Enak Dengan Kawan Bersama Malam

Genggulang - Pondok bambu menyinggakan diriku malam ini. Malam yang hangat tanpa kebersamaan. Sebab, ku tebak kalian dikejahuan. Tak ku dapat kalian di selah malam. Lagi karena sebab, aku berfikir kalian tidak nampak di sampingku. Meski begitu, aku serius ingat dan mengingatkan jahunya kejahuan diriku untuk kalian.
Ingat. Sebut dan menyebutkan, aku bersama malam terus cari bersamaan langkah yang hilang dengan jarak-jarak kejahuan. Tapi, ku bisah tebak. Karena kalian tak ku lihat, mata berspekulasi menghantarkan hati dan fikir untuk mengucapkan; 'malam sebelum tidur,' dan tidurlah.
Malam sengit berlarut-larut. Larut menebak-tebak. Tebak dimana kalian wahai kawan. Kawan dimalam yang rindu menyapa hadirku di samping kebersamaan. Tak usah, dengar kawan; kita bagaikan rokok yang terisi tembakau tanpa pisah bersama asap kenikmatan.
Tidurlah, semoga kita bermimpi untuk hidup. Hidup yang bernuansa jerit-menjeritkan. Jangan bernuansa indah karena hidup, sebab, hidup yang indah adalah manja untuk dunia. Keras dan mengeraslah. Mengeras untuk tubuh dan akal fikirmu. Disitulah hidup, hidup untuk nikmat dan menikmati hidup.
Permisi malam.
Genggulang, 28 September 2016.
Tri Putra.S.Saleh SH,.
Lihat juga Tri Saleh : Etika Politik dan Wilayah Abu-Abu 


EmoticonEmoticon