Pengertian Ekosistem Laut, Terumbu Karang dan Zona Perlindungannya

Pengertian Ekosistem Laut , Terumbu Karang dan Zona Perlindungannya
Ekosistem Laut Kepulauan Sula

Pengertian Ekosistem Laut
Ekosistem laut adalah segala bentuk sistem kehidupan yang berada di laut dan saling berinteraksi atau melakukan hubungan timbal balik antara satu dengan yang lainnya.

Ekosistem laut merupakan sistem akuatik yang terbesar di planet bumi (Nybakken, 1988, hlm: 33). Lautan menutupi lebih dari pada 80 persen belahan bumi selatan tetapi hanya menutupi 61 persen belahan bumi utara, dimana terdapat sebagian besar daratan bumi (Nybakken, 1988, hlm: 11).
Bagian laut terdiri dari dua bagian yaitu bagian dasar dan bagian yang berair atau pelagik (dari kata Yunani pelages = laut). Secara vertikal laut dibagi dalam beberapa lapisan kedalamn, berurutan dari lapisan paling atas ialah: epipelagik (200 m), mesopelagik (200 - 1000 m), batipelagik (1000 - 4000 m), abisopelagik (4000 - 6000 m) dan hadalpelagik dibawah 6000 m. bagian dasar laut (bentik) dinamakan sesuai dengan lapisan atasnya yaitu batial, abisal dan hadal (Rahardjo et al, 2011).
Sebuah ekosistem laut perlu dilindungi demi terbentuknya suatu sistem lingkungan kehidupan laut yang baik, demi kelangsungan hidup seluruh makhluk hidup yang berada di laut.
Pengertian ekosistem terumbu karang

Organisme penyusun terumbu karang ( Scleractinia ) hidup bersimbiosis dengan alga Zooxanthellae yang dalam proses biologisnya alga mendapat karbondioksida (CO2) untuk proses fotosintesis dan zat hara dari hewan-hewan terumbu karang (Haruddin et al , 2011).
Menurut bentuk dan letaknya, pertumbuhan ekosistem terumbu karang dikelompokkan menjadi tiga tipe terumbu karang (Nybakken 1992) yaitu:
a.    Terumbu karang pantai (fringing reefs)
Terumbu karang ini berkembang di pantai dan mencapai kedalaman tidak lebih dari 40 meter. Terumbu karang ini tumbuh keatas dan kearah laut. Pertumbuhan terbaik biasanya terdapat di bagian yang cukup arus. Sedangkan diantara pantai dan tepi luar terumbu, karang batu cenderung mempunyai pertumbuhan yang kurang baik, bahkan banyak yang mati karena sering mengalami kekeringan dan banyaknya endapan yang datangdari darat.
b.    Terumbu karang penghalang (barrier reefs)
Terumbu karang ini terletak agak jauh dari pantai dan dipisahkan dari pantai tersebut oleh dasar laut yang terlalu dalam untuk pertumbuhan karang batu (40-70 meter). Terumbu karang ini berakar pada kedalaman yang melebihi kedalaman maksimum dimana karang batu pembentuk terumbu dapat hidup. Umumnya terumbu tipe ini memanjang menyusuri pantai dan biasanya berputar seakan-akan merupakan penghalang bagi pendatang yang datang dari luar.
c.  Terumbu karang cincin (atoll)
Terumbu karang ini merupakan bentuk cincin yang melingkari suatu goba ( Lagon). Menurut Sukarno et al. (1983) kedalaman rata - rata goba didalam atol sekitar 45 meter, jarang sampai 100 meter. Terumbu karang ini juga bertumpu pada dasar laut yang dalamnya diluar batas kedalaman karang batu penyusun terumbu karang hidup.
Zona perlindungan ekosistem laut
Oleh karena itu, zona perlindungan di laut juga harus dilakukan. Berdasarkan pedoman umum pembentukan daerah perlindungan laut, zona perlindungan yang terdapat di Daerah Perlindungan Laut terdiri dari 3 (tiga) zona sebagai berikut:
a.    Zona inti
Merupakan  kawasan  yang  dipilih  dan  ditetapkan  untuk  ditutup  secara permanen dari kegiatan perikanan dan pengambilan sumberdaya. Kunci utamanya adalah adanya suatu kawasan yang ditetapkan sebagai zona inti yaitu zona larang ambil permanen. Zona inti penekanan pengelolaannya dikonsentrasikan pada upaya perlindungan. Kegiatan yang boleh dilakukan terbatas  dan  hanya  mengarah  pada  kegiatan  pendidikan,  penelitian  dan pengembangan ilmu pengetahuan.
b.     Zona penyangga
Zona ini berada di luar kawasan konsevasi yang berfungsi untuk menyangga keberadaan jenis biota laut beserta ekosistem yang terdapat didalamnya terhadap adanya gangguan dari luar yang dapat membahayakan keberadaan potensinya.  Selain  fungsi  pengamanan  juga  berfungsi  sebagai  kawasan pengembangan budidaya maupun pelaksanaan pembangunan dalam bentuk pengembangan pemanfaatan yang dapat dilakukan oleh masyarakat yang berada di sekitarnya.
c.     Zona pemanfaatan tradisional
Zona ini berada di luar zona penyangga yang dialokasikan untuk pemanfaatan sumberdaya alam secara tradisional oleh masyarakat s etempat dalam upaya mendukung pembangunan sosial dan ekonominya. Disamping pemanfaatan secara tradisional, zona ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan sarana prasarana rekreasi dan pariwisata secara lestari COREMAP (2008).


EmoticonEmoticon