Contoh Proposal Penelitian Pertumbuhan Bibit Sengon (paraserianthes falcataria. L) Pada Berbagai Media Tumbuh

Oleh : Sukarman
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Banyak hutan di Indonesia mengalami kerusakan sehingga mempengaruhi fungsi hutan dalam menyediakan air, pangan, papan dan sumber daya hutan lainnya. Kerusakan hutan terjadi karena kompromi masyarakat dan pemerintah terhadap fungsi ekonomis lebih besar dari pada fungsi ekologi hutan. Penghutanan kembali sangat penting dilakukan untuk mengendalikan fungsi ekonomi dan ekologi secara seimbang. Penanaman kembali membutuhkan  jenis- jenis tanaman yang memiliki pertumbuhan yang cepat, dapat tumbuh pada sebaran iklim yang luas dan memiliki nilai ekonomis tinggi.

Sengon (Paraserianthes falcataria) merupakan tanaman yang dapat tumbuh pada sebaran iklim yang luas, tetapi lebih mudah tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini Memiliki daya hidup tinggi karena kultur perakaran yang menghunjam kedalam dan melebar kesamping. Bahkan antara besaran batang dan besaran akar hampir seimbang. Daya jangkauan akar yang luas dan mendalam yang menyebabkan sengon mempunyai daya hidup yang tinggi. Sengon memiliki akar tunggang. Batang berbentuk bulat tidak berbanir. Kulit luarnya berwarna putih tidak beralur dan tidak mengelupas. Berat jenis kayu rata-rata 0,33 dan termasuk kelas awet IV-V. Daun sengon tersusun majemuk menyirip ganda dengan anak daun kecil-kecil dan mudah rontok. Buah berbentuk polong, pipih, tipis dan panjangnya sekitar 6-12 cm. Setiap polong buah berisi 15-30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman, agak keras dan berlilin. Pohon sengon merupakan pohon yang serba guna. Dari mulai daun hingga perakarannya. Keragaman penggunaan dan manfaat kayu sengon diantaranya. Daun sengon merupakan pakan ternak yang sangat baik karena mengandung protein tinggi. Sistem perakaran banyak mengandung nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri Rhizobium, sehingga dapat meningkatkan porositas dan penyediaan unsur nitrogen dalam tanah.  Memiliki akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah sehingga dapat menarik hara yang berada pada kedalaman ke permukaan tanah. Bagian yang memberikan manfaat yang paling besar dari pohon sengon adalah batang kayunya. Dengan harga yang cukup  menggiurkan saat ini sengon banyak diusahakan untuk berbagai keperluan dalam bentuk kayu olahan berupa papan dengan ukuran tertentu sebagai bahan baku pembuat peti, papan penyekat, pengecoran semen dalam konstruksi, industri korek api, pensil, papan partikel dan bahan baku idustri pulp kertas ( Hartanto, 2011).
Dengan sifat-sifat kelebihan yang dimiliki sengon. Sengon menjadi pilihan bagi para petani maupun investor dan menjadi salah satu kebijakan pemerintah melalui DEPHTBUN untuk menggalakkan ’Sengonisasi’ di sekitar daerah aliran sungai (DAS) di Jawa, Bali dan Sumatra (Hartanto, 2011), Oleh karena itu sengon merupakan tanaman yang cukup  potensial untuk di kembangkan. Untuk mengembangkan pembudidayaan sengon maka ketersediaan bibit yang berkualitas  dalam jumlah yang mencukupi merupakan salah satu faktor  pendukung. Faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan bibit sengon adalah media tumbuh yang berkualitas. Media tumbuh yang berkualitas diperlukan untuk mendorong proses pertumbuhan bibit yang lebih baik. Untuk mendapatkan media tumbuh yang berkualitas maka penelitian mengenai pertumbuhan bibit sengon pada berbagai media tumbuh (Tanah, Campuran Tanah dengan Pasir, Campuran Tanah dengan sekam bakar, dan Campuran Tanah dengan Coco peat  sangat perlu dilaksanakan.  
1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi media tanam terhadap pertambahan tinggi, diameter dan jumlah daun bibit sengon. Kombinasi media tanam tersebut adalah : 1. Tanah, 2. Campuran tanah dengan pasir, 3. Campuran tanah dengan sekam bakar, 4. Campuran tanah dengan cocopeat.
1.3 Hipotesis
Diduga terdapat pengaruh kombinasi media tumbuh terhadap pertambahan tinggi, diameter dan jumlah daun bibit sengon (Paraserianthes falcataria).
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan bagi yang ingin melaksanakan pembibitan sengon yang ada hubungannya dengan media tumbuh dan menambah pengetahuan tentang pembibitan sengon.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tinjauan Umum Sengon (Paraserianthes falcataria)
        Sengon (Paraserianthes falcataria ) merupakan tanaman penghasil kayu yang dapat tumbuh pada sebaran ketinggian 0 - 800 m dpl, suhu antara 180- 270C, Batas curah hujan minimum yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan kering, dan kelembaban antara  50% - 75%, (Bareeq,2011).
Secara taksonomi sengon dapat  klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom    : Plantae 
Divisi         : Spermatophyta
Klas           : Dicotyledonae
Ordo         : Fabales
Famili        : Fabacea
Genus        : Paraserianthes
Jenis          : Paraserianthes falcatari (L), ( Bareeq 2011)
         Sengon berhabitus pohon dengan tajuk tanaman berbentuk mennyerupai payung, tidak terlalu lebat. Daun majemuk menyirip ganda, terdiri dari 8 - 15 pasang anak daun primer dan  15 - 25 helai daun tiap anak daun primer. warna daun sengon hijau pupus, akar tunggang yang cukup kuat menembus kedalam tanah. Akar rambutnya juga berfungsi untuk menyimpan zat nitrogen, oleh karena itu tanah di sekitar sengon menjadi subur. Bunga majmuk berbentuk malai berukuran sekitar 0,5 – 1 cm, berwarna putih kekuning-kuningan dan sedikit berbulu. Setiap kuntum bunga mekar terdiri dari bunga jantan dan bunga betina, penyerbukan dibantu oleh angin atau serangga. Buah polong, pipih, tipis, dan panjangnya sekitar 6 – 12 cm. Setiap polong berisi 15 – 30 biji. Bentuk biji mirip perisai kecil dan jika sudah tua biji akan berwarna coklat kehitaman, agak keras, dan berlilin, (Hartanto 2011).
2.2 Habitat Sengon
Tanaman Sengon dapat tumbuh baik pada tanah regosol, aluvial, dan latosol yang bertekstur lempung berpasir atau lempung berdebu dengan kemasaman tanah sekitar pH 6-7. Ketinggian tempat yang optimal untuk tanaman sengon antara 0 - 800 m dpl. Walapun demikian tanaman sengon ini masih dapat tumbuh sampai ketinggian 1500 m di atas permukaan laut. Sengon termasuk jenis tanaman tropis, sehingga untuk tumbuhnya memerlukan suhu sekitar 18 ° - 27 °C. Tanaman sengon membutuhkan batas curah hujan minimum yang sesuai, yaitu 15 hari hujan dalam 4 bulan terkering, namun juga tidak terlalu basah, dan memiliki curah hujan tahunan yang berkisar antara 2000 - 4000 mm. Tanaman sengon membutuhkan kelembaban sekitar 50%-75%, (Hartanto 2011).
2.3 Media Tanam
A. Tanah lapisan atas  (Top soil)
        Lapisan tanah bagian atas dengan kedalaman sekitar 20 cm pada umumnya mengandung bahan organik yang lebih tinggi di bandingkan lapisan tanah di bawahnya. Akumulasi bahan organik menyebabkan lapisan tanh atas berwarna gelap dan merupakan lapisan tanah yang subur sehingga merupakan bagian tanah yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman. Lapisan tanah di bawahnya, yang disebut lapisan tanah- bawah (sub soil) berwarna lebih terang dan bersifat kurang subur. Tanah merupakan media tumbuh yang di dalamnya terkandung dua unsur yaitu unsur mikro dan makro, unsur mikro terdiri dari besi (Fe), mangan (Mn), seng (Zn), molybdenum (Mo), boron (B), dan khlor (CI). Unsur makro terdiri dari nitrogen (N) fosfor (P), kalium (K),  kalsium (Ca), magnesium (Mg), belerang (S), (Ardi 2009). Untuk pertumbuhannya tanaman memerlukan unsur hara, air, udara dan cahaya. Unsur hara dan air diperlukan untuk bahan pembentuk tubuh tanaman, CO2 dalam udara dan air dengan bantuan cahaya menghasilkan karbohidrat yang merupakan sumber energi untuk pertumbuhan tanaman. Dalam hubungannya dengan kebutuhan hidup tanaman, tanah berfungsi sebagai tunjangan mekanis, tempat tanaman tegak dan tumbuh, penyedia unsur hara, air dan lingkungan tempat akar atau batang dalam tanah melakukan aktivitas fisiologinya, (Hadi 1995).
B. Pasir
        Pasir dianggap memadai dan sesuai jika digunakan sebagai media untuk penyemaian benih karena media tanam pasir  dapat meningkatkan sistem aerasi serta drainase media tanam. Pasir yang dapat dijadikan media tanam adalah sebagai berikut : tidak mengandung bahan beracun, pH 6.0 - 7.5 dan berukuran 0.05 - 0.8 mm. Pasir memiliki kapasitas kelembaban yang sangat rendah dan kandungan hara rendah (Aurum, 2005). Pasir bangunan merupakan jenis pasir yang sering digunakan sebagai media tanam. Pasir memiliki pori-pori berukuran besar (pori-pori makro) maka pasir menjadi mudah terisi air dan cepat kering oleh proses penguapan. Kohesi dan konsistensi ( ketahanan terhadap proses pemisahan ) pasir sangat kecil sehingga mudah terkikis oleh air atau angin. Dengan demikian, media pasir lebih membutuhkan pengairan dan pemupukan yang lebih intensif. Hal tersebut yang menyebabkan pasir jarang digunakan sebagai media tanam secara tunggal.
C.Coco peat (serbuk sabut kelapa)
Sabut kelapa merupakan bagian yang cukup besar dari buah kelapa, yaitu 35 % dari berat keseluruhan buah. Sabut kelapa terdiri dari serat dan gabus yang menghubungkan satu serat dengan serat lainnya. Serat adalah bagian yang berharga dari sabut. Setiap butir kelapa mengandung serat 525 gram (75 % dari sabut), dan serbuk 175 gram (25 % dari sabut). Serbuk sabut kelapa (Coco peat) dapat menahan kandungan air dan unsur kimia pupuk serta dapat menetralkan pH tanah. Karena sifat tersebut, sehingga coco peat dapat digunakan sebagai media yang baik untuk pertumbuhan tanaman hortikultura dan media tanaman rumah kaca. Media tanam coco peat sanggup menahan air hingga 73%. Dari 41 ml air yang dialirkan melewati lapisan cocopeat, yang terbuang hanya 11 ml. Derajat keasaman media cocopeat 5, 8-6, pengguna cocopeat di Semarang, Jawa Tengah, pada kondisi itu tanaman optimal menyerap unsur hara. Derajat keasaman ideal yang diperlukan tanaman 5,5-6,5, ( Pramono, 2008).
D. Sekam Bakar
Sekam bakar merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari sekam padi (kulit gabah). Warna hitam pada sekam bakar akibat proses pembakaran tersebut menyebabkan daya serap terhadap panas tinggi sehingga menaikkan suhu dan mempercepat perkecambahan. Arang sekam mengandung unsur N, P, K dan Ca masing - masing 0.18; 0.08; 0.30 dan 0.14% serta unsr Mg yang besarnya tidak terukur dan mempunyai pH 6-7 setelah mengalami perendaman selama 2 hari . Komposisi arang sekam terdiri dari  SiO2(52%), C (31%), Fe2O3, K2O, MgO, Cao dan Cu (dalam jumlah kecil) sehingga arang sekam memiliki sifat kimia menyerupai tanah. Porositas yang tinggi dapat memperbaiki aerasi dan drainase media, namun menurunkan kapasitas menahan air pada arang sekam. Kemampuan menyimpan air pada sekam padi sebesar 12.3% yang nilainya jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan pasir yang memiliki kapasitas menyimpan air sebesar 33.7% , (Aurum, 2005).
2.4. Penyemaian Sengon
Hal-hal yang  di perhatiakan sebelum melakukan penyemaian antara lain :
A.  Benih
Pada umumnya tanaman sengon diperbanyak dengan bijinya. Biji sengon yang dijadikan benih harus terjamin mutunya. Benih yang baik  berasal dari induk tanaman sengon yang memiliki sifat-sifat genetik yang baik, bentuk fisiknya tegak lurus dan tegar, tidak menjadi inang dari hama ataupun penyakit. Ciri-ciri penampakan benih sengon yang baik sebagai berikut :
a.    Kulit bersih berwarna coklat tua
b.    Ukuran benih maksimum 4 x 6 mm
c.    Tenggelam dalam air ketika benih direndam
d.   Bentuk benih masih utuh, (Andrianto  2010).

Selain penampakan visual tersebut, juga perlu diperhatikan daya tumbuh dan daya hidupnya, dengan memeriksa kondisi lembaga dan cadangan makanannya dengan mengupas benih tersebut. Jika lembaganya masih utuh dan cukup besar, maka daya tumbuhnya tinggi.
B.  Lokasi Persemaian
Keberhasilan persemaian benih sengon ditentukan oleh ketepatan dalam pemilihan tempat. Oleh karena itu, perlu diperhatikan beberapa persyaratan memilih tempat persemaian sebagai berikut :
a.   Lokasi persemaian dipilih tempat yang datar atau dengan derajat kemiringan maksimum 5%.
b.   Diupayakan memilih lokasi yang memiliki sumber air yang mudah diperoleh sepanjang musim
c.   Berdekatan dengan jalan angkutan, guna menghindari kerusakan bibit pada wakt pengangkutan, (Hartanto, 2011).

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Lab. Silvikultur Program Studi Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi, Sulawesi Utara. Penelitian ini dilaksanakan pada Maret 2012 – Juni 2012.
3.2 Alat dan Bahan
        Alat dan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
a.    Alat tulis menulis
b.    Mistar
c.     Kaliper
d.    Kamera
e.    Poly bag
f.      Tally sheet
g.    Ember Plastik
h.    Sekop
i.      Drum penyiraman
j.      Timbangan
k.     Ayakan ukuran= 2 mm x 2mm
l.      Media Tanam : Pasir, tanah,sekam bakar dan coco peat
m.  Benih sengon
3.3 Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode eksperimen, yaitu data yang diperoleh merupakan efek dari suatu perlakuan  yang disengaja. Rancangan yang di gunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap. Perlakuan yang akan diuji yaitu perbedaan 4 media tumbuh yang berbeda. Setiap media tumbuh terdiri dari 5 ulangan, masing-masing ulangan 1 individu tanaman, sehingga total tanaman yang diteliti adalah 20 individu tanaman. Tanaman di naungi dengan paranet (25 %). Pengukuran terhadap variabel tinggi, diameter dan jumlah daun di lakukan setiap 15 hari sekali dalam jangka waktu 2 bulan.
Adapun perlakuan percobaan tersebut sebagai berikut:
M  : media tanam, yaitu :
M0 : Tanah
M1 : Tanah  dengan Pasir = 1: 1 berdasrkan berat
M2 : Tanah dengan sekam bakar = 1:1 berdasarkan berat
M3 : Tanah dengan coco peat = 1:1 berdasarkan berat
3.4 Prosedur Kerja :
a.  Persiapan Media Tumbuh:
Tanah (top soil), pasir, sekam dan cocopeat sebelum di campur, terlebih dahulu dilakukan pengayakan dengan ukuran ayakan 2 mm x 2 mm agar kotoran dan batu-batu terpisah, kemudian bagian yang halus diambil. Untuk Media coco peat pengayakan di lakukan agar serat-serat sabut kelapa terpisah dengan serbuk sabut kelapa (coco peat). Setelah dilakukan pengayakan masing-masing media di letakkan pada tempat yang berbeda kemudian dilakukan penimbangan terhadap masing-masing media sesuai ukuran rancangan percobaan, setelah itu setiap media di campur merata sesuai campuran media tumbuh yang akan di uji (M0, M1, M2, M3), kemudian media tumbuh di masukkan ke  poly bag (12 cm x 16 cm), setiap poly bag diberi no yang berbeda-beda sesuai dengan campuran media tumbuh dan no ulangannya setelah itu poly bag  di letakkan ke meja penelitian dengan penempatan berjarak  ( 25 cm x 25 cm)
b.  Perlakuan benih
Benih direndam dalam air panas mendidih ( 800 C) selama 30 menit setelah itu benih direndam kembali dalam air dingin selama 24 jam kemudian ditiriskan, lalu benih sengon di bungkus dengan menggunakan kertas laminating (kertas pembungkus nasi) selama 3 hari sampai ukuran kecambahnya 1cm.
c.   Penyapihan bibit
Benih sengon yang sudah berkecambah ditanam ke polybag yang sudah terisi perlakuan  media, setiap  polybag diberi satu kecambah sesuai perlakuan.
d.   Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan terhadap bibit  adalah sebagai berikut:
1.  Penyiraman dilakukan pada pagi dan sore hari
2. Pengendalian hama dan penyakit, beberapa hama yang biasa menyerang bibit seperti semut, ulat di lakukan penyemprotan dengan larutan  fastac
3. Penyiangan di lakukan dengan mencabut gulma yang tumbuh di sekitar tanaman  dengan hati- hati agar jangan sampai akar bibit terganggu.
e.   Pengamatan
Pengamatan dilakukan terhadap variable tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah daun. Pengamatan dilakukan setiap lima belas hari. Pengamatan pertama dilakukan terhadap:
1.  Tinggi tanaman
Tinggi tanaman diukur dengan menggunakan mistar dalam satuan sentimeter. Tinggi Tanaman diukur 1 cm dari permukaan tanah sampai ke ujung titik pertumbuhan batang. Titik 1 cm dari permukaan tanah di tandai dengan sapu lidi yang di tancap disamping bibit tanaman. Sapu lidi ditandi dengan tipek sesuai dengan titik pengangamatan
2.  Diameter batang tanaman
Diameter batang ini diukur dengan menggunakan caliper dengan satuan mm. Pengukuran diameter diukur pada titik 1 cm dari permukaan tanah. Titik 1 cm di beriri tanda dengan sapu lidi yang di tancap disamping bibit. Sapu lidi ditandai dengan tipek sesuai dengan titik pengamatan.
3.  Jumlah daun
Jumlah daun yang dihitung adalah pertambahan jumlah daun majmuk yang muncul pada setiap pengamatan. Jumlah daun dihitung apabila tangkai daun sudah terlihat jelas, meskipun anak daunnya belum membuka secara sempurna.

3.5       Analisis Data
Data hasil pengamatan ini dianalisa dengan menggunakan Analisis Sidik Ragam (Analisa Of Variance) dan apabila ada perlakuan yang beda nyata di lanjutkan dengan uji Beda Nyata Terkecil  dengan taraf 5% (BNT 5%).
DAFTAR PUSTAKA
Andrianto,J. 2010. Pola Budidaya Sengon. Arta Pustaka, Yogyakarta.

Bareeq, I. 2011. Budidaya Sengon Laut.Cable Book,Klaten.

Hadi, W.1995. Hubungan Tanah, Air dan Tanaman. Ikip Semarang Press, Jawa barat

Hartanto, H. 2011.Cara Pembudidayaan Sengon. Brilliant Book, Yogyakarta
Pramono.J. 2008 Organic Indonesian Vanilla .Tentang Sabut Kelapa.http//www.esmartschool.com.org. Diakses Selasa, 16 September 2008
Eto, M. 2010. Macam- macam Media tanam.http//www.wordpress.com. Di akses 20 Januari 2010.
Wibawa, F. 2002. Pengaruh Media Tumbuh Terhadap Pertumbuhan Duku. Jurusan budidaya pertanian. Fakultas pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Aurum. M. 2005. Pengaruh Jenis Media Tanam Dan Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan
Setek Sambang Colok. Skripsi. Program Studi Agronomi, Fakultas Pertanian, IPB. Bogor. 50 hal.
Lakitan. B. 2004 Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta
Rao. S. 1975 Mikroorganisme Tanah dan Pertumbuhan Tanaman, Institut Riset Pertanian india
Ardi. R. 2009 Unsur Hara Mikro dan Makro Tanah, http/www. Wordpress.com. di akses 3 Maret 2009


EmoticonEmoticon