Sentuhan Ramadhan 2016

Setelah berpikir panjang tentang judul tulisan ini, akhirnya sampailah kepada pilihan judul yang singkat diatas yaitu “ Sentuhan Ramadhan 2016”. Sudah terbiasa berpuasa tanpa keluarga besar, bahkan saking terbiasanya semua terlihat biasa-biasa saja oleh mata-mata kerabat yang memandang sepintas tanpa berkedip. Bahkan naluri para perantau kian peka dengan waktu yang terus berlari dan bermain-main dengan kehidupan dalam kecupan tantangan. Namun, dibalik hati yang kekar tetap saja terdapat secuil kerinduan yang selalu menyentuh kenyataan disaat waktu berhenti sejenak. Rindu akan waktu yang memalingkan wajah, rindu kerinduan yang takan hilang, rindu akan semua yang terkenang dan rindu akan amarah dan tangisan bocah-bocah cantik dengan kegagahan cerita gaduh mereka.
Shalat di bandara Samratulangi
Entah kenapa jari ini nakal di Ramdhan 2016 ini dan memberikan isyarat kalau Ramdahan sebelumnya damai dan tenang, jari-jari pun masih tetap nakal menggabungkan kata-kata yang tak rapi hingga nalar menjadi jelas dengan hati yang tenang. Sebuah kerinduan yang tak terarah menjadi utuh dalam kenikmatan rasa yang hampir klimaks. Sebuah wajah yang penuh debu mulai dibersihkan secara perlahan dengan harapan tak akan kotor seperti wajah sang waktu dibalik detik-detik putaran jarum jam.
Bulan Ramadhan menjadi momentum dimana sebuah bentuk evaluasi diri untuk menjadi makna keluarga, lingkungan sekitar dan kerabat, semua berada dalam denah yang berbeda dalam hasrat kepatuhan sebagai hamba yang lemah dengan sedikit kesempurnaan dari Tuhan. Ada yang lain di Ramadhan ini, sosok manusia yang mulai jernih dengan pengharapannya kepada DIA Sang pemilik harapan, sosok manusia yang menjadi ruang pemikiran dalam perasaan baik, sosok manusia yang mengenali kembali siapa dirinya dengan memetik semua kesalahan-kesalahan kedalam kotak-kotak tenang.
Sebuah sentuhan Ramadhan yang paham akan jasad ini sebagai sistematisnya konsep Tuhan dalam kesadaran jalan-jalan keabadian. Kembali mengevaluasi kesalahan-kesalahan yang sadar akan gerakannya, kesalahan yang acuh pada asalnya, kesalahan-kesalahan yang paham dalam kesengajaan dan kesalahan-kesalahan yang tersenyum dengan kesalahan.
Kerinduan mengalir ke muara permohonan dalam racikan Doa sehingga harapan semakin peka untuk menjadi manusia-manusia terdahulu sebagai sosok bening meskipun kadang terkena hujan. Menjadi manusia yang lebih baik lagi dan bukan hanya alibi yang tertata rapi dalam bangkai yang harum. Menjadi manusia-manusia yang bermanfaat bagi manusia lain dan sepintas melupakan manfaatnya, menjadi manusia yang selalu sadar dalam pemahamanya dan menjadi manusia dengan hakekat kemanusiaan.
Tuhan akan memberikan permohonan kita saat kita siap untuk menerimanya
Ato Basahona


EmoticonEmoticon