Contoh Karya Ilmiah Tanaman Obat 2016


I.                  PENDAHULUAN
I.I   Latar Belakang

            Chandra (1990) dalam Soekarman dan Riswan (1992) menyebutkan bahwa  etnobotani berasal  dari  dua  kata,  yaitu  etnos  (berasal  dai  bahasa  Yunani)  yang   berarti   bangsa   dan   botani yang   berarti   tumbuh-tumbuhan.

            Indonesia memiliki budaya pengobatan tradisional termasuk penggunaan tumbuhan obat sejak dulu dan dilestarikan secara turun-temurun. Dalam pemanfaatan tanaman obat ini setiap daerah memiliki cara yang berbeda-beda sebagaimana yang dikemukakan oleh Rifai (1998), kelompok etnik tradisional di Indonesia mempunyai ciri-ciri dan jati diri budaya yang sudah jelas terdefinisi, sehingga diduga kemungkinan besar persepsi dan konsepsi masyarakat terhadap sumberdaya nabati di lingkungannya berbeda, termasuk dalam pemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional.    

Contoh Karya Ilmiah Tanaman Obat 2016

            Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sistem budaya masyarakat yang potensi manfaatnya sangat besar dalam pembangunan kesehatan masyarakat.
Sebagai langkah awal yang sangat membantu untuk mengetahui suatu tumbuhan berkhasiat obat adalah dari pengetahuan masyarakat tradisional secara turun temurun (Dharma, 2001).

1.2   Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pemanfaatan jenis tumbuhan obat di ...............................................................................................................................

1.3   Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pemanfaatan jenis tumbuhan obat di desa ....................................................

II.               TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Etnobotani

Chandra (1990) diacu dalam Soekarman dan Riswan (1992) menyebutkan bahwa  etnobotani  berasal  dari  dua  kata,  yaitu  etnos(berasal  dai  bahasa  Yunani)  yang   berarti   bangsa   dan   botani yang   berarti   tumbuh-tumbuhan.  
Menurut   Soekarman dan Riswan (1992) istilah etnobotani sebenarnya sudah lama dikenal, etnobotani  sebagai  ilmu  mempelajari  pemanfaatan  tumbuhan  secara  tradisional  oleh   suku-suku   terkecil,   saat   ini   menjadi   perhatian   banyak   pakar   karena   keberadaanya  dan  statusnya.  Rifai  dan  Waluyo  (1992)  mengemukakan  bahwa  etnobotani  adalah  mendalami  hubungan  budaya  manusia  dengan  alam  nabati  sekitarnya.   Dalam   hal   ini   diutamakan   pada   persepsi   dan   konsepsi   budaya   kelompok  masyarakat  dalam  mengatur  sistem  pengetahuan  tentang  tumbuhan  yang dimanfaatkan di dalam masyarakat tersebut.

Status  etnobotani  sebagai  ilmu  tidak  mengalami  masalah,  akan  tetapi  status  obyek  penelitiannya  sangat  rawan  karena  cepatnya  laju  erosi  sumber  daya  alam,  terutama  flora  dan  pengetahuan tradisional  pemanfaatan  tumbuhan  dari  suku  bangsa   tertentu.  Untuk menunjang  hal tersebut diperlukan     pendokumentasian  berupa  dokumen  tertulis,  foto,  majalah, film,  atau  dilakukan  dengan pengumpulan spesimen (Soekarman & Riswan 1992).

2.2 Keanekaragaman Sumberdaya Alam Hayati Indonesia

Sumberdaya   hayati   Indonesia   yang   begitu   besar   baik   yang   berupa   tumbuhan, hewan, maupun jasad renik sangat beranekaragam. Menurut    Soekarman dan Riswan (1992),  Indonesia diperkirakan dihuni oleh kurang lebih 100-150 suku tumbuhan meliputi 25-30 ribu jenis tumbuh-tumbuhan yang ada di hutan-hutan. 

2.3  Sistem Pengetahuan Tradisional

Pengetahuan merupakan kapasitas   manusia  untuk  memahami  dan menginterpretasikan baik  hasil  pengamatan maupun  pengalaman, sehingga  bisa  digunakan untuk meramalkan ataupun sebagai dasar pertimbangan  dalam   pengambilan  keputusan  (Kartikawati  2004).  Menurut Soekarman  dan  Riswan (1992), pengetahuan tradisional adalah pengetahuan yangdimiliki oleh masyarakat lokal secara  turun-temurun. 

Pusat dari pengetahuan tradisional  mengenai   pemanfaatan   tumbuhan  ini   umumnya dijumpai di negara-negara   berkembang,  yang  umumnya  terletak  pada  kawasan  tropika  baik  di  Amerika,  Afrika, dan Asia. Di negara-negara ini pula terdapat suku bangsa yang merupakan sumber  dari  pengetahuan  tradisional  serta  sumber  daya  hayati  yang  meliputi  tumbuhan, hewan dan jasad renik. Pada  masyarakat  lokal,  sistem  pengetahuan  tentang  tumbuhan  merupakan pengetahuan  dasar  yang  amat  penting  dalam  mempertahankan  kelangsungan  hidup  mereka. 

2.4  Pemanfaatan Tumbuhan Obat

Indonesia  memiliki  hutan  yang  sangat luas,  tercatat  143.970.000  hektar  luasan  hutan  tersebar  di  seluruh  pulau.  Tidak  heran  jika  hutan  yang  sangat  luas  5 itu,  memiliki  keanekaragaman  tumbuhan  yang  sangat  tinggi  (Sastrapradja  et  al.1992).  Dalam   perkembangan   hidupnya,   manusia   mengenal   betul   keadaan   sekelilingnya   dan   memperhatikan   segalasesuatu   yang   bias   dipakai   untuk   mempertahankan   hidupnya.   Salah   satu   benda   hidup   yang   berada   di   sekitar   manusia adalah tumbuh-tumbuhan. Manusia benar-benar memperhatikan tumbuh-tumbuhan karena merupakan salah satu benda yang sangat penting dalam menjaga kelangsungan   hidupnya,   yaitu   sebagai   sumber   makanan   pokok   (Kartiwa   &   Martowikrido 1992).

Menurut Purwanto dan Walujo (1992), tumbuhan berguna dikelompokkan berdasarkan  pemanfaatannya   antara   lain   tumbuhan   sebagai   bahan   pangan,   sandang, bangunan, obat-obatan, kosmetik, alat rumah tangga dan pertanian, tali-temali,  anyaman,  pelengkap  upacara  adat  dan  kegiatan  sosial,  minuman  dan  kesenian.    

2.5 Tumbuhan obat

Menurut  Zuhud  et  al.(1994),  tumbuhan  obat  adalah  seluruh  spesies  tumbuhan  obat  yang  diketahui  dan  dipercaya  mempunyai  khasiat  obat,  yang 
dikelompokkan  menjadi  3  kelompok  tumbuhan  obat,  yaitu:  (1)  Tumbuhan  obat  tradisional,  yaitu  spesies  tumbuhan  yang  diketahui  atau  dipercaya  memiliki  khasiat  obat    dan  telah  digunakan  sebagai  bahan  obat  tradisional;  (2)  Tumbuhan  obat   modern,   yaitu   spesies   tumbuhan   yang   secara   ilmiah   telah   dibuktikan   mengadung senyawa atau bahan bioaktif yang berkhasiat obat dan penggunaannya dapat  dipertanggungjawabkan  secara  medis;  dan  (3) Tumbuhan  obat    potensial,  yaitu    spesies  tumbuhan  yang  diduga  mengandung  senyawa  atau  bahan  bioaktif  yang  berkhasiat  obat,  tetapi  belum  dibuktikan  secara  ilmiah  atau  penggunannya  sebagai bahan obat tradisional.

Keuntungan  obat  tradisional  yang  dirasakan  langsung  oleh  masyarakat  adalah  kemudahan  untuk  memperolehnya  dan  bahan  bakunya  dapat  ditanam  di  pekarangan  sendiri,  murah  dan  dapat  diramu sendiri  di  rumah  (Zein  2005).  Bagi  masyarakat  Indonesia  khususnya  yang  tinggal  di  pedesaan  (di  sekitar  hutan),  maka   pemanfaatan   tumbuhan   sebagai   obat   untuk   kepentingan   kesehatannya   6 bukanlah  merupakan  hal  yang  baru  tetapi  sudah  berlangsung  cukup  lama  (Uji  et al. 1992).

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1   Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di Desa ................................................ Penelitian ini akan dilaksanakan selama 2 minggu

3.2   Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah  alat tulis menulis, kuesioner, kamera,  tali, gunting, kantung plastik, label gantung, pisau/cutter, kertas koran, sasak, alkohol 70%,

1.2    Metode Penelitian

Metode yang digunakan adalah wawancara, pengisian kuisioner dan observasi tentang tumbuhan obat. Selanjutnya data pemanfaatan tumbuhan obat akan dianalisis secara tabelaris deskriptif.

DAFTAR PUSTAKA

Darnaedi   SY. (1998). Sentuhan   Etnosains   dalam   Etnobotani:   Kebijakan Masyarakat Lokal dalam Mengelola dan Memanfaatkan Keanekaragaman  Hayati  Indonesia.  Prosiding  Seminar  dan  Lokakarya Nasional  Etnobotani  III.Departemen  Pendidikan  dan  Kebudayaan  RI, Departemen  Pertanian  RI,  LIPI.Perpustakaan  Nasional  RI. Bogor.  Hal: 53-55.

Dharma, A. 2001.Uji Bioaktifitas Metabolit Sekunder. Makalah Workshop Peningkatan Sumber Daya Alam Hayati dan Rekayasa Bioteknologi. FMIPA UNAND, Padang.

Kartikawati  SM.  2004.  Pemanfaatan  Sumberdaya  Tumbuhan  oleh  Masyarakat  Dayak   Meratus   di   Kawasan   Hutan   Pegunungan   Gunung   Meratus,   Kabupaten  Hulu  Sungai  Tengah.  [tesis].  Bogor:  Program  Pascasarjana  Institut Pertanian Bogor. 

Rifai, M.A. 1998. Pemasakinian Etnobotani Indonesia : Suatu Keharusan demi Peningkatan Upaya Pemanfaatan, Pengembangan dan Penguasaannya. Prosiding Seminar Nasional Etnobotani III ( 5-6 Mei 1998, Denpasar-Bali) : 352-356.

Rifai  AM, Waluyo   EB.   1992.   Etnobotani   dan   Pengembangan Tetumbuhan   Pewarna  Indonesia:  Ulasan  Suatu  Pengamatan  di  Madura. Di  dalam:  Seminar   dan   Lokakarya   Nasional   Etnobotani;   Cisarua-Bogor,   19-20   Februari   1992.  Bogor:   DepartemenPendidikan   dan   Kebudayaan   RI,   Departemen Pertanian RI, LIPI, Perpustakaan Nasional RI. Hal: 119-126.

Sastrapradja  O,  Sutisna,  Kalima  T.  1992.  Keanekaragaman  pemanfaatan  jenis-jenis  pohon  dipterocarpaceae  oleh  penduduk  asli  Indonesia.  Di  dalam:  Seminar   dan   Lokakarya   Nasional   Etnobotani;  Cisarua-Bogor,   19-20   Februari   1992.   Bogor:   DepartemenPendidikan   dan   Kebudayaan   RI,   Departemen Pertanian RI, LIPI, Perpustakaan Nasional RI.Hal: 344-357

Soekarman,  Riswan  S.  1992.  Status  Pengetahuan  Etnobotani  di  Indonesia.  Di  dalam: Seminar  dan  Lokakarya  Nasional  Etnobotani;  Cisarua-Bogor,  19-20  Februari  1992.  Bogor:  Departemen Pendidikan  dan  Kebudayaan  RI,  Departemen Pertanian RI, LIPI, Perpustakaan Nasional RI.Hal: 1-7.


EmoticonEmoticon