukan.
Seorang pendidik harus mempunyai keterangan lengkap tentang para peserta didiknya yang meliputi:
  a. Latar belakang psikologis para peserta didik yang meliputi hasil-hasil tes kecerdasan. Tes perasaan, dan kecakapan, penyesuaian diri anak-anak di keluarga dan masyarakat.
  b. Latar belakang kemampuan peserta didik yang meliputi kemajuan dalam mata pelajaran yang akan diberikan dan mata pelajaran yang berhubungan. Caranya adalah dengan menggunakan tes diagnosis dan tes kemampuan dalam keahlian dasar, seperti bahasa dan berhitung.
  c. Latar belakang kesehatan fisik para peserta didik, seperti penglihatan dan  pendengaran, gangguan-gangguan kesehatan, gejala-gejala penyakit, dan kesehatan urat syaraf.
  d. Latar belakang para peserta didik, yang meliputi pengalaman kerja, partisipasi kegiatan di dalam dan di luar kelas, karyawisata, dan keanggotaaan dalam organisasi di luar sekolah.
  e. Latar belakang perhatian anak-anak mengenai pendidik (kejuruan atau umum), peradaban dan kebudayaan, perhatian sosial orang tua.
Latar belakang yang disebut di atas adalah bahan untuk seorang pendidik dalam mengenal secara menyeluruh kepada para peserta didik. Setelah pendidik mengenali setiap karakter peserta didik, pendidik sudah bisa memutuskan untuk menggunakan metode atau strategi apa yang harus digunakan dalam proses belajar mengajar agar setiap peserta didik bisa menerima penyampaian pembelajaran dengan baik dan memahami. Banyak hal dapat diperoleh oleh pendidik untuk memperoleh pengalaman di dalam mempelajari individu anak.
  a. Usahakan memperoleh catatan tentang para peserta didik sebagai keterangan seperti: kumpulan catatan, selidiki tentang bagaimanakah keterangan itu disusun, bagaimanakah perubahan-perubahan itu dicatat, apakah yang harus dilakukan dengan hal-hal tersebutapabila parapeserta didik lulus ujian. Dengan cara ini pendidik bisa mengetahui seberapa besar minat seorang peserta didik dalam mengikuti proses belajar mengajar dengan memperhatikan apa yang disampaikan pendidik dan mencatat dengan baik apa yang perlu dicatat untuk bahan belajar di rumah.
  b. Pilih beberapa peserta didik dan buatlah suatu kesimpulan yang terperinci tentang semua keterangan yang dijumpai tentang mereka. Ini berguna sekali untuk menentukan kebutuhan-kebutuhan tiap peserta didik. Kelompokkan menurut klasifikasi sebagai berikut: secara psikologis, hasil belajar, kesehatan, pengalaman, perhatian dan rumah.
  c. Buatlah satu rencana tentang hal-hal atau alat-alat yang diperlukan oleh pendidik untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan pesertadidik yang bersangkutan sebagaimana mestinya. Alat-alat yang diperlukan dalam hal ini maksudnya untuk digunakan dalam proses belajar mengajar yaitu dalam hal instrumen atau praktek ilmiah atau pun praktek shalat.
  d.  Adakan konsultasi dengan pendidik rawat UKS (unit kesehatan sekolah) mengenai cara memperbaiki: kelemahan jasmani dan kebutuhan kesehatan peserta didik yang berhubungan erat dengan pendidik dan mata pelajaran. Kesehatan sangatlah penting untuk menunjang kegiatan sehari-hari apalagi dalam kegiatan belajar mengajar. Peserta didik akan menerima pembelajaran dengan baik jika kondisi jasmaninya sehat. Sebaliknya, jika kondisi jasmaninya sedang kurang sehat atau sakit, pasti peserta didik tersebut susah untuk berkonsentrasi dalam menerima pelajaran.
  e. Lakukan kunjungan ke rumah peserta didik. Tujuan kunjungan, pengaturan waktu tujuan kunjungan, pelaksanaan kunjungan dan pencatatan hasil-hasil kunjungan. Dengan catatan: jagalah kebersihan dan kesederhanaan dalam berpenampilan dan sopan santun dalam berbicara sebagai pendidik terhadap peserta didik untuk tetap terpeliharanya kewibawaan pendidik di mata peserta didik/orang tua, batas bahan obrolan pada kepentingan pembinaaan pedagogis, buatlah time schedule yang tepat (tidak terlalu lama kunjungan dan tidak mengganggu ketentraman keluarga, hindarkan kunjungan diwaktu orang sedang tidur.
  f.  Pilihlah beberapa peserta didik dan adakan pertukaran pikiran dengan mereka. Musyawarah ini dilaksanakan segera setelah bertugas di sekolah. Perhatikan hal-hal seperti ini; tujuan musyawarah, tempat dan waktu, peraturan musyawarah, dan catatan hasil musyawarah.
Dengan menjalin komunikasi langsung secara intens bisa membantu pendidik untuk  lebih efektif dalam mengenal kepribadian peserta didik. Dengan melakukan pembicaraan secara langsung secara berkala bisa menimbulkan hubungan psikologis antara pendidik dan peserta didik.

Praktek Kependidikan Dalam Kelas

Disarankan kepada pendidik-pendidik baru agar melakukan langkah pendekatan dengan sistem baru, yakni dengan mempergunakan rencana unit.

Perencanaan mengajar. Dianjurkan agar para pendidik petunjuk-petunjuk di bawah ini dalam ruang lingkup pandangan yang luas. Hendaknya pendidik memperoleh keterangan-keterangannya yang lengkap untuk menjelaskan hal-hal yang dipergunakan bagi para peserta didik dalam rencana unit tersebut. Karena itu setiap pendidik hendaknya memiliki pengalaman yang memadai tentang bagaimana membuat suatu rencana unit sebagai persiapan mengajar. Kegiatan-kegiatan berikut ini disarankan untuk dilakukan:

Baca Juga : Pengertian Pendidik
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah periksalah waktu belajar, petunjuk-petunjuk kurikulum, sumber unit, jika hal ini tersedia pada sekolah tempat praktek itu, dengan maksud untuk memperoleh gambaran yang jelas mengenai pelajaran dalam satu tahun, melihat bagaimana petunjuk-petunjuk kurikulum diatur, untuk mendapat pemahaman yang lebih baik tentang rencana unit, untuk memperoleh suatu gagasan tentang unit-unit yang akan diajarkan.
Buatlah suatu rencana yang menyeluruh untuk satu tahun bagi satu kelas yang akan diajarkan itu. dan rumuskan judul unit itu berdasarkan pandangan yang objektif. Sediakanlah bahan-bahan keterangan selengkapnya yang bertalian dengan mata pelajaran-mata pelajaran. Bahan-bahan ini sangat berguna, baik dalam penyusunan maupun dalam pelaksanaan unit melalu kerja sama pendidikpeserta didik. Ambillah satu unit pelajaran dan buatlah garis besarnya secara jelas dalam bentuk persiapan harian.
Mengajar secara efektif sangat bergantung pada pemilihan dan pengunaan metode mengajar yang serasi dengan tujuan mengajar. Cara belajar-mengajar yang baik ialah mempergunakan kegiatan para peserta didik sendiri secara efektif dalam kelas, merencanakan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan sedemikian rupa secara continue dan juga melalui kerja kelompok. Banyak hal dapat dilakukan sebelumnya dan selama para peserta didik melakukan kegiatan-kegiatan belajar, sehingga lebih berhasil. Saran-saran berikut sebaiknya diikuti oleh setiap pendidik.
Kegiatan-kegiatan yang perlu dipelajari dalam hal ini adalah memulai kegiatan belajar, merencanakan kegiatan-kegiatan belajar, membantu para peserta didik dengan mengikutsertakan mereka dalam pengajaran, merencanakan pengaturan tempat duduk peserta didik dan bagaimana menolong peserta didik jika menemui kesulitan. Pendidikpun harus bisa membantu peserta didik menyediakan suatu kegiatan melalui kerja sama dengan organisasi peserta didik umpamanya bekerja dengan ketua dalam pembicaraan diskusi yang berkenaan dengan tanggungjawabnya sebagai seorang pimpinan, membantu seorang peserta didik menyusun sebuah laporan dan sebagainya. 

Pendidik menyediakan saran-saran selengkapnya agar para peserta didik dapat turut mengambil bagian dalam suatu diskusi kelas, sebagai ketua, anggota, kelas dan perumus. Sediakanlah saran-saran terperinci untuk menolong anak-anak merencanakan dan menyampaikan laporan lisan, yang meliputi cara mencari bahan, mengorganisir bahan tersebut, menyediakan catatan, cara bertindak di depan kelas dan menyampaikan laporan di depan kelas. Sediakan satu ejaan dan daftar perbendaharaan bahasa untuk satu unit yang diajarkan.

Pengertian Pendidik


Pendidik adalah seorang yang digugu dan ditiru, karena dipercaya dan diyakini apa yang disampaikannya. Sebagai seorang yang digugu dan ditiru, maka pendidik memiliki peran yang sangat dominan bagi seorang peserta didik. Para ahli pendidikan di seluruh dunia sepakat bahwa tugas pendidik ialah mendidik dan mengajar. James W. Brown, mengemukakan bahwa tugas dan peranan pendidik antara lain menguasai dan pengembangkan materi pelajaran, merencana dan mempersiapkan pelajaran sehari-hari, mengontrol dan mengevaluasi kegiatan peserta didik.


Menurut Moh. Uzer Usman pendidik adalah jabatan atau profesi yang memerlukan keahlihan khusus sebagai pendidik. Pendidik dalam masyarakat, dari yang paling terbelakang sampai yang paling maju, pendidik memegang peranan penting. Hampir tanpa kecuali, pendidik merupakan satu di antara pembentuk-pembentuk utama calon warga masyarakat. Memang benar, ada masyarakat yang mengakui pentingnya peranan pendidik itu dengan cara yang lebih kongkret daripada masyarakat yang lain. 

Baca Juga : Praktek Kependidikan Dalam Kelas 
 
Banyak orang tua yang kadang-kadang merasa cemas akan kemampuan pendidik anak-anak mereka itu sewaktu mereka menyaksikan anak-anak mereka berangkat sekolah. Dan pendidik-pendidik, setelah beberapa bulan pertama mengajar, pada umumnya sudah menyadari betapa besar pengaruh-pengaruh terpendam yang mereka miliki terhadap pembentukan akal budi para peserta didik mereka.
Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan  pembelajaran. Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari peserta didik, pendidik, dan tenaga lainnya, misalnya tenaga laboratorium. Material, meliputi buku-buku, papan tulis, dan kapur, fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan  terdiri dari ruangan kelas, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya.
Tidak semua pendidik membutuhkan pertolongan. Benar jugalah pernyataan bahwa “Pendidik itu dilahirkan, bukan dibentuk”. Beberapa orang memang benar-benar dilahirkan sebagai pendidik. Mereka itu adalah orang yang tidak pernah memikirkan caranya mengajar, meskipun demikian mereka itu pendidik-pendidik yang sangat hampir baik menurut ukuran apapun.
Orang-orang semacam itu tidak banyak memerlukan pertolongan dalam memperbaiki pengajaran mereka. Mereka sungguh-sungguh boleh dikatakan pendidik-pendidik yang berbakat, tidak dapat diragukan lagi mereka itu mampu memberikan inspirasi. Pendidik yang merupakan salah satu unsur di bidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntunan masyarakat yang semakin berkembang.
Dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri pendidik itu terletak tanggung jawab untuk membawa para peserta didiknya pada suatu kedewasaan atau taraf  kematangan tertentu. Dalam permasalahan ini pendidik di tuntut untuk bisa membawa peserta didik bisa mengerti dan memahami pelajaran agama Islam dengan baik dan benar.
Proses dalam pengertiannya di sini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar yang satu sama lainnya saling berhubungan dalam ikatan untuk mencapai tujuan. Yang termasuk komponen belajar mengajar antara lain tujuan instruksional yang hendak dicapai, materi pelajaran, metode mengajar, alat peraga pengajaran, dan evaluasi sebagai alat ukur tercapai tidaknya tujuan
Dalam proses seorang pendidik memerlukan komponen-kompenen bantuan seperti yang disebutkan di atas untuk digunakan secara maksimal dalam proses belajar mengajar agar bisa berlajan dengan baik dan lancar sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Komponen-komponen itupun meliputi referensi bahan ajar seperti buku, alat peraga, ruangan kelas yang memadai dan nyaman dan lingkungan yang bersih dan baik untuk digunakan agar motivasi belajar peserta didik bisa muncul. Pembelajaran ialah membelajarkan peserta didik menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan. Pembelajaran merupakan proses komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak pendidik sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik . Konsep pembelajaran menurut Corey adalah suatu proses di mana lingkungan seseorang secara disengaja dikelolah untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respons terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus pendidikan.

Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu dengan lingkungannya. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.Perubahan itu bersifat relatif konstan dan berbekas. Dalam kaitan ini, proses belajar dan perubahan merupakan bukti hasil yang diproses. Belajar tidak hanya mempelajari mata pelajaran, tetapi juga penyusunan, kebiasaan, persepsi, kesenangan atau minat, penyusuaian sosial, bermacam-macam keterampilan lain, dan cita-cita.    

 Baca Juga : Cara Menggunakan Bahan Pelajaran dan Mengenal Peserta Didik 

          Dengan demikian, seseorang dikatakan belajar apabila terjadi perubahan pada dirinya akibat adanya latihan dan pengalaman melalui interaksi dengan lingkungan. Mengajar menurut William H. Burton adalah upaya memberikan stimulus, bimbingan pengarahan, dan dorongan kepada peserta didik agar terjadi proses belajar. Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat.
Berhasilnya pendidik pada peserta didik sangat bergantung pada pertanggungjawaban pendidik dalam melaksanakan tugasnya. Mengajar merupakan suatu perbuatan atau pekerjaan yang bersifat unik, tapi sederhana. Dikatakan unik karena hal itu berkenaan dengan manusia yang belajar, yakni peserta didik, dan yang mengajar, yakni pendidik, dan berkaitan erat dengan manusia di dalam masyarakat yang semuanya menunjukkan keunikan. Dikatakan sederhana karena mengajar dilaksanakan dalam keadaan praktis dalam kehidupan sehari-hari, mudah dihayati oleh siapa saja.
Mengajar pada prinsipnya membimbing peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan peserta didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar. Pengertian ini mengandung makna bahwa pendidik dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar peserta didik dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang ada di kelas, maupun yang ada di luar kelas, yang menunjang kegiatan belajar mengajar.
Semakin akurat para pendidik melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta dan terbinanya kesiapan dan keandalan seseorang sebagai manusia pembangunan. Dengan kata lain, potret dan wajah diri bangsa di masa depan tercermin dari potret diri para pendidik masa kini, dan gerak maju dinamika kehidupan bangsa berbanding lurus dengan citra para pendidik di tengah-tengah masyarakat. 
Sejak dulu dan mudah-mudahan sampai sekarang, pendidik menjadi panutan masyarakat. Pendidik tidak hanya diperlukan oleh para peserta didik di ruang-ruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapai masyarakat.
Tampaknya masyarakat memposisikan pendidik pada tempat yang terhormat dalam kehidupan masyarakat, yakni di depan memberi suri tauladan, di tengah-tengah membangun, dan di belakang memberi dorongan dan motivasi. Ing ngarso sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.