Ngambek Seharian (Hal 3)

Pagi itu, aktivitas di rumah begitu ramai, seperti biasanya kesibukan rutin petani di desa yang berkumpul di rumah Mail saat akan menjual hasil kebun berupa kelapa yang sudah dikeringkan (kopra) dan biji tanaman cokelat yang telah dikeringkan dan siap dimasukan ke dalam karung.
Nai yang saat itu telah berumur 3 tahun, sibuk di sekitar rumah dengan mainan mobil-mobilan yang terbuat dari kayu.
“Papa lagi apa ? “ tanya si Nai kepada Mail yang lagi sibuk menjahit mulut karung (bagian atas karung) dengan tali plastik.
“ Lagi jahit karung nak” jawab Mail serta melirik Nai yang lagi berlari
“ Papa mau pergi ke kota ya ?” Nai kembali bertanya
“Iya... nak, papa mau ke kota” Mail pun senyum melihat Nai yang begitu besar keingintahuannya.
Nai yang pada saat itu begitu dimanja oleh kedua orang tuanya Mira dan Mail. Selalu memberikan apa yang diinginkan oleh Nai, rasa manja pun semakin bersemayam pada karakter Nai pada saat itu.
Sebuah kewajaran dalam kehidupan, jika kemudian Nai dimanja, sebagai anak laki-laki yang sangat diinginkan oleh kedua orang tuanya, si bungsu ini pun mendapatkan perhatian lebih dibandingkan dengan ketiga kakak perempuannya Nur, Ida dan Ria. Namun, mereka bertiga pun memaklumi sikap kedua orang tua mereka meskipun kadang-kadang rasa cemburu itu ada.
“Nai ikut ke kota ya papa ?” permintaan manja dari Nai
“Jangan dulu ya nak, cuacanya lagi kurang baik” Mail menjawab dengan senyum, sambil melihat ke arah langit yang mulai gelap.
“ Mama... Nai ikut ya” sahut Nai kepada Mira
“Jangan ya... nanti aja kalau lain kali jika cuacanya baik” Mira langsung memeluk Nai
Saking manjanya, Nai pun langsung menangis memeluk kencang ibunya
“ikut...ikut...ikut” teriakan Nai sambil berontak di pelukan ibunya
“Ayo jalan...” seruan Mail kepada semua warga desa yang berada di ruma pagi itu. Mail pun langsung bergegas sebab Nai akan semakin menangis jika dia terus berada di rumah.
Jadi langkah terbaik yaitu langsung bergegas membawa muatan mereka ke mobil muatan yang telah terparkir sejak tadi pagi di depan rumah. Warga desa yang tadinya berkemas hasil kebun di rumah Mail pun sudah bersiap untuk membawa bungkusan karung mereka masing-masing.
Melihat orang-orang semua telah pergi, Nai pun semakin merontak untuk turun dari dari gendongan ibunya dan berlari ke arah mobil.
“ ikut...ikut...ikut” teriakan Nai sambil menangis
Mira hanya ikuti Nai dan membujuknya
“ Ayo jalan aja pak sopir” Ucap Mail ke sopir
“Iya pak “ jawab sopir sambil menghidupkan mobil
Mobil telah pergi dan Nai masih menangis dan semakin menangis melihat mobil pergi.
Mira membujuk untuk masuk, namun agresifnya anak pada umur 3 tahun ini cukup besar sehingga membuat kewalahan ibunya. Ibunya hanya melihat Nai yang menangis sambil duduk di tanah desa yang belum diaspal itu. Mungkin Mira sengaja membiarkan dia menangis untuk melepaskan rasa kesalnya karena tidak diajak Mail sehingga Mira hanya melihat sambil sesekali memanggil namanya
“Nai...Nai..Nai... ayo masuk, jangan menagis lagi”
Nai tak menghiraukan dan terus menangis sambil menggosok-gosok kakinya ditanah.
Mira paham betul karakter Nai sebagai anak yang manja, jika semakin dibujuk dia akan semakin menangis, begitulah karakter orang manja pada umumnya. Maka Mira bergegas masuk ke dalam rumah sambil mengamatinya dari sudut jendela.
Melihat mamanya telah masuk, tak berapa lama kemudian Nai juga ikut masuk kerumah. Tapi kali ini tidak lagi menangis tapi hanya diam seribu bahasa.
“Ada-ada saja tingkah si Nai “ kata Mira sambil tersenyum melihat tingkah anak lelaki semata wayangnya ini.
“Makan dulu Nai” Mira memanggil Nai dengan memperlihatkan makanan yang akan diberikan.
Nai hanya diam dan tak menghiraukan ucapan ibunya ini. Ternyata dia mulai ngambek dan pergi menjauh dari Mira.
Mengetahui Nai lagi ngambek, Mira memberinya sepotong kue.
“ Sayang mau kue ngga ?” tanya Mira membujuk
Bahasa diam masih melekat diwajah Nai.
“Kue ini enak lho” kembali bujukan Mira, sambil memberikan kue ke Nai
Nai hanya berjalan menjauh dan terus menjauh. Mira membalikan badanya dan tersenyum melihat tingkah anaknya ini.
Akhirnya Nai hanya ngambek seharian, tapi tanpa diketahui Mira, Nai diam-diam mengambil yang diberikan tadi dan memakannya. Tapi yang masih anak-anak tak mengetahui kalau ternyata ibunya sengaja menaruh kue itu dan pergi karena begitulah tingkah anak manja, semakin dibujuk semakin ngambek.
Nantikan sambungan cerita berikutnya...


EmoticonEmoticon