Proses Penggambaran Peta Secara Digital

A. Persiapan
Persiapan  dilakukan untuk semua tema baru yang akan diinputkan. 

Pada tahap persiapan yang harus dikerjakan adalah :
a) Pengecekan masing-masing lembar kenampakan peta secara manual sehingga bila terdapat kesalahan peta dapat diketahui untuk diperbaiki terlebih dahulu pada peta manualnya.
b) Pengecekan proyeksi dan parameter yang menyertai serta sistem koordinat yang dipakai.
c) Pengecekan antar lembar peta yang berdampingan, sehingga diketahui bila ada garis yang tidak menyambung, poligon terputus dsb. Langkah ini dimaksudkan untuk membantu dalam proses edgematching.
d) Mempersiapkan titik ikat (tic) beserta koordinatnya (biasanya tic diletakkan pada persimpangan garis bujur dan lintang pada ujung-ujung frame). Apabila tidak memungkinkan, tic diletakkan pada kenampakan yang dapat diketahui koordinatnya, misalnya perempatan jalan atau percabangan sungai.
e) Memilah layer-layer yang ada pada peta masukan ( misalnya layer jalan, sungai, dsb ).
f) Mempersiapkan kodefikasi unsur/legenda pada masing-masing layer yang ada, mengacu pada kodefikasi baku.
g) Mempersiapkan sistematika penyimpanan tema / layer dalam komputer (direktori beserta subdirektorinya ).
B. Penggambaran/Digitasi
Sebelum pekerjaan penggambaran/digitasi dimulai agar dipastikan bahwa kondisi peta cukup datar dan stabil terpasang pada meja digitizer (tidak berubah posisinya, tidak menggelembung, dsb.) agar pada saat digitasi dilakukan tidak perlu kembali ketahap persiapan karena peta bergeser dsb.
Dalam perkembangannya proses digitasi saat ini dapat dilakukan langsung pada komputer tanpa menggunakan meja digitizer yang lebih dikenal dengan on screen digitizing. On screen digitizing adalah pendijitan gambar raster (.jpg, .bmp, .tif, dsb) pada display komputer menjadi gambar vektor (.shp dsb), gambar raster ini biasanya diperoleh dari scanner, camera atau peralatan input/output lainnya dalam bentuk digital.
Secara umum digitasi pada perangkat lunak SIG dapat dibedakan dalam dua cara yaitu metode streamline dan point. Pada metode yang pertama perangkat lunak SIG akan menghasilkan titik koordinat setiap interval jarak tertentu sehingga operator cukup menjalankan kursor mengikuti garis yang didigit, sambil menekan tombol. Pada metoda kedua koordinat hanya akan dihasilkan apabila operator menekan tombol pada kursor. Pada dasarnya besarnya data baik cara pertama maupun cara kedua tergantung jarak vertex, bedanya adalah bahwa cara pertama akan menghasilkan jarak vertex yang hampir sama untuk seluruh ruas garis, sedangkan cara kedua sangat dipengaruhi kestabilan operator dalam mendijit tiap vertex. Kedua metoda ini dapat diterapkan dengan mempertimbangkan jenis data yang akan didijit.
Beberapa tahapan di dalam proses penggambaran secara digital antara lain :
1) Penyusunan Layer Base
Layer Base yang dimaksud disini adalah layer yang berisi garis batas antara polygon daratan dan polygon perairan. Garis batas tersebut dapat berupa garis pantai, garis sungai ganda, maupun garis danau, waduk.
Digitasi layer base dilakukan tersendiri sampai diperoleh garis yang benar dan menyambung antar sisi. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan batas perairan dan daratan yang saling menyambung untuk masing-masing lembar yang bersebelahan. Oleh karena itu, sebaiknya digitasi layer base dilakukan dan disempurnakan terlebih dahulu (melalui proses editing dan edgematching) sebelum memulai digitasi layer-layer lain. Digitasi tema lain akan selalu mengacu kepada layer base.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan dijitasi layer base adalah sebagai berikut :
a).  Georeferensi
Untuk mendapatkan layer base dalam sistem koordinat yang diinginkan (misalnya Geografis, Universal Transverse Mercator atau proyeksi lainnya) perlu diberi acuan koordinat (georeferencing/georeferensi). Georeferensi  dilakukan agar layer yang akan didijit memiliki sistem koordinat sesuai dengan sistem koordinat sumber peta,  menggunakan perangkat bantu (utility) SIG yang ada.
Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Membuat layer base baru
Memasukkan tic (titik kontrol) berikut koordinatnya pada layer baru tersebut, sekurang-kurangnya 4 titik dengan sebaran yang mewakili lembar peta
Jenis georeferensi / transformasi koordinat menggunakan affine, kemudian memeriksa tingkat kesalahan (RMS) output tidak melebihi 0,1 mm pada skala petanya.
Memeriksa hasil transformasi, bila perlu ulangi prosesnya agar memperoleh hasil yang lebih akurat.
Proses georeferensi ini dilakukan lebih awal sebelum melakukan dijitasi isi peta.
b). Dijitasi
Antar Vertex dibuat sebesar-besarnya 0,3 mm.
Sebelum menginjak ke proses selanjutnya yaitu editing hasil digitasi, seluruh data dalam lembar peta agar diteliti kembali untuk memastikan bahwa semuanya telah dimasukkan (tidak ada yang tertinggal) sehingga tidak perlu kembali ke proses sebelumnya.
c). Editing
Proses editing dilakukan untuk mengoreksi kesalahan digitasi, sehingga dihasilkan layer base yang sudah siap untuk diproses pada tahap selanjutnya.Koreksi-koreksi yang dilakukan meliputi :
Koreksi poligon, dimana setiap poligon diberi id (label) sesuai dengan aturan kode yang telah ditetapkan. Seluruh poligon harus tertutup sempurna.
Koreksi garis, dimana setiap garis diberi id (label) sesuai dengan aturan kode dan bebas  dari perpotongan (intersecting), overshoot antar garis maupun dangle akibat dari undershoot.
Penyusunan (building) topologi agar dihindarkan penggunaan pemotongan (clean) supaya tidak muncul polygon baru yang tidak dikehendaki.
 Pengecekan kesalahan label.
d).  Transformasi koordinat
Untuk mendapatkan layer base dalam sistem koordinat yang diinginkan (misalnya Geografis, Universal Transverse Mercator atau proyeksi lainnya) perlu dilakukan transformasi koordinat dari sistem koordinat sebelumnya/lama (koordinat meja/baris dan kolom untuk raster, atau sistem koordinat lain) ke dalam sistem koordinat yang diinginkan/baru menggunakan perangkat bantu (utility) SIG yang ada.
Langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut :
Membuat layer base baru
Memasukkan tic berikut koordinatnya pada layer baru, sekurang-kurangnya 4 tic, tersebar mewakili lembar peta.
•Transformasi koordinat menggunakan affine, kemudian memeriksa tingkat kesalahan (RMS) output tidak melebihi 0,1 mm pada skala petanya.
Periksa kembali hasil transformasi, bila perlu lakukan editing.
e).  Edgematching/Penyambungan sisi
Proses egdematching dilakukan terhadap lembar-lembar yang berdampingan, sehingga terjaga konsistensi antar ujung lembar (persambungan) baik ke samping secara horisontal (ke sisi kiri atau kanan) maupun secara vertikal (ke atas atau ke bawah).
Proses edgematching dimaksudkan untuk mendapatkan layer yang terjaga konsistensi kenampakan maupun panjang/luasan baik secara parsial (perlembar) ataupun secara gabungan   (yang terdiri dari beberapa lembar peta) yang dilakukan secara wajar.
 f).  Penggabungan (Merge)
Penggabungan antar lembar dapat dilakukan dengan tujuan integritas peta suatu wilayah misalnya kabupaten / provinsi / Indonesia (seamless) serta untuk kemudahan dalam mencari dan mengakses suatu lokasi. Penggabungan dilakukan dengan bantuan perangkat SIG
g).  Geodatabase
Geodatabase adalah basis data spasial. Layer base yang dianggap sudah dianggap bersih dari kesalahan-kesalahan geometris maupun topologi, kemudian dimasukkan ke dalam geodatabase dengan tujuan agar memudahkan dalam membangun aturan-aturan (topologi) yang relevan terhadap layer base maupun terhadap tema / layer lainnya pada saatnya.
Toleransi yang digunakan saat membangun geodatabase adalah sebesar nilai default atau setara dengan 1mm.
h).  Topologi
Untuk menjaga dan menguji konsistensi layer base, perlu membangun topologi. Topologi dimaksudkan untuk membangun aturan-aturan serta menjaga agar layer-layer yang dibuat selalu mengikuti aturan-aturan dimaksud. Misalnya suatu layer tidak boleh keluar / melebihi batas-batas layer base, suatu layer tidak boleh tumpang tindih dengan layer tertentu, dsb.
Aturan / topologi yang dibangun disesuaikan dengan tema dan kondisi alami (nature) dari data spasialnya. Misalnya untuk tema / layer kawasan hutan pada satu provinsi, tidak diperbolehkan adanya tumpang tindih  antar poligon dalam layer yang sama, dan harus berada dalam batas-batas provinsi yang bersangkutan.
2).  Penyusunan Layer  Tema Lain.
Tampilan untuk layer / tema lain selalu akan menggunakan base  yang sama (dalam hal ini adalah base yang sudah dianggap clean). Oleh Karen itu pada saat digitasi tema lain, pastikan layer base digunakan sebagai latarbelakang (background) sebagai acuan.
Sistim koordinat layer tema lain baik poligon, garis, maupun titik mengacu layer base. Sebelum melakukan dijitasi terhadap layer tema lain, maka sistim koordinat layer base diturunkan terhadap tema lain tersebut dengan bantuan perangkat SIG yang tersedia dan dengan sekurang-kurangnya empat titik kontrol, serta nilai RMS tidak melebihi 0,1 mm. Kemudian layer-layer tema ini dimasukkan ke dalam geodatabase dan dibuatkan topologi yang relevan dengan memperhatikan sifat alamiah data.
a). Digitasi
Ketelitian registrasi titik kontrol pada saat menggunakan digitizer maupun menggunakan transformasi affine sebelum on screen digitizing  diusahakan sekecil mungkin (RMS kurang atau sama dengan 0.1 mm).
Digitasi feature sesuai dengan aturan digitasi seperti pada layer base dengan kodefikasi berdasarkan pada tema yang dimaksud (sesuai standarisasi kodefikasi data spasial yang berlaku pada lingkup Kehutanan).
Untuk mengurangi kesalahan dalam mendigit, masukkan terlebih dahulu layer tema yang akan didigit ke dalam geodatabase, dan bangunlah topologi dengan aturan yang relevan.
Lakukan digitasi sebagaimana mestinya, bila perlu periksa topologinya setiap kali selesai mendijit sejumlah poligon, garis, maupun titik. Hal ini berguna untuk memudahkan saat editing.
Anotasi / Toponimi / Label dimasukkan ke dalam suatu basis data yang memiliki field ID disamping field text/anotasinya, serta field lainnya seperti kemiringan, kode warna, dsb. Gunakan standar ID sebagaimana pada  kamus data spasial sebagai panduan penyusunan data spasial yang sistematis sehingga memudahkan dalam pengintegrasian data.
b).  Editing, Edgematching, Penggabungan
Proses editing, edgematching, dan penggabungan dilakukan dengan cara yang sama seperti layer base.
3. Pemberian Atribut (Pemasukan data non spasial)
Pemberian atribut meliputi pemberian data / informasi / karakteristik record / objeknya. Sebagai contoh suatu poligon dapat memiliki atribut luas, keliling, status, id. Bilamana dipandang perlu, geodatabase dapat dihubungkan dengan database lainnya melalui suatu id yang unik (tidak duplikasi dengan id objek lainnya).
Filed-field serta id dibuat berdasarkan kamus data spasial yang telah ada / baku. Apabila kamus datanya belum tersedia, maka terlebih dahulu dibuatkan dan kemudian didokumentasikan.


EmoticonEmoticon