November Kelabu di Sudut Kota

Oleh : Fandi Umanahu (Pemerhati Sosial)
November Kelabu di Sudut Kota
November dan grand tragedi yang tak terduga bisa terjadi, itulah sepenggal kalimat untuk meratapi November yang akan meninggalkan jejak dan sejarahnya. November pergi berlalu tanpa pamit dia hanya menitipkan sebuah alkisah tentang pertikaian antara manusia selama masa periode berjalannya sang November ini.
Inilah skenario yang dimainkan sang November ini terhadap penghuni bumi (manusia) yang tidak diketahui oleh manusia dan hanya DIA dan yang tidak dapat dilihatlah yang mengetahuinya. Ya, inilah fakta yang terjadi di dalam bulan November ini, gejolak kehidupan yang kian memanas membuat seluruh jagad raya menjadi saksi atas kejadian di bulan November kali ini.
Etape – etape kejadian datang seperti mengalahkan istilah kata bagi seorang wanita atau pria yang sedang berpacaran kemudian datang masalah, si wanita atau pria mengatakan putus satu tumbuh seribu. Hampir seluruh kompleksitas masalah yang besar datang di bulan November kali ini sehingga membuat perjalanan kehidupan ( civil society ) seakan-akan tidak bermakna. Ada apa? Dan salah siapa? hanya DIA yang tau.
Peristiwa yang terjadi di bulan November kali ini adalah peristiwa besar, bukti nyata adalah peristiwa DKI antara Ahok vs Almaidah dan Islam Indonesia dan aksi gelap yang dilakukan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab atas pemboman salah satu gereja di Samarinda, di Amerika juga terjadi hal yang sama seperti di DKI yaitu demonstrasi besar-besaran, hanya saja isu yang di angkat berbeda. Negeri Paman Sam itu lagi dalam tahapan pemilhan presiden, alhasil sebagian masyarakat gedung putih itu menolak hasil pemilu dan belum siap menerima kandidat yang keluar sebagai pemenang. Inilah deretan kasus atau tragedi besar yang terjadi pada bulan November kali ini, apalagi kalau di hitung secara keselurahan dari peristiwa yang besar sampai pada peristiwa yang kecil sangatlah banyak dan ini ibarat film yang berepisode inipun bias dan mengguncang dunia. Kesaksian dan sejarah atas kenyataaan yang terjadi di bulan November menguji kekuatan dan analisa manusia. 
Mengutip bahasa dari sahabat Rasululla SAW, Ali Bin Abi Tholib bahwa “ kebaikan yang tidak terorganisir bisa dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir”. Mungkin bisa dikatakan demikian sebab kelihatan bahwa penghuni bumi ( manusia ) ingin melakukan yang terbaik untuk bumi tetapi tidak terorganisir sehingga kejahatan mudah datang dengan sendirinya. November kali ini hadir cukup ganas dan memperlihatkan amarahnya lewat tangan manusia. Novemberpun dapat merubah tatanan sosial manusia. Tatanan sosial yang di jaga dan dirawat oleh manusia dengan mudahnya di bisa digunjang.
November memberikan pekerjaan rumah bagi manusia dan November kali ini tidak lagi bersahabat dengan manusia, ia datang dengan cuaca dan wajah yang gelap, November kali ini ibarat lirik lagunya Gun’N RosesNovember Rain “ ( hujan November ). November, manusia dan kota-kota merupakan sentral aktivitas manusia dan perkembangannya, kota inilah sebagian besar manusia merubah cara berpikir dan cara bergaulnya.
Ekosistem manusia dan kota ibaratkan dua keping mata uang tidak bisa dipisahkan, kota menyemangatkan manusia dan manusia yang menjadikan kota yang dahulunya adalah sebuah perkampungan kumu, meminjam kalimat dari Aldo van Eyck “sebuah kota adalah sebuah rumah yang sangat besar dan sebuah rumah adalah sebuah kota yang sangat kecil”. manusia yang membuat sehingga seluruh keberagaman terjadi di kota dari hasil cipta, rasa, karsa, sampai pada karya.
November, kota dan manusia sudah tidak berkawan, garis horizontal sebagai makro cosmos dan mikro cosmos terputus untuk periode kali ini, realitas peristiwa atas periode kali ini terlihat majemuk dalam pendefenisian sementara yakni November datang dengan kejam melempar bola ke tangan dan kaki manusia dan manusia yang mengelolanya, sementara si manusia untuk periode kali ini performanya kurang baik sehingga bola ya diberikan November tadi tidak dapat dikelola dengan baik. Bola yang dimaksud adalah tata kelola manusia terhadap lingkungannya, kehidupan sosial baik, akhirnya yang ada hanyalah kesenjangan sosial.
Peristiwa November kali ini, memebuat November tidak terlihat bercahaya, manusiapun demikian sepertinya belum siap menjemput, menjalani, bahkan mengakhiri November hingga kota terlihat sepertinya mati, mati dalam konteks kehidupan sosial, kehidupan sosial yang banyak persoalan yang terlihat, ketidaksiapnya manusia akhirnya kota yang jadi korban, karena dimaksud iyalah kehidupan yang harmonis, akur, kerja sama, dan lain sebagainya.
Kini yang ada hanyalah kesenjanag sosial, pertikaian, perbedaan pendapat yang tak bermakna dan saling menjatuhkan. November kali ini kelabu dan tidak berwarna, kota pun demikian terlihat seperti mati, mati karena manusia yang melakukannya. Udara seakan terasa berubah atas dimensi kehidupan saat ini, hanya dapat bertahan dalam sisa-sisa mimpi. Sepenggal meminjam lirik lagu dari salah satu band ternama di Indonesia sebagai akhir dari tulisan ini, “warna seperti berubah di kota mati” Peterpan.


EmoticonEmoticon