Tidur Sedetik untuk Melupakan


Kehidupan tak selamanya berproses seperti yang kita inginkan, itulah kadang berbanding terbalik antara harapan dan kenyataan (baca : Antara Harapan & Kenyataan). Namun, itulah kehidupan yang sedetailnya kita merencanakan dengan analisis yang luas, mendalam dan objektif tetap saja membutuhkan campur tangan Dia sang Maha Segalanya. Jenuh pun tak luput untuk menghampiri dalam menghiasi kenyataan hidup sebagai manusia yang tidak sempurna dalam karakter dan berpikir.
Barometer besarnya permasalahan atau tantangan yang juga sering disebut cobaan dalam kehidupan berdasarkan seberapa besar tingkatan pemahaman kita tentang nilai sebuah kehidupan yang berlangsung. Besarnya cobaan diukur berdasarkan seberapa besar kemampuan kita untuk menghadapinya, sehingga benar dikatakan bahwa Tuhan itu Maha Adil, saking adil-NYA sehingga tak jarang kita menjadi pesimis dan sedikit keliru dalam berpikir.
Tuhan tidak adil, kata itu sering mengalir dari hati dan mulut kita saat nilai kapasitas cobaan itu datang. Wajar saja, sebab kita hanya manusia yang tidak sempurna. Namun, ketidak sempurnaan itu bukan alasan untuk kita menyalahkan segala sesuatu dalam keadaan tertentu, tapi kita juga kadang harus bijak dan berusaha untuk berpikir jernih. Banyak pilihan untuk merangsang kejernihan berpikir saat dibayangi oleh emosi sebuah cobaan, salah satunya berdiskusi dengan orang yang kita anggap mampu untuk menanggapi dan mendengar dengan baik serta dapat memberikan solusi yang cukup bijaksana atau merenungkan diri sejenak (baca : Renungkan Diri Sejenak) melalui penyembahan sujud syukur kepada Sang Pencipta atas segala nikmat yang diberikan. Namun, jika berbagai solusi untuk berpikir jernih telah dilakukan dan hasilnya kita masih dibayangi emosi yang labil, maka tidurlah sedetik untuk melupakan, meskipun hanya sedetik namun kita akan merasa lepas dari berbagai problematika kehidupan tersebut. Tidur sedetik untuk melupakan masalah, tidur sedetik untuk melupakan keberadaan kita di alam ini dan tidurlah sedetik untuk menjernihkan pikiran. Sehingga disaat kita bangun nanti, kita menjadi tenang dan mungkin sedikit bijaksana untuk berbikir secara benar dalam menanggapi sebuah kewajaran permasalahan kehidupan.
Tidur sedetik bukan untuk melupakan selamanya. Namun, tidur sedetik untuk memberikan ketenangan seluruh organ dan saraf tubuh sehingga alam menjadi saksi dan sahabat untuk merespon jiwa dalam ketenangan sejenak.
Semoga dengan tidur sejenak kita menjadi tenang, sabar, bijaksana dan stabil dalam emosi untuk menanggapi segala alur proses kehidupan sebab manusia tetaplah manusia dengan segala kelebihan dan kekurangan yang pasti.


EmoticonEmoticon