Contoh Proposal Penelitian Pengaruh Pemupukan NPK Terhadap Pertumbuhan Bibit Jabon merah


Oleh :

Faisal S. Luhulima 

I.        PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pasokan kayu dari hutan alam yang kian menurun dan semakin banyaknya lahan marginal, mengharuskan adanya pembangunan hutan tanaman industri (HTI) maupun hutan rakyat untuk tetap dapat memenuhi permintaan komoditas kayu yang semakin meningkat. Pembangunan dan pengembangan hutan rakyat merupakan salah satu sasaran dan progaram revitalisasi kehutanan untuk memenuhi kebutuhan kayu bagi konsumsi domestik dan global. Menurut data departemen kehutanan tahun 2003, kapasitas industri dan konsumen diperkirakan sebesar 60 juta meter kubik per tahun, sementara kemampuan produksi hutan (suplai) hanya sekitar 22 juta meter kubik per tahun. Pengembangan hutan tanaman dilakukan untuk mengatasi degradasi lahan (Khaerudin 1994).

Berdasarkan UU Kehutanan No. 41 tahun 1999, pengembangan hutan rakyat diarahkan kepada usaha-usaha rehabilitasi dan konservasi lahan di luar kawasan hutan negara, penganekaragaman hasil pertanian yang diperlukan oleh masyarakat, peningkatan pendapatan masyarakat, penyediaan bahan kayu sebagai bahan baku bangunan, bahan baku industri, penyediaan kayu bakar, usaha perbaikan tata air dan lingkungan, serta sebagai kawasan penyangga bagi kawasan hutan negara. Berbagai manfaat dapat diperoleh dari pengembangan hutan rakyat. Oleh karena itu pengelolaan hutan rakyat harus mendapatkan perhatian yang lebih besar  agar hasil produksi menjadi optimal.
Jabon merah merupakan salah satu jenis tumbuhan asli Indonesia yang berpotensi untuk dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman maupun untuk tujuan lainnya, seperti reklamasi lahan bekas tambang, penghijauan dan pohon peneduh (Mansur dan Tuheteru 2010). Hal ini dikarenakan jabon dapat tumbuh di berbagai tipe tanah, tidak memiliki hama dan pernyakit yang serius (Pratiwi 2003).
Pupuk merupakan salah satu input sangat esensial dalam proses produksi tanaman. Tanpa pupuk, penggunaan input seperti bibit unggul, air dan tenaga kerja, hanya akan memberikan manfaat minimal sehingga produktifitas tanaman dan pendapatan petani akan rendah.
Oleh karena itu, ketersediaan pupuk secara enam tepat, yaitu tepat jenis, tepat jumlah, tepat mutu, tepat lokasi, tepat waktu dan tepat harga, merupakan hal yang mutlak harus dipenuhi.
Pupuk majemuk merupakan pupuk campuran yang umumnya mengandung lebih dari satu macam unsur hara tanaman (makro maupun mikro) terutama N, P, dan K (Rosmarkam dan Yuwono, 2002). Kelebihan pupuk NPK yaitu dengan satu kali pemberian pupuk dapat mencakup beberapa unsur sehingga lebih efisien dalam penggunaan bila dibandingkan dengan pupuk tunggal (Hardjowigeno, 2003). Pupuk majemuk yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kandungan N sebesar 15 %, P2O5 sebesar 15 % serta K2O 15 %.
Fungsi Natrium (N) merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman, yang pada umumnya sangat diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagian-bagian vegetatif tanaman , seperti daun, batang dan akar, tetapi kalau terlalu banyak dapat menghambat pembungaan dan pembuahan pada tanamannya. Fungsi Nitrogen diantaranya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman, dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang lebih hijau, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan. Kekurangan unsur N menyebabkan ukuran sel-sel kecil dan dinding sel menebal. Akibatnya, tanaman menjadi kerdil dan daun mengalami khlorosis (pada daun muda berwarna kekuningan).
Fungsi Fosfor (P) adalah dapat mempercepat pertumbuhan akar semai, dapat mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa pada umumnya, dapat mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji atau gabah, dapat meningkatkan produksi biji-bijian. Kekurangan Fosfor menyebabkan hambatan pertumbuhan pada sistem perakaran, daun, batang, dan biji (Sutejo 2002).
Fungsi Kalium (K) berpengaruh terhadap kekuatan tanaman. Unsur ini merangsang pertumbuhan akar dan translokasi hasil-hasil fotosintesis. Kekurangan unsur K akan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis dan meningkatnya proses respirasi. Gejala kekurangan unsur K adalah ujung dan tepi daun mengering, warna bunga pucat dan jumlah tangkai bunga menurun. (Purwanto, 2006).
1.2.   Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemupukan NPK terhadap pertumbuhan bibit jabon merah.
1.3   Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai kesesuaian penggunaan pupuk NPK dengan berbagai dosis yang tepat untuk pertumbuhan bibit jabon merah.

                                                                                       II.        TINJAUAN PUSTAKA
2.1   Jabon Merah
Jabon merah termasuk ke dalam famili Rubiaceae. Jabon merah merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang pertumbuhannya sangat cepat dan mampu tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 50-1000 meter dpl (Raharja 2011). Tanaman ini lebih menyukai daerah yang banyak mengandung air (lembab), seperti di tepi sungai atau rawa.
Klasifikasi Ilmiah
Kingdom    :   Plantae
Divisi        :   Magnoliophyta
Kelas        :   Magnoliopsida
Ordo         :   Rubiales
Famili       :   Rubiaceae
Genus       :   Anthocephalus
Spesies     :   (Anthocephalus macropyllus)
Nama lokal
Jabon memiliki berbagai nama daerah, antara lain: jabun, hanja, kelampeyan, kelampaian (Jawa); galupai bengkal, harapean, johan, kiuna, serebunaik, lampaian, selapaian, pelapaian (Sumatera); ilan, kelampayan, taloh, tawa telan, tuak, tuneh, tuwak (Kalimantan); bance, pute, loeraa, pontua, sugi manai, pekaung, toa (Sulawesi); gumpayan, kelapan, mugawe, sencari (NTB); aparabire, masarambi (Papua) (Martawijaya dkk, 1989), karumama (Tonsea, Tondano); le’o (Tontemboan); ahera/dahera (Tonsawang); boyokia (Bolaang Mongondou).
Penyebaran
Penyebaran jabon merah di indonesia terjadi secara alami di hutan hujan dataran rendah tropis yang selalu hijau (tropical evergreen lowland rain forest). Jabon merah hanya dapat ditemukan di Indonesia bagian timur yakni pulau Maluku, sebagian Sulawesi, dan Papua yang dikenal dengan sebutan “samama” atau “karumama” (Mulyana dkk, 2011).
2.2   Morfologi Jabon Merah

a.   Batang
Jabon merah merupakan salah satu jenis pohon gugur daun (deciduous). Batang berbentuk bulat dan tegak lurus yang hampir tak bercabang. Tinggi batang dapat mencapai 40 meter dengan tinggi bebas cabang 30 meter, diameter mencapai 40-50 cm. Batang jabon merah berwarna merah kehitaman. Warna kayunya kemerah-merahan menyerupai kayu meranti dari pulau Kalimantan. Kekerasan batang kayu jabon merah hampir setara dengan kayu mahoni yaitu dengan kelas keras II dan kelas awet III dengan warna serat kayu semu merah. Pertumbuhan jabon merah sedikit lebih lambat dibandingkan dengan jabon putih. Pada umur 10 tahun, volume kayu rata-rata dalam satu pohon 0,8-1 m3 sedangkan jabon putih pada umur 6 tahun, volume rata-rata dalam satu pohon adalah 0,7-1,2 m3 (Mulyana dkk, 2011).

b.   Daun
Daun jabon merah merupakan daun tunggal, dengan bentuk daun lebih lonjong dan lancip, tidak seperti daun Jabon Putih yang bentuknya lebih oval dengan arah duduk daun saling berhadapan. Daun berukuran 15-50 cm x 8-25 cm (panjang x lebar) dengan panjang tangkai 2,5-6 cm (Mulyana dkk, 2011). Ciri daunnya mirip daun jati dan berbulu. Warna permukaan bawa daun cenderung semu merah, tulang daun terlihat jelas berwarna merah.

c.   Bunga
Umumnya, jabon merah mulai berbunga pada umur 4 tahun, tetapi jika mikroklimatnya sesuai dan pemeliharaannya dilakukan secara intensif, pohon jabon sudah mulai berbunga pada umur 2,5 tahun. Bunga kepala berukuran besar (4,5-6 cm), lidah daun kelopak letaknya tegak, berdaging, dan pada ujungnya berbulu. Daun mahkota pada bunga jabon seluruhnya tidak berbulu. Aroma bunganya tercium harum dan lembut (Mulyana dkk, 2011).

d.   Buah
Jabon merah berbuah setahun sekali pada saat musim berbunga, untuk daerah Sulawesi Utara Jabon merah mulai berbunga pada bulan juli hingga desember dan akan matang pada bulan september-desember. Jumlah buah majemuk 33 buah per kilogram. Buah berbentuk bulat dengan ukuran diameter 3-4 cm dan memiliki ruang-ruang biji yang sangat banyak. Buah jabon merah seperti buah majemuk layaknya buah nangka yang berukuran kecil dengan bagian tengah padat dikelilingi oleh ruang-ruang biji. Setiap ruang biji tersebut berisi kumpulan biji. Buah jabon mengandung biji yang berukuran sangat kecil (18-26 juta butir/kg) dengan berat jenis (density) 0,44-0,51. Biji yang telah dikeringkan dapat bertahan selama satu tahun (Mulyana dkk, 2011).
Jabon merah dapat dipanen pada umur 5-10 tahun. Harga jual kayu jabon merah sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan jabon putih. Selisih harganya sekitar saratus hingga dua ratus ribu per kubik. Kayu jabon merah cocok sebagai bahan baku bangunan atau veneer kayu lapis.
Jabon merah atau samama mampu berkembang biak dominan, yaitu dapat hidup diantara jenis tanaman lainnya dan dominan dalam menyerap unsur hara dalam tanah (Mulyana dkk, 2011).
2.3   Syarat tumbuh
Dalam hal tempat tumbuh jabon merah memiliki toleransi yang cukup baik, yaitu pada ketinggian dengan kisaran 50-1000 m dpl, tetapi ketinggian optimal yang menunjang produktivitasnya adalah kurang dari 500 m dpl.

a.   Tanah
Fungsi utama tanah untuk pertanian yaitu sebagai sumber unsur hara, sebagai media tempat akar, terpat air tanah tersimpan, serta tempat unsur hara dan air. Secara spesifik, jabon merah tidak memiliki syarat tumbuh yang khusus. Jabon merah mudah beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang kurang baik dibandingkan dengan tanaman hutan penghasil kayu lainnya. Optimalnya jabon merah ditanam di tanah yang subur, banyak mengandung unsur hara mineral, serta memiliki terkstur tanah yang baik. Jabon merah dapat tumbuh di tanah aluvial lembap, seperti di pinggir sungai serta di daerah peralihan antara tanah rawa dan tanah kering yang kadang-kadang digenangi air.
Jenis tanah yang cocok bagi jabon merah di antaranya tanah ultisol, oxisol, alfisol, vertisol, inceptisol, andisol, spodosol, dan entisol. Tanah ultisol (pedsolik merah kuning) memiliki lapisan tanah liat di bagian bawah dan bersifat asam. Sementara itu tanah oxisol merupakan jenis tanah tua sehingga kandungan mineralnya sedikit dan mudah lapuk.
Tahah andisol berwarna kehitaman, umumnya terdapat di lereng gunung berapi dengan tingkat kesuburan tanah yang cukup baik. Tanah spodosol merupakan jenis tanah yang memiliki tingkat kesuburan tanah rendah dibandingkan dengan tanah andisol dan bersifat lembab atau basah. 

b.   Iklim
Jabon merah merupakan salah satu tanaman hutan yang tumbuh baik di daerah beriklim tropis dengan rata-rata curah hujan lebih dari 1500 mm per tahun. Jabon merah termasuk tanaman pionir yang dapat membentuk koloni di hutan alam. Iklim dan cuaca yang dipengaruhi oleh pancaran radiasi, komposisi atmosfir, dinamika lautan, air, bentuk atau kontur permukaan bumu, serta interaksi antar komponen tersebut melalui proses fisika, kimia, dan biologi.
2.4   Keunggulan jabon merah
Jabon merah merupakan salah satu jenis tumbuhan asli indonesia yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis. Saat ini, jabon merah menjadi andalan industri perkayuan karena jabon merah memiliki beberapa keunggulan dibanding dengan tanaman kayu lainnya. Beberapa keunggulan jabon merah sebagai berikut.
1.    Kemampuan menahan dan menyimpan air sangat tinggi sehingga cocok untuk menahan tanah dan meminimalkan bahaya erosi.
2.    Jabon merah secara alami memiliki batang kayu yang lurus dan selindris. Cabangnya berukuran kecil dan mendatar. Jabon merah memiliki kemampuan pemangkasan alami yang tinggi hingga batangnya bisa tumbuh dengan bebas dan tinggi dibandingkan dengan tanaman lain seperti sengon.
3.    Dapat dibuat veneer dengan standar  Timur  Tengah, Korea Selatan, Eropa, dan Amerika Serikat.
4.    Dapat dibuat veneer  untuk  bagian face-back pada produk plywood menggantikan meranti atau jenis kayu lainnya.
5.    Log relatif mudah dikupas dengan berbagai peralatan, seperti rotary sederhana (Cina), alat konvenssional (Uroko Jepang), dan digital (Finlandia) sehingga dihasilkan veneer kualitas prima. Dapat digunakan sebagai bahan baku perkakas rumah tangga, bahan bangunan, dan pertukangan.
6.    Pengolahan veneer plywood dari kayu jabon merah dapat berjalan dengan baik dibandingkan dengan kwalitas kayu sengon dan kayu benuang.
7.    Tekstur kayu jabon merah relatif halus dan arah serat kayunya lurus. Kayunya kuat dan awet. Warna kayu jabon yang merah tergolong unik.
8.    Kayu jabon merah sangat bagus sebagai bahan konstruksi, seperti bahan untuk membuat kusen rumah atau perlengkapan lainnya. Selain itu, kayu jabon merah dapat diukir untuk memperindah penampilannya.
9.    Jabon merah relatif lebih tahan serangan hama dan penyakit dibandingkan dengan tanaman sengon.
2.5   Pupuk Majemuk
Pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu unsur hara, misalnya pupuk NP, NK, PK, NPK ataupun NPKMg. Disebut pupuk majemuk karena pupuk ini mengandung unsur hara makro dan mikro dengan kata lain pupuk majemuk lengkap bisa disebut sebagai pupuk NPK atau Compound Fertilizer. Pupuk majemuk NPK adalah pupuk anorganik atau pupuk buatan yang dihasilkan dari pabrik-pabrik pembuat pupuk, yang mana pupuk tersebut mengandung unsur-unsur hara atau zat-zat makanan yang diperlukan tanaman (Sutejo, 2002). Kandungan unsur hara dalam pupuk majemuk dinyatakan dalam tiga angka yang berturut-turut menunjukkan kadar N, P2O5 dan K2O (Hardjowigeno, 2003).
Pupuk majemuk memiliki bentuk yang berbeda-beda, dapat berbentuk bubuk, butiran (granul) maupun tablet. Bentuk dari pupuk majemuk ini biasanya dibuat sesuai dengan kebutuhan tanaman; misalnya pupuk dengan bentuk bubuk cepat larut dalam air, pupuk ini sesuai untuk tanaman yang berumur pendek. Pupuk dengan bentuk tablet pada umumnya mempunyai daya larut unsur hara dalam air yang lambat, pupuk tablet biasanya digunakan untuk pemupukan tanaman keras (tanaman tahunan).
          Pupuk majemuk lengkap mengandung semua unsur hara makro esensial bagi tanaman yang telah digabung menjadi satu kesatuan. Pupuk majemuk umumnya dibuat dalam bentuk butiran dengan ukuran yang seragam sehingga memudahkan penaburan yang merata. Pupuk tersebut dibuat dengan berbagai komposisi hara dengan harapan dapat digunakan sesuai kebutuhan kondisi pertanaman. Keuntungan dari pemakaian pupuk majemuk yaitu dengan satu kali pemberiaan pupuk telah mencakup beberapa unsur sehingga tidak ada persoalan pencampuran pupuk.
        Pupuk majemuk yang digunakan dalam penelitian ini berwarna biru muda dengan bentuk berupa butiran. Pupuk Majemuk NPK Compaction (15-15-15+TE) merupakan pupuk majemuk lengkap yang mengandung unsur hara esensial bagi tanaman. Pupuk NPK dengan grade 15-15-15 memiliki arti yaitu, kandungan N sebesar 15 %, P2O5 sebesar 15 % serta K2O 15 %.
2.6   Media Tanam
a.   Tanah
Tanah merupakan tempat akar tumbuh terpancang dan mengambil zat-zat untuk keperluan hidupnya. Tanah terdiri dari pertikel-partikel halus seperti pasir, lumpur dan tanah liat yang berasal dari gumpalan-gumpalan batu yang melapuk akibat hujan, angin, sinar matahari, dan aktifitas jasad renik atau mikroorganisme. Di dalam tanah terdapat komponen-komponen sebagai berikut :
1.  Mineral. Misalnya kalsium, ferum, magnesium
2.   Zat organik, misalnya karbohidrat, protein dari sisa-sisa tumbuhan atau hewan yang mati, yang dapat terurai menjadi bahan-bahan yang diperlukan tumbuhan.
3.  Air dan zat-zat yang larut di dalamnya.
4.  Udara misalnya Oksigen, karbon dioksida
5.     Organisme, misalnya cacing, bakteri, yang berperan di dalam proses pembusukan sehingga menghasilkan unsur-unsur yang diperlukan tumbuhan.
Selain dari tanah tumbuhan dapat pula mengambi lunsur-unsur hara yang diperlukannya dari media lain seperti, pasir, pecahan genting, arang, dan air. Dengan demikian tumbuhan dapat ditanam di dalam media tersebut. Agar tanaman tersebut dapat tumbuh dengan baik maka ke dalam media-media tersebut diberikan pupuk atau unsure hara yang dibutuhkan tumbuhan tersebut.

b.    Pasir
Pasir yang dapat dijadikan media tanam adalah sebagai berikut : tidak mengandung bahan beracun, pH-nya 6.0-7.5 dan berukuran 0.05-0.8 mm (Sutopo, 1993). Pasir memiliki kapasitas kelembaban yang sangat rendah dan kandungan hara rendah (Rubatzky, 1995). Pasir cukup baik digunakan sebagai media tanam karena dapat menciptakan kondisi porous dan aerasi yang baik  (Ashari 1995).

c.   Pupuk Kandang
Secara umum, penggunaan pupuk organik pada lahan ditujukan untuk mengembalikan hara, memperbaiki struktur tanah dan mengumpulkan bahan organik dalam tanah. Sumber pupuk organik adalah sisa tanaman dan pupuk kandang (Lee dan Wani, 1988). Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kandang ternak baik berupa kotoran padatnya bercampur sisa makanannya maupun urinenya sekaligus (Lingga, 1998).
Pengaruh pemberian pupuk kandang antara lain: memudahkan penyerapan air hujan, memperbaiki kemampuan tanah dalam mengikat air, mengurangi erosi, memberikan lingkungan tumbuh yang baik untuk perkecambahan biji dan akar, merupakan sumber unsur hara tanaman (Setiawan, 1999).
Kandungan unsur hara dalam pupuk kandang yang penting bagi tanaman antara lain nitrogen, fosfor dan kalium. Pupuk kandang ayam merupakan salah satu jenis pupuk kandang, selain menambah unsur hara dalam tanah sangat baik pula dalam memperbaiki struktur tanah. Rata-rata kandungan unsur hara di dalam pupuk kandang ayam  adalah 1.00% N; 0.80 % P2O5 dan 0.40%K2O (Tisdale dan Nelson, 1975).
Kadar rata-rata unsur hara yang terdapat dalam pupuk kandang sangatlah bervariasi. Keadaan beragam disebabkan beberapa factor yaitu: jenis hewan dan keadaan individu hewan, makanan yang dimakan hewan, cara penyimpanan pupuk kandang sebelum dipakai.

                                                                         III.        METODOLOGI PENELITIAN

3.1  Tempat  dan Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sam Ratulangi Manado, penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan yaitu Mei–juni 2012.
3.2  Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanah, pasir, pupuk kandang ayam, pupuk NPK, furadan, dithane M-45, sevin, betador. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah gunting, parang, pisau (bergerigih), mistar, caliper, timbangan, papan berukuran 12 x 8 cm (sebagai pengaduk), lidi (yang terbuat dari daun pohon aren), label, polibag ukuran 22 x 25 cm, sprayer, tipex, alat tulis, kamera dan leptop.
3.3   Metode penelitian
Metode yang digunakan adalah metode rancangan acak kelompok (RAK), dengan 5 perlakuan dan 5 ulangan. Setiap perlakuan diulang sebanyak 5 kali dan setiap ulangan terdiri atas 6 tanaman. Dengan demikian terdapat 150 bibit jabon yang ditanam.
Perlakuan yang diberikan adalah :
A = pupuk NPK 0 %  dosis (kontrol)
B = pupuk NPK 50 % dosis (0,25 gram / tanaman)
C = pupuk NPK 100 % dosis (0,50 gram / tanaman)
D = pupuk NPK 150 % dosis (0,75 gram / tanaman)
E = pupuk NPK 200 % dosis (1 gram / tanaman)
3.4   Prosedur kerja

1.   Penyiapan media
Dalam penelitian ini akan menggunakan media tanam yaitu tanah, pasir, dan pupuk kandang ayam dengan perbandingan 7 : 2 : 1 (berdasarkan rekomendasi). Sebelum media dicampur terlebih dahulu disterilkan, dengan cara dijemur 3-5 hari, setelah itu barulah media dicampur. Dalam proses pencampuran media, alat ukur yang digunakan adalah polibag berukuran 22 x 25 atau dengan berat bersih 2 kg.

2.   Penyiapan bibit
Bibit yang akan digunakan terlebih dahulu disortir berdasarkan jumlah daunya yaitu 4 pasang daun. Serta bebas dari serangan hama dan penyakit.

3.   Penyapihan
Bibit yang akan disapih adalah bibit yang telah berumur 4 bulan yang memiliki 4 pasang daun.Penyapihan dilakukan pada pagi hari di bawah naungan (paranet). Penanaman dalam polibag dilakukan dengan cara manual yaitu membuat lubang tanam 7-10 cm dengan tangan, lalu bibit ditanam dalam lubang tersebut hingga bagian akar tertanam.

4.   Proses adaptasi  dan pemeliharaan
Setelah penyapihan, bibit jabon akan diletakkan dalam ruma kaca selama 7 hari dibawah naungan (paranet). Penyiraman dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari dengan menggunakan sprayer agar media tetap lembab. Untuk menjaga media dari serangan semut, maka di berikaan furadane 0,5 g/tanaman. Selain itu juga dilakukan pembersihan gulma dan perbaikan posisi polibag. Setelah masa adaptasi dalam ruma kaca selesai, bibit jabon dipindahkan ke lapangan. Masa adaptasi bibit jabon dilapangan juga selama 7 hari. Selama di lapangan juga dilakukan pembersihan gulma dan perbaikan posisi polibag.

5.   Pengendalian hama dan penyakit
Untuk mengantisipasi bibit jabon dari serangan hama dan penyakit maka, akan dilakukan pemantauan secara berkala. Selain itu juga, akan dilakukan penyemprotan pestisida satu kali dalam seminggu.

6.   Pemupukan
Pemupukan dilakukan setiap dua minggu sekali. Penaburan pupuk dilakukan  setelah pengambilan data awal. Pupuk ditabur dengan jarak ± 3-5 cm dari batang.
3.5   Variabel pengamatan

a.   Tinggi (cm).
Pengukuran tinggi bibit dilakukan setelah proses adaptasi bibit di lapangan yaitu selama 7 hari. Pengukuran dilakukan setiap minggu selama 2 bulan. Tinggi diukur mulai dari pangkal batang atau 1 cm dari permukaan tanah hingga titik tumbuh pucuk bibit.
b.   Diameter (mm).
Pengukuran diameter bibit dilakukan dengan menggunakan kaliper, diukur pada pangkal batang sekitar 3 cm dari permukaan tanah yang sudah ditandai dengan tipex. Pengukuran dilakukan setiap minggu selama dua bulan.

c.   Jumlah daun
Rata-rata bibit jabon yang diamati memiliki 4 pasang daun. Pengamatan akan dilakukan setiap minggu untuk mengetahui pertambahan jumlah daun.
3.6   Analisis data
Data hasil penelitian ini dianalisa dengan menggunakan Analisis Sidik Ragam (Analisa Of Variance ) dan apabila ada yang beda nyata di lanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan (DMRT pada tingkat signifikansi 5%).
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, S. 1995. Hortikultura. Universitas Indonesia. Jakarta. 99 hal.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo, Jakarta.
Jacob, A. and H.V. Uexküll. 1960. Fertilizer Use:Nutrition and Manuring of Tropical Crops. Translated by C.L.Whittles.Hannover. 593 p. Khaerudin. 1994. Pembibitan Tanaman HTI. Jakarta: Penebar Swadaya.
Khaerudin. 1994. Pembibitan Tanaman HTI. Jakarta: Penebar Swadaya.
Lee, K.K. and S.P. Wani.1988. Significance of Biological Nitrogen Fixation and Organic Manures in Soil Fertility Management in Semiarid Tropical India Proceeding of Colloquium, Christianson, C.B. (ed.) held in ICRISAT Center. Patancheru.
India:89-108.
Lingga, P. 1998. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Cet. Ke-15. Penebar Swadaya. Jakarta. 163 hal.
Mansur I, Tuheteru FD. 2010. Kayu Jabon. Jakarta: Penebar Swadaya
Martawijaya A, Kartasudjana I, Mandang YI, Prawira SA dan Kadir K. 1989. Atlas Kayu Jilid II. Bogor: Badan Penelitian Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan.
Mulyana, D., C. Asmarahman, dan I. Fahmi. 2011. Mengenal Kayu Jabon Merah dan Putih (2-36 h). Panduan Lengkap Bisnis dan Bertanam Kayu Jabon. Agromedia Pustaka. Jakarta. 142 hal.
Pratiwi. 2003. Prospek Pohon jabon untuk pengembangan hutan tanaman. Buletin Penelitian Kehutanan 4:62-66.

Purwanto, A. W. 2006. Euphorbia Tampil Prima dan Semarak Berbunga. Kanisius. Yogyakarta.
Raharja, J. 2011. Jabon Merah dan Jabon Putih (5-6 h). Meraup Untung Besar Dari Kayu Jabon. Rona Publising. Yogyakarta. 112 hal.
Rubatzky, V.E. dan M. Yamaguchi. 1995. Sayuran Dunia I. Penerbit ITB.
Rosmarkam, A. dan Yuwono, N. W. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius, Yogyakarta.

Setiawan. A.I. 1999. Memanfaatkan Kotoran Ternak. Penebar Swadaya. Jakarta. 82 hal.
Sutejo, M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta, Jakarta.
Sutopo, L. 1993. Teknologi Benih. CV. Rajawali. Jakarta. 245 hal. Bandung. 344 hal.
Tisdale, S. and W. Nelson. 1975. Soil Fertility and Fertilizers. Mac Millan Publishing Co., New York. 611 p.



EmoticonEmoticon